BALI EXPRESS - Serangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan, seringkali ditemukan prosesi ngelawang barong di sejumlah wilayah di Bali.
Prosesi ngelawang ke rumah-rumah yang dilakukan anak-anak ini bertujuan untuk menetralisir energi negatif.
Dosen Filsafat Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Putu Ariyasa Darmawan mengatakan, tradisi ngelawang barong kerap dilaksanakan menjelang Hari Raya Galungan hingga Kuningan di Bali.
Ngelawang berasal dari kata lawang yang artinya pintu. Ngelawang juga dapat diartikan dari pintu ke pintu. Jadi maknanya adalah dari satu rumah ke rumah lainnya.
Tradisi ngelawang, kata Ariyasa, berawal dari sebuah ritual barong dan rangda yang disucikan untuk keliling wilayah desa ketika hari-hari tertentu. Biasanya antara hari raya Galungan sampai Kuningan.
Prosesi ini bertujuan menolak bala serta memohon keselamatan ke hadapan Yang Maha Kuasa dengan menghaturkan persembahan di depan pintu rumah ketika barong dan rangda melintas di depan rumah.
Baca Juga: Wow, Jika Terwujud, Sport Center di Gianyar Digadang-gadang Bisa Jadi Lokasi Konser BTS
Menurut Ariyasa, dasar pelaksanaan ngelawang diambil dari cerita dalam Lontar Barong Suari.
Dalam lontar tersebut diceritakan ketika pertemuan Ida Sang Hyang Guru dengan Dewi Uma, yang melahirkan putra bernama Dewa Kumara.
Amat bersuka citalah Betara Guru, akan tetapi Dewi Uma sangat sedih, karena Dewa Kumara siang malam selalu ikut pada Betara Guru.
Hal ini membuat Dewi Uma cemburu hingga membanting Dewa Kumara saat disusui.
Editor : Nyoman Suarna