DENPASAR, BALI EXPRESS - Belakangan beredar pesan di goup WA yang memberikan imbauan agar umat Hindu di Bali tidak melaksanakan penampahan jelang hari Raya Galungan. Pasalnya, hari penampahan bertepatan dengan Purnama. Imbauan yang meresahkan inipun membuat umat Hindu yang akan merayakan Galungan bingung.
Dalam pesan berantai yang telah diteruskan berkali-kali ditulis sebagai berikut: “Niki wawu tiyang polih pice baos ring Ratu Pedande Nabe Gerya Gede Wayahan Buruan, duaning ring Penampahan Galungan nike sinarengan sareng dina Purnama, yen dados tunas menawita semeton tiyang jagi mebat/ ngelawar ring penampahan, yen dados sampunang mebat ring penampahan duaning kayang nike Kesengguh Jagal Mangsa menurut panikan Ratu Pedande. Kalau bisa alangkah baiknya hari mebatnya/ ngelawarnya dimajukan sebelum Purnama atau pas ring dine Galungan karena Penampahan ketemu Purname nenten becik meolahan memati2an. Asapunike pebaos/piteket Pedande/Anak Lingsir Gerya Gede Wayahan Buruan, kirang langkung tityang nunas pengampura, dumogi Rahayu semeton sareng sami.”
Pesan inipun beredar secara massif di grup-grup WA. Tak pelak menimbulkan polemik di masyarakat. Tidak sedikit juga yang waswas lantaran banyak di antara masyarakat sudah menyiapkan babi untuk dipotong lewat sekeha.
Menyikapi hal itu, dalam akun @Kapiyot, penekun Lontar, Ida Bagus Made Baskara dari Geria Gunung Kawi Manuaba, Tampak Siring, Gianyar menjelaskan, mengacu pada teks Sundarigama dan Aji Swamandala, di Bali ada tiga jenis Galungan yaitu Galungan Nadi, Galungan Naramangsa dan Galungan Sebel.
Galungan Nadi jatuh bertepatan dengan hari Purnama. Kemudian Galungan Naramangsa dirayakan, dimana Galungan bertepan dengan Tilem Sasih Kepitu maupun pada saat Tilem Sasih Kesanga.
“Pada saat Galungan Naramangsa memang tidak dibenarkan mempersembahkan daging. Namun, ada banten yang digunakan untuk mengganti daging. Bukan pada saat penampahannya. Sedangkan kalau memotong babi pada saat penampahan untuk dikonsumsi, tidak masalah,” jelasnya.
Sedangkan Galungan Sebel merupakan Galungan yang dirayakan secara kolektif oleh keluarga yang sedang sebel (cuntaka). Missalnya, ada anggota keluarga yang meninggal. “Karena menurut sastra, Galungan itu tidak boleh encak, tapi harus tetap dilaksanakan. Termasuk juga pada saat terjadi bencana, maka Galungan harus tetap dilaksanakan, meski ada hambatan. Seperti pandemi Covid-19 kemarin, maka tetap terlaksana,” paparnya.
Jika merujuk sastra, perayaan Galungan selalu identik dengan prosesi penampahan yaitu sebagai momen untuk pemurtian sang Kala Tiga Wisesa atau kekuatan Kala Bhucari yang maha dahsyat untuk disomia atau dinetralisir. Hal inilah menjadi alasan yang amat penting mengapa penampahan harus dilaksanakan.
Lalu apa yang terjadi jika hari penampahan jatuh bertepatan dengan Purnama? Dijelaskan Ida Bagus Made Baskara, belum ada teks yang menyebutkan secara jelas dan gamblang bahwa jika hari Penampahan bertemu Purnama, maka dilarang untuk melakukan penampahan (ngelawar).
