BALI EXPRESS - Selain jaja gina, jaja uli, satuh, dan dodol, dalam upacara yadnya Hindu Bali juga kerap memakai jaja wajik.
Kepala Kantor Agama Kota Denpasar, Ida Bagus Ketut Rimbawan, menjelaskan, mengacu pada bentuk jaja wajik yang mebucu telu atau berbentuk segi tiga memiliki sudut, maka jaja wajik merupakan simbol dari hasil kerja keras.
Sebab, bucu atau sudut dimaknai sebagai sebuah hasil dari jerih payah atau kerja keras.
“Seringkali nak tua (orang tua) berpesan agar megae pang mebucu (bekerja biar menghasilkan),” imbuhnya.
Jajan lain yang digunakan sebagai sarana upacara oleh umat Hindu Bali adalah jajan sirat.
Secara maknawi, jajan ini memiliki arti bahwa setelah menghasilkan, maka hasil jerih payah itu tidak hanya dinikmati untuk diri sendiri. Tetapi juga untuk berbagi.
Kata siratang juga dimaknai seperti seorang pemangku memercikkan tirta kepada pemedek. Begitu juga siratang berarti berbagi atau membagikan.
“Sirat artinya bagi-bagi dengan keluarga, tetangga, bangsa dan negara, agar jerih payah kita bermanfaat untuk orang lain. Apakah dalam bentuk dana punia ataupun bentuk lainnya,” sebutnya.
Selanjutnya sarana jaja matahari yang dimaknai sebagai menyinari semua orang.
Jaja matahari ini terbuat dari tepung beras, ditambah gula, lalu dicampurkan air, kemudian digoreng. Jajan ini menyerupai seperti sinar matahari yang merekah dengan warna-warni mencolok.
Sedangkan makna jaja iwel atau sampani diartikan sebagai sampan atau perahu.
Sarasamuccaya Sloka 14 menyebutkan: "Ikang dharma ngaranya, henuning mara ring svarga ika, kadi gatining parahu, an henuning banyaga nentasing tasik."
Artinya: Yang disebut dharma, merupakan jalan untuk pergi ke swarga. Sebagai halnya perahu, sesungguhnya merupakan alat bagi pedagang untuk mengarungi lautan.
Jika mengacu pada sloka tersebut, maknanya adalah bukan harta ataupun takhta yang bisa menyeberangkan kita dalam samudera kehidupan ini, melainkan dharmalah yang bisa digunakan untuk menyeberanginya.
“Nah jaja iwel ini dimaknai sebagai sebuah sampan atau perahu untuk mengarungi lautan kehidupan dengan dharma,” paparnya.
“Jadi jajan yang dibuat untuk sarana upacara panca yadnya bukan tanpa makna, namun sarat akan nilai filosofis,” tutupnya.