BULELENG, BALI EXPRESS - Dangsil menjadi salah satu sarana yang digunakan oleh Umat Hindu di Bali pada saat upacara besar di pura yang ada di Bali. Bahkan, ada khusus upacara yang menggunakan Dangsil sebagai sarana utama tradisi Hindu Bali, seperti Ngusaba Dangsil.
Jika dilihat, Dangsil berbentuk meru dan bertumpang. Kerangkanya terbuat dari kayu, atau bambu sesuai dengan bahan yang ada lingkungan sekitar. Dangsil dibuat bertumpang dan di bawahnya ada dasarnya, bebaturan dan bagian atasnya.
Akademisi Dr. I Ketut Rupawan mengatakan, kalau dilihat selintas, Dangsil seperti bangunan. Tetapi, ini merupakan banten yang dibuat menyerupai bangunan meru. Dikatakan banten, meski kerangkanya terbuat dari bambu dan kayu, namun unsur pokoknya terbuat dari beras. Dan diisi jajan cacalan. Seperti jajan suci, jajan catur. Bangunan meru ini ditempeli dengan jajan yang terbuat dari beras.
“Ada Dangsil tumpeng satu, tumpeng tiga, tumpeng lima, tujuh, sembilan dan sebelas. Ini biasanya dibuat dalam upacara besar seperti ngusaba. Kalau odalan biasa tidak menggunakan Dangsil sebagai sarana utama,” kata Rupawan.
Banten berbahan jaja cacalan terbuat dari tepung beras ketan dibentuk menjadi jaja-jaja bekayu yang ditempel-tempelkan pada sebuah kerangka berbentuk meru. Pada tumpang atap terbawah terdapat rong/ruang paling besar diisi banten ayaban dan banten suci. Di puncaknya diisi orti bagia sedangkan dasarnya berupa kurmagni.
Bukan tanpa alasan penggunaan dangsil dalam ritual. Sumber sastra menyebutkan pemakaian Dangsil berasal dari sejumlah naskah suci. Seperti Lontar Pelutuk Dewa Yadnya, Widhisastra, dan Dewa Tattwa.
“Lontar-lontar itu dengan rinci menjelaskan jenis-jenis Dangsil menurut tumpangnya, waktu pemakaiannya, banyaknya tumpang Dangsil, peruntukannya, dan kelompok upakara pendampingnya,” ungkapnya.
Makna secara teologis dari penggunaan Dangsil juga dilihat dari Lontar Bhuana Kosa, Tattwa Jnana, Aji Sangkya, Jnana Siddhanta, maupun Bhuana Sangksepa. Mitologi (cerita suci) yang mendasarinya diuraikan sangat rinci dalam kitab Adi Parwa, sehingga dapat dinyatakan Dangsil adalah simbol dalam budaya Bali dijiwai teologi Hindu.
Pada kelompok lontar pertama disebutkan beberapa jenis Dangsil menurut tumpang atapnya, yaitu Dangsil bertumpang 3,5,7,9, dan 11. Guna mengetahui hakikat Dangsil, maka dianalisis strukturnya Dangsil bertumpang 7.
Struktur Dangsil yang otonom dapat dibagi tiga bagian (Tri Angga), yaitu bagian atas, bagian tengah, dan bagian bawah. Bagian atas terdiri dari orti bagia di puncak atap teratas sebagai murda dan enam atap di bawahnya tersusun bertumpuk.
Pada atap terbawah dilengkapi sebuah bilik dilengkapi pintu/rong, sehingga bentuknya mirip meru. Setiap atap ditutup dengan jaja bekayu. Di sudut-sudut atap dihiasi leenteer-leenter (rumbai).
Bagian tengah terdiri dari tujuh bagian beratap berupa pepalihan secara bertingkat, berlapis-lapis bertumpuk menyangga bagian atas Dangsil. “Bagian bawah Dangsil adalah dasarnya berupa bedawangnala (kurmaraja/kurmagni dililit naga) dan di atas punggung kurmagni terdapat pepalihan tiga susun ditempeli pésan-pésan yang disusun berdiri, " sebutnya.
Editor : I Putu Suyatra