Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali di Kintamani; Mekawas Simbol Syukur Desa Adat Sekardadi

I Putu Mardika • Selasa, 25 Juli 2023 | 12:05 WIB
Mekawas di Desa Adat Sekardadi, Kintamani, Bangli, adalah salah satu tradisi unik umat Hindu di Bali.
Mekawas di Desa Adat Sekardadi, Kintamani, Bangli, adalah salah satu tradisi unik umat Hindu di Bali.

DESA Adat Sekardadi, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, hingga kini masih melestarikan tradisi Mekawas yang telah diwariskan secara turun temurun. Upacara ini sebagai wujud rasa syukur, atas kesejahteraan umat Hindu setempat yang diberikan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Bendesa Adat Sekardadi, I Nengah Madria mengatakan Makawas juga dapat diartikan sebagai memalang yang artinya dibagi rata. Tradisi ini diawali dengan krama ngayah dalam mempersiapkan segala kebutuhan upacara. Semua anggota krama memiliki peranan masing-masing dalam melaksanakan kegiatan.

Kemudian Jero Kubayan dibantu oleh saye (pendamping Jero Kubayan) mempersiapkan bahan-bahan berupa sarana upakara untuk dihaturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi. Sekaa meebat yaitu petugas yang mempersiapkan bahan makanan sebelum dilaksanakan upacara. Sekaa ebat bertugas memotong, memasak olahan daging yang digunakan untuk isi kawas.

Setelah selesai persiapan untuk upacara, perempuan dari tiap kepala keluarga membawa perlengkapan untuk persembahyangan berupa banten yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Persiapan meletakan isi kawas dimulai dari meletakan tikar sebagai alas bagian bawah kemudian meletakan daun pisang yang telah dipotong berbentuk segiempat dan disusun memanjang.

Usai semua kawas di tanding dan semua sarana upakara telah tersedia dan disusun, kemudian Jero Kubayan memulai untuk menghaturkan kawas dan banten kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai bentuk rasa syukur. Sarana ini berupa hewan kurban, seperti kerbau dan sapi

Begitu Jero Kubayan selesai menghaturkan, kemudian membagikan kawas terlebih dahulu kepada Pradulu Ulu Apad dan pemangku. Ulu Apad dipegang oleh 16 anggota yang dikenal dengan istilah Paduluan Saih Enembelas yang dipimpin oleh seorang Jero Kubayan Muncuk.

“Anggota paduluan saih enembelas terutama Jero Kubayan harus melalui berbagai proses upacara penyucian, karena tugasnya yang begitu penting sebagai pemimpin adat dan agama,” ungkapnya.

Tahapan selanjutnya adalah membagikan kawas kepada anggota krama pengarep. Kawas dibagikan pada anggota krama pengarep secara berurutan sesuai menurut letak karang didesa. Selanjutnya banten di dalam keranjang yang telah dihaturkan akan dikumpulkan kembali dan dibagikan secara sama rata atau disebut memalang.

“Simbol dari tradisi makawas yang ada di Desa Sekardadi yaitu pite. Pite merupakan sebuah lambang dari mucuk (pemipinan) dalam sistem Ulu Apad. Simbol pite yang bermakna memperlihatkan struktur sosial dalam masyarakat seperti perbedaan dalam awalan meletakkan posisi kawas,” tutupnya.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Kintamani #desa adat #bangli #hindu #tradisi #Ida Sang Hyang Widhi Wasa