SINGARAJA, BALI EXPRESS - Usai memasak tidak langsung dilanjutkan dengan menyantap makanan. Bagi umat Hindu di Bali, harus melaksanakan Yadnya Sesa atau ngejot. Ada sejumlah sloka yang mengatur tentang yadnya yang berkaitan dengan Yadnya Sesa.
Mempersembahkan makanan yang dimiliki kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa diyakini akan memberikan ketentraman dan ketenangan hidup. Sebab, dalam Bhagawad Gita disebutkan bahwa siapa pun yang menikmati makanan tanpa terlebih dahulu mempersembahkannya, sesungguhnya dianggap mencuri.
Hal itu dikupas dalam sloka Bhagadwadgita: Istan bhogan hi yo deva dasyante Yadnya bhavitah, tair danan apradayai ‘bhyo yo bhunhte eva sah, (Bhagavad Gita, III, 12).
Jika diartikan Sesungguhnya keinginan untuk mendapat kesenangan telah diberikan kepadamu oleh Dewa-dewa karena Yadnyamu, sedangkan ia yang telah memperoleh kesenangan tanpa memberi Yadnya sesungguhnya adalah pencuri.
Di sini mengandung makna bahwa manusia setelah selesai memasak wajib memberikan persembahan. Tujuannya agar manusia memperoleh kehidupan dan penghidupan, sehingga terlebih dahulu perlu disuguhkan sebagai Yadnya sebelum dinikmatinya.
Apabila manusia dapat memakan sisa Yadnya akan terlepas dari segala dosa, ini berarti bahwa manusia harus ikhlas beryadnya, manusia dapat mendahulukan kebutuhan Yadnya, dapat pula bermakna bahwa manusia selalu mengusahakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi, dapat menolong sesama dan menghargai yang lainnya.
Dalam Bhagawad Gita III, 14 juga disebutkan: Annad bhawanii bhutani parjanyad anrasambhawah, Yadnyad bhawan palyanyo Yadnyah karma samudhhawah.
Artinya: Adanya makhluk hidup karena makanan, adanya makanan karena hujan, adanya hujan karena Yadnya, adanya Yadnya karena karma.
Jika merujuk dari kedua sloka tersebut, maka diinterpretasikan bahwa makanan yang dinikmati manusia bukan semata-mata merupakan hasil usahanya sendiri saja. Tetapi manusia memperolehnya secara bersama-sama antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain.
Nasi diperoleh berkat kerja keras petani untuk mengerjakan lahannya dengan penuh pengharapan, supaya menghasilkan padi. Selanjutnya padi diolah juga untuk menghasilkan beras, dan beras inilah kemudian dimasak untuk dijadikan nasi.
Selain itu, ada kekuatan Panca Maha Bhuta di balik pangan yang dinikmati. Yakni adanya kekuatan tanah atau pertiwi, adanya kekuatan air atau apah, adanya kekuatan panas/api atau teja, adanya kekuatan angin atau bayu, adanya kekuatan zat ether atau akasa.
Adanya nasi adalah wujud dari Tri Murti yakni tiga macam kekuatan Tuhan dalam melindungi umatnya. Beras dapat dimasak atau dimatangkan menjadi nasi berkat adanya tiga kekuatan tadi yakni Dewa Brahma dengan kekuatan panasnya, Dewa Wisnu dengan kekuatan airnya, dan Dewa Siwa dengan kekuatan penyupatannya dan dan ketiga kekuatan tersebut menyatu secara bersama-sama sehingga bermula dari beras hingga menjadi matang dan diperoleh nasi itu.
Proses ini merupakan suatu kerja sama manusia baik secara sekala maupun niskala sehingga dapat menikmati makanan. Oleh karena manusia ini menikmati makanan ini atas dasar kebersamaan dan merupakan pemberian, maka patutlah makanan itu dipersembahkan kembali pada kekuatan alam yang lainnya melalui Yadnya Sesa itu sendiri.