BALI EXPRESS - Bayi yang lahir saat Soma Pemacekan Agung, menurut kepercayaan umat Hindu di Bali, dianggapnya lebih berat dibandingkan yang lahir saat Tumpek Wayang.
Lalu apa yang harus dilakukan bagi bayi atau orang Hindu Bali yang lahir saat Soma Pemacekan Agung?
Bagi bayi yang terlahir saat Soma Pemacekan Agung, wajib menghaturkan upacara ruwatan Bayuh Melik yang dilaksanakan cukup sekali dalam seumur hidupnya. Ini adalah salah satu tradisi yang masih dijalankan oleh umat Hindu di Bali.
Sarana yang digunakan di antaranya banten tebasan Atma Rauh, Sesayut Kala Lara Melaradan, Sesayut Pengalangati, Sesayut Pepaga Puuh, dan Salaran Gede.
Ada pula sarana ayam selem (hitam) sepit gunting (ayam remaja).
”Jadi itu dilakukan di pura dalem dengan membawa tirta kemulan. Setelah ritual berjalan, kemudian ayam hitam itu disambleh. Dengan harapan agar aura negatif dari si anak yang lahir saat Soma Pemacekan Agung berpindah ke ayam,” katanya lagi.
Ia menyebut, orang yang terlahir saat Soma Pemacekan Agung diyakini memiliki energi cukup besar. Jika salah mengarahkan, dikhawatirkan perbuatannya akan lebih condong ke arah negatif.
“Kelahiran saat Soma Pemacekan Agung itu ibarat magnet. Kalau pasir yang menempel tentu tidak bagus. Yang diharapkan pada si bayi kelak adalah mampu menarik rejeki dan memiliki hal positif. Sehingga upacara Bayuh Melik ini bisa menunjukkan vibrasi yang positif bagi si anak,” pungkasnya.
Seperti diketahui, Soma Pemacekan Agung yang jatuh pada Soma Kliwon Wuku Kuningan sangat dikeramatkan umat Hindu, khususnya di Bali.
Sebab, momen ini dianggap sebagai kembalinya Sang Kala Tiga ke asalnya setelah disomya.
Perayaan Soma Pemacekan Agung bertujuan untuk mengembalikan Sang Bhuta Galungan beserta para pengikutnya ke asal masing-masing.
Saat ini umat menyuguhkan Segehan Agung yang memakai penyambleh ayam samalulung. Adapun pelaksanaan dilakukan pada sore hari bertempat di depan pintu masuk pekarangan atau lebuh.
Istilah Pemacekan Agung berasal dari kata pacek atau menancapkan sebuah tapa.
Sedangkan kata Agung berarti besar, mulia, kuat atau teguh.
Hari raya ini ada kaitannya dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Pemacekan Agung diyakini sebagai momentum penguatan diri bagi umat Hindu terhadap godaan Sang Kala Tiga, sehingga Sang kala Tiga kembali ke sumbernya setelah disomya.