Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hari Suci Hindu; Galungan dan Kuningan Sebagai Pondasi Pendidikan Karakter

I Putu Mardika • Rabu, 2 Agustus 2023 | 02:05 WIB
Oleh: Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd (Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja)
Oleh: Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd (Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja)

 

Oleh: Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd (Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja)

HARI Suci Galungan dan Kuningan adalah dua hari suci besar dan penting dalam agama Hindu. Galungan dan Kuningan dirayakan sebanyak dua kali dalam satu tahun.

Perhitungan perayaan kedua hari besar ini berdasarkan pada kalender Bali. Galungan setiap hari Rabu pada wuku Dungulan. Sementara Kuningan setiap hari Sabtu pada wuku Kuningan.

Galungan dan Kuningan dimaknai sebagai hari kemenangan dharma atau kebaikan melawan adharma atau kebatilan.

Pada pelaksanaanya, hari suci ini sangat erat dengan pendidikan karakter. Tumpek Wariga yang merupakan awal dari rangkaian acara Hari Raya Galungan yang dimulai dari 25 hari sebelumnya.

Nilai pendidikan karakter pada tumpeg wariga atau tumpek pengatag ini adalah nilai peduli terhadap lingkungan.

Pada hari ini umat Hindu melakukan persembahyangan terhadap pohon yang menghasilkan buah sebagai bahan persembahan saat Galungan.

Konteks kekinian, refleksi tumpek wariga mesti diejewantahkan dalam laku kehidupan yang lebih holistik yakni dengan melestarikan lingkungan, terutama alam yang bebas dari sampah plastik yang jadi perhatian banyak pihak.

Rangkaian selanjutnya adalah Sugihan Jawa, yang berasal dari kata sugi berarti suci dan jawa berarti luar. Sebab, pada Sugihan Jawa, umat Hindu membersihkan dan menyucikan segala sesuatu yang berada di luar diri manusia atau disebut Bhuana Agung.

Penyucian yang ada di luar harus dimaknai bukan hanya pada alam, tetapi pada hubungan sosial dan kemanusiaan. Umat Hindu harus membiasakan kegiatan selain ritus keagamaan semata, tetapi aksi-aksi sosial yang menyasar kalangan papa dan kurang mampu.  

Inilah wujud dari kemanusiaan dan humanisme yang menjadi titik penting pembangunan dunia saat ini. Kemanusiaan juga harus dihayati sebagai wujud dharmaning negara, yakni wujud dari nilai demokratis dan cinta pada tanah air.

Setelah Sugihan Jawa adalah Sugihan Bali yakni simbol penyucian Bhuana Alit atau diri manusia.

Membersihkan diri dalam Hindu bisa dilakukan dengan melukat. Lebih dalam dari itu, membersihkan diri lebih dalam adalah menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan kita dari perbuatan tercela.

Dalam teks Saramuscaya ayat 2 dijelaskan bahwa Di antara semua makhluk hidup hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah yang dapat berbuat baik ataupun buruk. Leburlah ke dalam perbuatan baik segala perbuatan buruk itu; Demikianlah gunanya (pahalanya) menjadi manusia.

Simbolisasi Sugihan Bali dalam konteks pendidikan karakter harus dipahami sebagai momentum meningkatkan implementasi nilai kejujuran dan mandiri.

Hal ini penting sebagai upaya mewujudkan generasi bangsa yang cerdas dan mampu bersaing di era digital saat ini. Mewujudkan generasi yang unggul, bukan hanya andal dalam hard skill semata, tetapi pada ranah soft skill.

Rangkaian selanjutnya adalah Hari Penyajan dimana umat Hindu disimbolisasi akan digoda oleh sang Bhuta Dungulan untuk menguji sejauh mana tingkat pengendalian diri mereka menuju Galungan.

Hari Penyajan jatuh pada Senin pon wuku Dungulan. Makna dari penyajaan sejatinya adalah tentang komitmen sikap spiritual kita sebagai umat beragama.

Komitmen beragama sangat penting memastikan kesungguhan hati menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan agama itu sendiri.

Kesungguhan beragama dewasa ini tidak hanya pada batas upacara, tetapi lebih dari itu yakni pada tataran tattwa/filosofi. Umat hindu harus kerja keras dan bersungguh dalam mendalami ajaran agama melalui membaca teks-teks keagamaan yang ada.

Inilah salah satu kelemahan kita yang harus disadari selama ini. Penyajaan harus melahirkan sikap pesaje dalam beragama.

Salah satu momen penting selanjutnya pada Galungan adalah Hari Penampahan yang jatuh sehari sebelum Hari Raya Galungan, tepatnya pada Selasa wage wuku Dungulan.

Pada hari ini, umat Hindu akan disibukkan dengan pembuatan penjor, sebagai ungkapan syukur ke hadapan Tuhan.

Penambahan harus dimaknai membunuh sepenuhnya sifat-sifat negatif dalam diri manusia (Sad Ripu dan Sapta Timira).

Kita hendaknya bukan hanya membunuh hewan di luaran sebagai persembahan untuk selanjutnya dikonsumsi, lebih utama adalah membunuh sifat keraksasaan dalam diri seperti iri hati, dengki, mabuk, bengis, kebodohan dan lain sebagainya.

Setelah semua rangkaian tuntas dijalani, umat Hindu akan sampai pada puncak Galungan. Umat Hindu melakukan persembahyangan mulai dari pura kawitan hingga pura-pura lingkup lebih luas.

Momentum perayaan puncak Galungan adalah simbol penyatuan antara manusia dan Tuhan, antara pemuja dan yang dipuja.

Sejatinya, antara manusia sebagai jiwa dan Tuhan sebagai Brahman/sumber jiwa adalah satu. Melalui sembahyang dan tapa/yoga pada Galungan, maka, bertahap pemujaan dilakukan demi Tujuan akhir yakni Moksartam dan Jagadhita.

Sehari setelah Galungan adalah Umanis Galungan. Umanis Galungan adalah simbolisasi suka dan cita.

Makna, Jagadhita adalah kedamaian dan cinta kasih. Melalui prosesi Galungan sejatinya umat Hindu merefleksi diri dengan insan yang selalu menjunjung tinggi kedamaian.

Di tengah pertentangan dan pertikaian yang terjadi di lingkungan, negara dan dunia. Makna, Galungan harus memvibrasi kita bersama akan pentingnya makna damai dan cinta kasih sebagai sesama.

Setelah tuntas prosesi Galungan, selanjutnya adalah Kuningan, Pada Hari Raya Kuningan, umat Hindu melakukan persembahyangan menghadap para dewa dan para leluhur.

Persembahyangan ini dilakukan dengan menyiapkan sesajen dengan isi ajengan (nasi) yang berwarna kuning.

Ajengan yang berwarna kuning memiliki arti simbol kemakmuran. Hal ini diartikan sebagai bentuk terima kasih karena beliau telah melimpahkan rahmatnya untuk kemakmuran di dunia ini.

Jika Galungan adalah prosesi pendakian spiritual, maka Kuningan adalah proses penganugeraan dari Tuhan kepada semesta. 

Kemakmuran adalah sebuah proses yang diraih dan dicapai dengan kerja keras, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu dan kesungguhan.

Sederhananya, kesuksesan adalah proses yang mengharmoniskan doa dan usaha. Kuningan adalah momentum untuk sujud syukur atas nikmat Tuhan atas keberlimpahan dan kedamaian di dunia.

 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #galungan #kuningan