Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Galungan: Ini yang harus Dilakukan saat Sugihan Jawa dan Sugihan Bali

Wiwin Meliana • Selasa, 25 Juli 2023 | 17:03 WIB
PENYUCIAN: Sebagai bentuk penyucian sekala dan niskala, ini yang harus dilakukan saat Sugihan Jawa dan Sugihan Bali.
PENYUCIAN: Sebagai bentuk penyucian sekala dan niskala, ini yang harus dilakukan saat Sugihan Jawa dan Sugihan Bali.

BALI EXPRESS - Sugihan  Jawa dan Sugihan Bali menjadi salah satu rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Sugihan Jawa jatuh pada Wrehaspati  atau  Kamis Wage Wuku Sungsang, sedangkan Sugihan Bali jatuh pada Jumat Kliwon Wuku Sungsang atau sehari setelah Sugihan Jawa.

Secara umum Sugihan Jawa dan Sugihan Bali dimaknai sebagai simbolisasi pembersihan alam semesta (Bhuana Agung) hingga Bhuana Alit, agar pelaksanaan Galungan berjalan sesuai dengan harapan, yaitu terwujudnya harmonisasi alam semesta beserta isinya.

Jika dilihat dari arti katanya, Sugian Jawa berasal dari urat kata Sugi yang artinya membersihkan, dan Jawa artinya luar. Jadi, Sugihan Jawa dapat diartikan sebagai suatu upacara yang berfungsi untuk membersikan Bhuana Agung atau alam semesta (makrokosmos), baik sekala maupun niskala.

Pembersihan bisa dilakukan dengan melakukan Pacaruan Ekasata di rumah masing-masing. Bila tidak sempat melakukan pacaruan, maka cukup dengan bungkak nyuh gading yang dipercikkan ke semua penjuru rumah atau pekarangan yang sebelumnya sudah dihaturkan agar rumah dan lingkungan menjadi bersih.

Pembersihan secara niskala dilakukan dengan jalan mengaturkan upacara banten pengerebuan dan prayasita sebagai lambang penyucian. Semua itu dihaturkan kepada Ida Batara, para leluhur dan para dewa yang berstana di masing-masing palinggih atau pura.

Diyakini, pada saat Sugihan Jawa para dewa akan turun diiringi dengan para luluhur untuk menerima persembahan. Sedangkan pembersihan secara sekala dilakukan dengan membersihkan palinggih atau tempat-tempat yang disebut dengan istilah ngererata atau mabulung, yakni pekerjaan merabas atau mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar palinggih.

Sedangkan Sugihan Bali, disebutkan berasal dari kata “wali” yang artinya “bagian dalam”. Secara harfiah, artinya pembersihan bagian dalam diri manusia (pembersihan dari dalam diri sendiri). Pembersihan secara sekala dapat dilakukan dengan membersihkan badan fisik dari debu kotoran dunia maya, agar layak dihuni oleh Sang Jiwa Suci sebagai Brahma Pura. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan. Sementara pembersihan niskala dapat dilakukan dengan membersihkan badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira) dengan cara melakukan yoga semadi yang ditujukan untuk mulat sarira. Sebab pada saat ini umat seharusnya memiliki kesucian batin dengan menahan diri dari segala macam godaan indria. Hal inilah yang menjadi penekanan dalam kaitannya pelaksanaan ritual Sugihan Bali.

Editor : Nyoman Suarna
#Hari raya hindu #hindu bali #galungan #sugihan bali #sugihan jawa