Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Makna Penyekeban dan Penyajaan Galungan Umat Hindu di Bali

I Putu Mardika • Jumat, 28 Juli 2023 | 23:09 WIB

Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja Dr. Wayan Murniti memberikan penjelasan soal makna penyekeban dan penyajaan Galungan Umat Hindu di Bali.
Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja Dr. Wayan Murniti memberikan penjelasan soal makna penyekeban dan penyajaan Galungan Umat Hindu di Bali.
 

BALI EXPRESS- Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan umat Hindu di Bali tergolong panjang. Diawali dengan pelaksanaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali dan diakhiri dengan Buncal Balung yang rentang waktunya salaam 35 hari. 

Dari rangkaian itu, ada prosesi penyekeban dan penyajaan. Prosesi ini menjadi tanda Sang Kala Tiga mulai turun ke dunia untuk mencoba menggoda umat Hindu dalam melaksanakan Galungan dan Kuningan.

Penyekeban dilaksanakan pada Minggu atau Radite Pahing Wuku Dungulan. Persis tiga hari sebelum Galungan. Pada hari penyekeban ini umat Hindu melakukan nyekeb atau proses membuat buah-buahan yang belum dimasak menjadi masak, seperti pisang untuk persiapan Galungan.

Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja Dr Wayan Murniti mengatakan pada hari penyekaban ini merupakan awal Wuku Dungulan yang memiliki maksan patut waspada. Buah-buahan memiliki makna sebagai simbol pengekangan diri agar tidak tergoda dengan Bhuta Galungan.

Pasalnya, kata Murniti, pada Bhuta Kala (Sang Hyang Tiga Wisesa) akan turun dan menggoda keyakinan umat Hindu dalam wujud Bhuta Galungan. Oleh karena itu, manusia harus selalu waspada dalam mengendalikan dirinya, mengguatkan batin agar tidak tergoda dengan kekuatan negatif dari Sang Bhuta Galungan.

Saat penyekeban ini umat Hindu harus tahan dengan beragam godaan yang bertujuan untuk menggoyahkan hati menyongsong Galungan. Entah godaan dari dalam diri maupun yang datang dari luar diri.

“Pada prosesi penyekeban ini biasanya ditandai dengan nyekeb buah, seperti pisang, sawo, manga ataupun buah lainnya agar matang dengan sempurna saat dipersembahkan. Ada juga mulai membuat tape, dengan tujuan agar bisa matang dipersembahkan saat Galungan,” ungkap Murniti.

Setelah penyekeban, kemudian dilanjutkan dengan proses penyajaan. Penyajaan jatuh pada Senin atau Soma Pon Dunggulan. Pada saat ini umat Hindu di Bali mulai mempersiapkan diri untuk membuat sajen/banten. Seperti membuat jajan, membuat kacang-kacangan, saur, serundeng, serta membuat jejahitan sekaligus menata sesajen untuk Galungan

Maknanya agar pada momen ini umat Hindu dapat lebih meningkatkan daya konsentrasi diri ke hal-hal yang bersifat suci dalam kewaspadaan selalu terkendali menundukkan atau mengalahkan Sang Kala Tiga. Tentunya agar tidak menggoda umat manusia tetapi selalu memberikan perlindungannya.

“Hari ini digunakan sebagai hari persiapan membuat jajanan (kue) untuk hari raya Galungan. Kata jajan memiliki makna sebagai simbolis adalah mengandung maksud makna saje atau sungguh-sungguh unutk melaksanakan hari raya Galungan,” paparnya.

Pada saat penyajahan Galungan ini juga mulai turun Sang Bhuta Kala atau yang biasa disebut dengan Sang Bhuta Dungulan. Oleh karena itu Sang Bhuta Kala bertambah satu lagi dan godaannya semakin kuat dan keras.

Pada hari penyajaan ini pula lah diusahakan sekali agar tidak terjadi pertengkaran dengan siapapun itu. Karena makna utama penyajahan tiada lain adalah kesungguhan atau keseriusan hati untuk menyambut Galungan.

Melakukan kerja atau usaha yang positif guna mempersiapkan diri menyambut perayaan Galungan adalah suatu hal yang mulia dan terpuji, karena juga dapat memusatkan pikiran yang tertuju pada Ida Sang Hyang Widhi.

Hal ini ditegaskan dalam kitab suci Bhagawadgita, IX.24, yang berbunyi: “Brahman, rpanam brahma havir Brahmagnan brahmana hutam Brahmai ya tena gantavyam Brahmakarma samadhina”

Artinya: Dipujanya Brahman, persembahannya Brahman oleh Brahman dipersembahkan Dalam api Brahman dengan memusatkan Meditasinya kepada Brahman Dalam kerja ia mencapai brahman Justru itu ciptakanlah suasana yang tentram, kedamaian, kesabaran dan pengendalian diri untuk mengalahkan godaan yang timbul dalam diri.

“Jadi sebelum merayakan Galungan kita harus mengendalikan diri dan senantiasa mawas diri. Jangan terpancing, sehingga hati benar-benar suci. Barulah kita bisa melaksanakan penampahan pada keesokan harinya dan merayakan Galungan,” tutupnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #hindu #penyekeban #penyajaan #galungan