BALI EXPRESS - Umat Hindu di Nusa Penida memiliki kearifan lokal dengan kandungan nilai konservasi lingkungan yang dikenal dengan Nyepi Segara. Selama 24 jam, tepat sehari setelah Purnama Kapat, masyarakat di Nusa Penida, Klungkung, Bali, menjadikan laut hening dan sepi tanpa aktifitas dari nelayan. Ini adalah tradisi juga sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Baruna.
Nyepi Segara merupakan sebuah ritual perwujudan penghormatan kepada Dewa Baruna sebagai penguasa lautan. Penghormatan dilakukan karena laut menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di Nusa Penida.
Nyepi Segara dilaksanakan saat Purnama Sasih Kapat yang jatuh di Bulan September-Oktober. Masyarakat Nusa Penida terdiri atas Nusa Lembongan, Nusa Ceningan dan Nusa Penida telah menjalankan kegiatan ini sejak masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong.
Saat pelaksanaan Nyepi Segara seluruh aktivitas laut seperti transportasi, aktivitas nelayan dan pariwisata di kawasan pulau Nusa Penida dihentikan selama satu hari. Pelaksanaan Nyepi Segara dimulai pukul 06.00 wita sampai hari berikutnya pukul 06.00 wita.
Baca Juga: Nyepi Segara, Jernihkan Kembali Lautan
Pelaksanaan Nyepi Segara tidak hanya melibatkan masyarakat lokal namun juga pemerintah daerah, pemuka agama, pelaku wisata termasuk para wisatawan yang pada saat itu sedang berwisata di Nusa Penida.
Ketua PHDI Klungkung, I Putu Suarta mengatakan, selain sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Baruna, Nyepi Segara merupakan wujud dalam menjaga hubungan antara manusia dan alam sekitarnya.
Masyarakat memiliki kepercayaan bahwa saat Nyepi Segara dilaksanakan merupakan waktu dimana Dewa Baruna menjalankan tapa yoga.Aatas dasar hal tersebut maka pantang bagi manusia untuk mengganggu tapa yoga beliau, dan jika hal tersebut dilanggar maka akan terjadi bencana.
Untuk itulah masyarakat di kepulauan Nusa Penida tidak boleh menjalankan aktivitas atau kegiatan di laut selama satu hari satu malam (24 jam). Semua pelabuhan ataupun dermaga dari dan/atau menuju Nusa Penida ditutup.
Seperti pelabuhan Pesinggahan, Tribuana, Banjar Bias di Kecamatan Dawan, Pelabuhan Buyuk, Toya Pakeh, Kutampi Kaler, Banjar Nyuh II, Sampalan, Banjar Nyuh I, Tanjung Hyang serta Jungut Batu dan Mushroom Bay di Nusa Lembongan
Pelaksanaan Nyepi Segara sesuai dengan yang tertulis pada lontar Batur Kalawasan yang menyatakan: Ling ta kita nanak akabehan, riwekasan, wenang ta kita pratyaksa ukir lan pasir, ukir pinaka wetuning kara, pasir angelebur sehananing mala, ri madya kita awangun kahuripan, mahyun ta kita maring relepaking telapak tangan, aywa kamaduk aprikosa dening prajapatih, yan kita tan eling, moga-moga kita tan amangguh rahayu, doh panganinum, cendek tuwuh, kageringan, lan masuduk maring padutan.
Terjemahannya: Ingatlah pesanku, wahai anak-anakku sekalian, di kemudian hari jagalah kelestarian gunung dan laut, gunung adalah sumber kesucian, laut tempat menghilangkan kekotoran, di tengah dataran melaksanakan kegiatan kehidupan, hiduplah dari hasil tanganmu sendiri, jangan sekali-kali hidup senang dari merusak alam, kalau tidak mematuhi, kamu terkena kutuk. Tidak akan menemukan keselamatan, kekurangan bahan makanan dan minuman, terkena berbagai macam penyakit, dan bertengkar sesama saudara.
“Hal ini menyiratkan bahwa laut dan gunung merupakan dua hal yang menjadi pokok penyucian segala kekotoran duniawi. Pelaksanaan Nyepi Segara tidak hanya melibatkan masyarakat lokal dan pemuka agama saja namun juga oleh pemerintah dan pelaku wisata termasuk wisatawan yang berkunjung ke Nusa Penida,” katanya.
Pada saat pelaksanaan Nyepi Segara pemerintah dan pelaku wisata ikut terlibat di dalamnya dengan menjaga para wisatawan agar mematuhi himbauan untuk tidak menggunakan laut untuk beraktivitas selama 24 jam.
Secara komunitas, masyarakat Nusa Penida melaksanakan kegiatan kolektif yang terkait dengan ritual keagamaan sebagai bentuk penghormatan terhadap penguasa lautan dan juga sebagai bentuk syukur dan terima kasih atas limpahan berkah laut yang diberikan selama ini.
“Rangkaian ritual Nyepi Segara mulai dari Ngusaba, Melasti, dan Mulang Pekelem dilakukan secara kolektif oleh masyarakat Nusa Penida dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, pemuka agama, dan perangkat desa setempat,” paparnya.
Jadi Momentum Konservasi Laut
Nyepi Segara menjadi momen penting dalam mengimplementasikan konsep Tri Hita Karana. Salah satunya dalam unsur palemahan, karena dapat mendukung serta memperkuat sisi konservasi lingkungan khususnya laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Kuatnya masyarakat Nusa Penida menyakini ritual Nyepi Segara ini menyiratkan bahwa masyarakat sudah sepenuhnya memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan laut demi keberlangsungan kehidupan.
Putu Suarta menambahkan, pelaksanaan Nyepi Segara merupakan implementasi nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi yang tertuang pada Lontar Purana Bali. Salah satu bagian Sad Kerthi adalah Samudra (Segara) Kertih yakni upaya yang dilakukan untuk menjaga hubungan harmonis dengan laut dan isinya.
Pelaksanaan Nyepi Segara merupakan salah satu upaya manusia dalam menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan alam khususnya laut beserta isinya. Selain sebagai salah satu bentuk rasa terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, pelaksanaan Nyepi Segara dilaksanakan sebagai salah satu ritual konservasi laut.
Laut membutuhkan waktu untuk istirahat sejenak dari segala aktivitas yang dilakukan oleh manusia dan hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan biota laut. Tradisi Nyepi Segara ini hanya ada di Nusa Penida saja, sehingga ini merupakan salah wujud kearifan lokal yang selayaknya dilestarikan bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Nyepi segara mengajarkan kepada kita bahwa lautan sebagai sumber penghidupan harus dijaga. Jangan menjadikan laut sebagai tong sampah, membuang apapun ke laut. Laut harus dipertahankan kesuciannya, karena laut juga sebagai hulu,” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra