Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Upacara Umat Hindu di Bali; Matebusan Lunasi Sesangi, Ini Jenis-jenisnya

I Putu Mardika • Kamis, 10 Agustus 2023 | 12:00 WIB
Upacara Matebusan umat Hindu di Bali.
Upacara Matebusan umat Hindu di Bali.

BALI EXPRESS- Upacara Metebusan atau nebusin menjadi upacara yang sering dilakukan oleh umat Hindu di Bali.

Upacara Matebusan bertujuan untuk membayar sesangi atau kaul para leluhur terdahulu, sehingga menjadi kewajiban pratisentananya untuk membayarkan. Matebusan juga erat kaitannya dengan kondisi sakit keras seseorang.

Sarati banten Jro Ketut Utara mengatakan, upacara Matebusan diyakini bersumber pada ajaran Tantrayana di Bali. Matebusan berasal dari kata “tebus” yang berarti membayar atau melunasi.

“Ini artinya ada sesuatu yang terlupakan yang belum kita bayar saat berjanji dulu atau masesangi. Atau istilah lainya matebusan ini mempunyai arti membayar kaul yang dilakukan oleh para orang tua kita dulu, sehingga kita sebagai keturunannya yang membayar,” jelas Jro Ketut Utara.

Jro Ketut Utara menyebutkan ada sejumlah jenis-jenis Matebusan. Di antaranya Matebusan untuk orang telah meninggal secara tidak wajar. Meninggal secara tidak wajar adalah meninggalnya salah pati dan ulah pati.

Untuk memudahkan reinkarnasi berikutnya biar tidak membawa beban, perlu dilaksanakan upacara Matebusan.

Matebusan juga dilakukan saat rangkaian upacara Ngaben yang dilakukan oleh keluarganya. Ini pun mempunyai arti bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.

Selain itu ada penebusan hari lahir, setiap manusia yang lahir ke dunia ini membawa hari yang baik dan buruk atau membawa energi positif dan negatif.

Energi negatif inilah yang perlu diruwat atau dinetralkan biar menjadi seimbang, melalui upacara panebusan oton (hari kelahiran).

Ini sangat penting dilakukan oleh masyarakat, karena akan memengaruhi karakter atau prilaku anak tersebut.

Jika tidak dilakukan upacara tersebut, anak-anak akan kurang terkontrol (berani kepada orang tua) atau ia akan menjadi sakit-sakitan.

“Selain itu, ada panebusan untuk para penguasa seperti para pemerintah atau para raja. Mengapa penebusan ini dilakukan? Penebusan ini sebagai permohonan maaf kepada Sang Pencipta, akibat mandat yang harus diemban dalam menjalankan hukuman. Sebagai contoh: memberikan hukuman mati kepada orang yang bersalah,” paparnya.

Walaupun orang itu bersalah, tetap saja orang tersebut mempunyai roh atau jiwa. Contoh upacara penebusan lain yang cukup besar untuk raja-raja di Bali khususnya keturunan Dalem Raja Gelgel adalah memakai naga banda.

Naga banda boleh dibilang sebagai penebusan juga. Karena raja saat ini berhak memutuskan apa saja, termasuk keputusan hukum.

Ada juga penebusan bagi yang lahir di Tumpek Wayang, biasanya penebusan dilakukan saat wuku Kumpek Wayang.

Mereka melakukan penebusan ini adalah mangku dalang yang bergelar Mpu Leger atau yang lebih dikenal dengan Sapuh Leger. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #hindu #Matebusan