“Tidak ada larangan untuk ngelawar saat Purnama. Begitu juga kalau Galungan Naramangsa bertepatan dengan Tilem Sasih Kesanga dan Kapitu, tidak ada larangan. Tetapi tidak dibenarkan untuk mempersembahkan daging. Kalau hanya nampah lalu dagingnya diolah untuk lawar dan dikonsumsi, itu boleh,” jelasnya.
Dalam berbagai lontar dijelaskan, ada alasan tertentu mengapa ketika Galungan Naramangsa dilarang mempersembahkan daging. Sebab pada saat Tilem Sasih Kepitu dan Tilem Sasih Kesanga, kekuatan energi Bhuta saat itu sangat besar. Sementara saat itu umat Hindu juga sedang memuja durga.
“Alam itu memberi kekuatan Durga yang sangat besar. Pada saat itu kita memuja Durga sehingga kekuatan Durga menjadi berlipat-lipat. Maka dari itu, harus diseimbangkan. Tidak boleh memperkuat Durga dan Bhuta dengan persembahan daging. Jangan sampai kekuatan Durga dan Bhuta menjadi semakin tidak terkendali. Ibarat api yang sudah besar, disiram bensin, tentu apinya semakin berkobar,” paparnya.
Pada pesan yang beredar tersebut juga terungkap istilah Jagal Mangsa. Menurutnya, istilah itu tidak ada kaitan dengan Galungan. Namun istilah Jagal Mangsa diambil dari Lontar Dharma Caruban. Lontar ini memang mengulas tentang bagaimana mengolah masakan baik digunakan sebagai sarana upacara maupun untuk konsumsi.
“Di lontar itu memang ada menyebutkan I Bhuta Jagal Mangsa sebagai kekuatan Bhuta yang dipuja saat metetampahan. Dengan menghaturkan lelabaan. Jadi tidak ada kaitan dengan Purnama bertemu penampahan,” imbuhnya.
Ia menambahkan, ketika penampahan bertemu dengan hari Purnama, maka kekuatan bulan akan memberikan energi yang sangat positif. Dalam teks wariga disebutkan berbagai jenis Purnama pada hari tertentu.
Dalam Sapta Redana, ada tujuh upaya untuk memohon kekuatan pada bulan Purnama. Ketika bulan Purnama jatuh saat bertepatan hari Selasa, maka yang dipuja adalah kekuatan Ida Bhatara Siwa meraga Candra yang memberikan kekuatan Suka Werdhi atau kebahagiaan luar biasa.
“Justru tidak ada larangan. Jadi kalau menggunakan rujukan sastra yang menjadi sumber pelaksanaan Galungan dan Kuningan baik Sundarigama, Sri Jaya Kesunu, Lontar Aji Swamandala yang mempertegas Galungan pada sasih tertentu, beratrti konsep yang beredar di WA group itu tidak jelas,” jelasnya.
Imbauan untuk tidak melakukan penampahan pada saat Purnama, menurutnya, tidak jelas sumbernya. Jagal Mangsa, sebut Ida Bagus Made Baskara, tidak ada hubungan dengan hari Purnama. Walaupun tidak bertemu Purnama, maka saat penampahan tetap memuja Ida Bhatara Siwa yang konsep kekuatan Bhuta yang berwujud I Bhuta Jagalmangsa.
Baskara menegaskan, pesan berantai terkait larangan metetampahan saat hari Penampahan tidak jelas sumber rujukan sastranya. Bahkan, pihaknya juga mengaku sudah mengkonfirmasi terkati geria yang dicatut namanya dalam pesan berantai.
“Tiang sampun mengkonfirmasi terkait namanya yang dicatut. Tiang kira ini pencatutan nama. Tidak ada geria yang menyampaikan itu. Tiang sudah mengkonfirmasi kepada pesemetonan geria, juga dan tidak ada yang mengeluarkan imbauan itu. Jikapun ada namanya yang mirip, tidak ada yang menyampaikan itu. Maka dari itu kami berharap harus berhati-hati untuk mencerna informasi yang tidak jelas,” pesannya.
Editor : Nyoman Suarna