Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Pura Langgar di Bali, Tempat Ibadah Umat Hindu yang di Dalamnya Terdapat Musala

I Putu Mardika • Minggu, 13 Agustus 2023 | 00:00 WIB

 

Pura Langgar di Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.
Pura Langgar di Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.

BALI EXPRESS- Desa Adat Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, memiliki pura yang unik sebagai simbol moderasi beragama. Namanya Pura Penataran Agung Dalem Jawa atau Pura Langgar.

Langgar atau musala merupakan tempat ibadah agama Islam. Tetapi, Langgar yang ada di Desa Adat Bunutin, justru berada di dalam areal Pura Langgar. Seperti diketahui, pura merupakan tempat suci umat Hindu.

Sarana upacara yang dipersembahkan di Pura Langgar tidak diperkenankan menghaturkan daging babi.

Pengempon Pura Penataran Agung Dalem Jawa atau Pura Langgar, Ida Dewa Gede Oka Nurjaya mengatakan pura ini sebenarnya bukanlah tempat ibadah umat muslim, melainkan tempat ibadah umat Hindu.

Karena adanya kata Langgar yang membuat umat Muslim menjadi ingin berdoa di tempat ini, padahal bangunan tersebut hanyalah sebuah gedong penyimpan.

Karena banyaknya umat muslim yang datang ke pura untuk bersembahyang, para pengempon pura menyediakan tempat persembahyangan bagi umat muslim yaitu di Bale Pengraosan dan di natah pura.

Umat muslim yang datang ke Pura Langgar  tidak diperbolehkan memasuki gedong suci.

Gedong suci atau yang sering disebut bangunan Langgar sama seperti pada bangunan di Mekkah, Arab Saudi.

Orang-orang yang berdoa hanya boleh di sekeliling bangunan. Mereka yang boleh memasuki Langgar atau Gedong tersebut hanya pamangku atau orang suci saja.

Dikatakannya, Pura Langgar ini pantang mempersembahkan daging babi. Namun sarana tersebut dapat diganti dengan daging ayam maupun itik.

Bahkan, sampai kini krama yang nangkil tidak ada yang berani membawa daging babi ke Pura Langgar.

Pura Langgar tidak hanya menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu di wilayah setempat.

Banyak juga umat muslim yang datang ke sini untuk berziarah dan melihat secara langsung keunikan pura ini.

Menurut cerita, Pura Langgar berdiri karena adanya keterkaitan sejarah antara Kerajaan Bunutin dengan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur, dimana Raja Bunutin Ida I Dewa Mas Blambangan masih merupakan keturunan Raja Blambangan yang jatuh sakit setelah dinobatkan menjadi raja.

Beliau menderita sakit yang tak kunjung sembuh selama lima tahun, melihat hal ini adik sang raja berinisiatif melakukan “dewasraya” di Merajan Agung yaitu melakukan yoga semadhi melalui seorang perantara (balian).

Kata-kata yang diucapkan oleh Jero Balian tersebut diyakini sebagai sabda pawisik (bisikan gaib) dari arwah leluhur mereka di tanah Blambangan yang menganut agama Islam.

Berdasarkan sabda pawisik tersebut kemudian oleh I Dewa Mas Bunutin dibangunlah sebuah Langgar di tengah-tengah areal pamerajan puri.

Tidak lama berselang, keajaiban pun terjadi, yakni penyakit yang diderita I Dewa Mas Blambangan berangsur-angsur sembuh dan akhirnya kembali sehat-walafiat.

Keberadaan Langgar inilah yang menyebabkan Pamerajan Agung Bunutin kemudian dikenal dengan nama Pura Langgar atau Pura Dalem Jawa.

Sejak itulah, keberadaan bangunan langgar ini dipelihara dan dirawat sampai sekarang oleh keturunan keluarga puri dan masyarakat Desa Bunutin.

Pada bangunan Langgar berbentuk segi empat, ada dua undakan dan empat pintu di bangunan yang dikenas sebagai Bale Agung.

Atapnya bertingkat dua. Dua tingkat atap dan undakan ini melambangkan syariat dan tarekat dalam Islam.

Namun dalam Bale Agung ini ditempatkan Palinggih Pendeta Sakti Wawu Rauh.

Sementara sisi utara Pura Langgar ini dikenal dengan bangunan kaler (kaja) yang berfungsi sama dengan Bale Agung.

Sisi timur pada pura ini ada bangunan Pura Pajenengan. Bangunan suci ini diyakini menjadi tempat leluhur yang sudah diupacarai secara Hindu. Upacara khusus di bangunan ini dilakukan saat tiba Pagerwesi.

Menariknya tiga bangunan tempat suci di Pura Langgar ini dipercaya memiliki kedekatan sejarah dengan leluhur pengempon Pura Langgar dari Blambangan yang beragama Islam.

Jika ada upacara biasanya sesajen di tiga bangunan suci ini tidak memakai daging babi karena diharamkan oleh umat Islam. Karena itu diganti dengan daging ayam maupun itik.

Sesajen yang menggunakan daging babi hanya boleh dipersembahkan pada bangunan suci yang berada di sisi selatan Pura Langgar.

Bangunan suci ini disebut Pura Dalem yang fungsinya sama dengan Pura Pajenengan di sisi timurnya.

Pada area jeroan yang biasa digunakan untuk bersembahyang umat Hindu, juga digunakan sembahyang untuk umat muslim, tetapi untuk peribadahan kedua agama ini tidak pernah berbarengan.

Untuk kedua umat tidak diperbolehkan memasuki bangunan Langgar/gedong suci tersebut, hanya orang suci atau pemangku Pura dan penglingsir Puri Bunutin saja yang bole masuk, itupun jika ada upacara. (*)

Editor : I Made Mertawan
#bali #bangli #hindu #Pura Langgar #islam