BALI EXPRESS - Berdasarkan Lontar Sundarigama, Sugihan Jawa diartikan sebagai pasucian dewa, yakni hari panyucian semua Bhatara. Apa saja bebantenan yang digunakan dalam melaksanakan Sugihan Jawa?
Ada sejumlah sarana upakara yang dihaturkan di pelinggih seperti Padmasana, Meru, Sanggah Kemulan, Taksu, Pengijeng atau Penunggun Karang dan lain-lain. Di antaranya banten Pabersihan atau Panyucian, Canang Buratwangi atau yang lain dan Tirtha Anyar (Toya Anyar). Dapat pula dilengkapi dengan ajuman dan daksina atau sesuai dengan yang telah berlaku.
Sedangkan untuk pelinggih yang lebih kecil dihaturkan Canang Buratwangi atau yang lain sesuai dengan apa yang telah berlaku. Penyucian secara umum disebut juga dengan Parerebuan.
Setelah melakukan pembersihan secara sekala, lalu dilakukan pembersihan secara niskala yaitu menghaturkan banten Parerebuan. Bila hanya membuat satu soroh banten Parerebuan, hendaknya diusahakan mempergunakan ikan, ayam atau itik. Banten Parerbuan terlebih dahulu dihaturkan di Padmasana. Kemudian di Sanggah Kemulan atau Meru atau Gedong, Taksu dan seterusnya sampai pada bangunan yang kecil-kecil. Setelah itu banten tersebut “dilebar” di Jaba disertai dengan Segehan dan Tetabuhan.
Setelah selesai menghaturkan banten Parerebuwan, barulah menghaturkan sesajen-sesajen, kemudian diakhiri dengan persembahyangan dan mohon tirta sebagaimana biasa.
Editor : Nyoman Suarna