Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Penyekeban dan Penyajaan Galungan, Ini yang harus Dilakukan

I Putu Mardika • Sabtu, 29 Juli 2023 | 15:40 WIB
KENDALI DIRI: Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Ag. mengatakan, saat Penyekeban dan Penyajaan Galungan hindari pertengkaran dan kendalikan diri.
KENDALI DIRI: Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Wayan Murniti, M.Ag. mengatakan, saat Penyekeban dan Penyajaan Galungan hindari pertengkaran dan kendalikan diri.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan tergolong panjang. Diawali dengan pelaksanaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali selanjutnya diakhiri dengan Buncal Balung yang rentang waktunya salama 35 hari.  Dari rangkaian itu, ada prosesi Penyekeban dan Penyajaan. Prosesi ini menjadi tanda sang Kala Tiga mulai turun ke dunia untuk mencoba menggoda umat Hindu dalam melaksanakan Galungan dan Kuningan.

Hari penyekeban dilaksanakan pada hari Minggu atau Radite Pahing Wuku Dungulan, tiga hari sebelum Galungan. Pada hari Penyekeban umat Hindu melakukan nyekeb atau proses mematangkan buah-buahan yang masak, seperti pisang atau tape untuk persiapan hari Galungan.

Dosen Upakara STAHN Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti, M.Ag mengatakan, hari Penyekaban merupakan awal Wuku Dungulan yang memiliki makna harus waspada. Buah-buahan memiliki makna sebagai simbol pengekangan diri agar tidak tergoda oleh Bhuta Galungan.

Pasalnya, pada saat itu Bhuta Kala (Sang Hyang Tiga Wisesa) akan turun dan menggoda keyakinan umat Hindu dalam wujud Bhuta Galungan. Oleh karena itu, manusia harus selalu waspada dalam mengendalikan dirinya, mengguatkan batin agar tidak tergoda dengan kekuatan negatif dari Sang Bhuta Galungan.

Saat Penyekeban umat Hindu harus tahan dengan beragam godaan yang bertujuan untuk menggoyahkan hati menyongsong Galungan. Entah godaan dari dalam diri maupun yang datang dari luar diri.

“Prosesi penyekeban ini biasanya ditandai dengan nyekeb buah, seperti pisang, sawo, manga ataupun buah lainnya agar matang dengan sempurna saat dipersembahkan. Ada juga yang mulai membuat tape, agar bisa matang saat dipersembahkan pada Hari Raya Galungan,” ungkapnya.

Setelah Penyekeban dilanjutkan dengan proses Penyajaan. Penyajaan jatuh pada hari Senin Pon Dunggulan. Pada saat ini umat mulai mempersiapkan diri untuk membuat sajen/banten. Seperti membuat jajan, membuat kacang-kacangan, saur, serundeng, serta membuat jejahitan sekaligus menata sesajen untuk hari raya Galungan

Maknanya agar pada momen ini umat Hindu dapat lebih meningkatkan daya konsentrasi diri ke hal-hal yang bersifat suci agar mampu menundukkan atau mengalahkan Sang Kala Tiga.

“Hari ini digunakan sebagai hari persiapan membuat jajanan (kue) untuk hari raya Galungan. Kata jajan memiliki saje atau sungguh-sungguh untuk melaksanakan hari raya Galungan,” paparnya.

Pada hari Penyajahan Galungan ini mulai turun Sang Bhuta Kala atau yang biasa disebut dengan Sang Bhuta Dungulan. Oleh karena itu Sang Bhuta Kala bertambah satu lagi dan godaannya semakin kuat dan keras.

Pada hari Penyajaan ini juga diusahakan agar tidak terjadi pertengkaran dengan siapapun. Karena makna utama Penyajaan tiada lain adalah kesungguhan atau keseriusan hati untuk menyambut Galungan. Melakukan kerja atau usaha yang positif guna mempersiapkan diri menyambut perayaan Galungan adalah suatu hal yang mulia dan terpuji, karena dapat memusatkan pikiran yang tertuju pada Ida Sang Hyang Widhi.

Hal ini ditegaskan dalam kitab suci Bhagawadgita, IX.24, yang berbunyi: “Brahman, rpanam brahma havir Brahmagnan brahmana hutam Brahmai ya tena gantavyam Brahmakarma samadhina.”

Artinya: Dipujanya Brahman, persembahannya Brahman, oleh Brahman dipersembahkan dalam api Brahman dengan memusatkan meditasinya kepada Brahman. Dalam kerja ia mencapai Brahman. Justru itu ciptakanlah suasana yang tenteram, kedamaian, kesabaran dan pengendalian diri untuk mengalahkan godaan yang timbul dalam diri.

 “Jadi sebelum merayakan Galungan kita harus mengendalikan diri dan senantiasa mawas diri. Jangan terpancing, sehingga hati benar-benar suci. Barulah kita bisa melaksanakan penampahan pada keesokan harinya dan merayakan Galungan,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#hindu bali #penyekeban #penyajaan #galungan