BALI EXPRESS - Kajeng Kliwon kerap dimaknai sebagai hari yang tenget dan sakral bagi umat Hindu di Bali.
Pada momen hari pertemuan antara Tri Wara Kajeng dan Panca Wara Kliwon ini umat Hindu kerap mempersembahkan segehan untuk para bhuta agar tidak mengganggu kehidupan manusia.
Akademisi UNHI Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, MS mengatakan, Kajeng Kliwon adalah hari yang tenget bagi umat Hindu di Bali.
Ada sejumlah alasan mengapa Kajeng Kliwon sangat tenget dan berdaya gaib. Berikut lima alasannya:
- Kajeng berarti Lanying
Secara etimologi, Kajeng Kliwon terdiri dari dua kata. Kajeng dan Kliwon. Kata kajeng dalam Bahasa Bali berarti lanying dan tajam.
Menurutnya, benda apapun yang ditancapkan di tanah saat hari Kajeng akan memilii efek lanying, tajam, lancip.
“Karena pengaruh dari Tri Wara yakni Pasah, Beteng dan Kajeng. Walaupun benda itu lancip, tetapi kalau tidak memiliki efek lanying, maka tidak akan memiliki efek jika tidak ditancapkan pada hari Kajeng” ujarnya.
Dikatakan Prof. Yudha, Kajeng uripnya 7 dan kliwon uripnya 8. Kalau digabung keduanya, maka uripnya 15. Energinya yang muncul pada pertemuan urip 7 dan 8 pun sangat besar.
Energi, sebut Yudha Triguna, sama dengan Kala. Dan bhuta kala ada meliputi unsur panca maha bhuta. “Apabila energy itu bersifat negatif, maka disebut dengan bhuta kala,” jelasnya.
Semua kekuatan atau energi tersebut memiliki dua sisi yang berbeda. Keduanya disimbolkan dengan warna hitam dan putih.
“Lalu apa Kajeng Kliwon itu? Ya bisa menyeimbangkan atau mengendalikan kedua energi itu adalah Sang Hyang Siwa. Oleh karena itulah, pada saat Kajeng Kliwon, Beliau (Siwa, Red) disebutkan melakukan yoga semadhi,” ungkapnya lagi.
- Momen untuk Melukat
Kajeng kliwon merupakan hari baik untuk melaksanakan ritual melukat. Sedangkan bagi yang mau belajar ilmu-ilmu kawisesan, kadigjayaan, maka kajeng kliwon adalah hari yang baik untuk memulainya.
Inilah yang menyebabkan, mengapa pada saat Kajeng Kliwon orang merasa takut. Bahkan, bagi orang yang belajar dan mendalami pawukon dan padewasan, maka akan mengetahui kalau Kajeng Kliwon itu sangat keramat. Karena penuh dengan kekuatan.
Dalam lontar Kala Maya Tattwa, keramatnya hari Kajeng Kliwon merupakan pengaruh dari pertemuan antara pertemuan Hari Kajeng dan Kliwon. Saat Kajeng adalah hari Prabhawa sang Hyang Durga Dewi. Sedangkan Kliwon adalah munculnya sang Hyang Siwa dengan kekuatan dharma.
“Munculnya kekuatan Siwa Durga atau Dharma Wisesa pada saat Kajeng Kliwon, menyebabkan hari kajeng kliwon saat yang tepat untuk memohon kesaktian. Kekuatan sidhi mandi, sidhi ucap, dan terutama menyucikan diri melaui panglukatan dan pabayuhan. Ini utamanya,” imbuh Guru Besar bidang Sosiologi Agama ini.
- Persembahkan Canang Wangi
Di dalam Lontar Sundari Gama disebutkan, ada lagi hari suci menurut perhitungan panca wara, Kliwon adalah hari Bhatara Siwa menggelar Semadhi. Umat manusia patut memohon tirta Gocara dengan mempersembahkan Canang Wangi di Sanggah Merajan dan di pelangkiran di atas tempat tidur.
“Sembari mengheningkan pikiran dan menyuguhkan segehan di halaman rumah, sanggah dan di jalan keluar masuk rumah, berupa nasi dua kepel dijadikan satu,” jelasnya.
Mantan Dirjen Bimas Hindu ketujuh ini mengatakan, Sarana tersebut dibuat menjadi tiga tanding (bagian) memakai lauk bawang jahe. Sesaji di halaman sanggah ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari. Sedangkan di halaman rumah dihatirkan pada Kala Bucari. Terakhir di jalan keluar masuk rumah (pintu gerbang) dihaturkan pada Durga Bucari.
“Ketiganya wajib diberikan sesaji saat Kliwon. Disertai permohonan untuk menjaga rumah beserta seluruh isinya, sehingga kita mendaoatkan keselamatan. Boleh mesehe misalnya: Ratu sang bhuta bucari, titiang ngaturang ajengan duang kepel dados siki, maulam bawang jahe lan medaging arak brem. Sampunang ngendahang titiang sareng keluarga,” beber Prof Yudha Triguna.
Sedangkan di dalam Lontar Sundari Gama, disebutkan pada hari Biantara, hari Kajeng Kliwon saat pelaksanaannya sama dengan hari Kilwon. Hanya saja ditambah dengan segehan lima warna atau manca warna. Sarana itu ditata dalam satu wadah.
“Yang membedakan jot-jotan Sesodaan pada saat Kliwon dan Kajeng Kliwon adalah pada segehannya yaitu manca warna. Ini adalah harmoni kehidupan manusia dengan alam bawah dan alam atas. Tempat mempersembahkan sesaji di keluar masuk rumah,” pesannya.
- Persembahan untuk Hyang Durga
Sesaji berupa canang lengewangi, burat wangi, canangyasa, canang gantal. Sarana itu dipersembahkan di atas dan ditujukan kepada Hyang Durga Dewi. Sesaji di bawah dihaturkan pada Sang Durga Bhucari, Kala Bucari dan Bhuta Bucari.
Pahalanya, penghuni rumah akan mendapat keselamatan dan kesempurnaan. Jika tidak membuat persembahan, maka ketiga bhuta akan memohon ijin kepada Bhatari Durga untuk mengganggu penghuni rumah.
Menciptakan penyakit dan mengundang guna-guna. Seperti desti, teluh, berbagai penyakit yang akan menimpa keluarga penghuni rumah.
“Banyak diantara kita acapkali lupa menggelar ritual ini. Padahal kita harus senantiasa membangun harmoni. baik dengan alam bawah, alam atas,” katanya lagi.
Secara simbolisasi, jika mengupas tentang Tri Wara, maka bisa dilihat aspek-aspeknya. Kalau berbicara tentang pasah, maka dewatanya Sang Hyang Cika, Tri Lokanya Bhur, dimensinya alam lingkungan. Susilanya perbuatan.
Pada dimensi kedua, tri wara, beteng waya, dewatanya Sang Hyang Wacika, tri lokanya Bhwah. Dimensinya sosial. “Hubungannya antar manusia. Jadi mebanten ya, jangan lupa bagaimaan menjaga harmoni dengan lingkungan, dengan tetangga kita, krama banjar. Dan susilanya adalah ucapan,” jelasnya.
Ketiga, Kajeng, Biantyara, Dewatanya Sang Hyang Manacika, tri lokanya Swah, dimensinya Tuhan, dewa dan susilanya pikiran. Jadi, kalau yang dilaksanakan oleh krama itu tentu bukan tanpa makna. Dia selalu bisa dihubungkan dengan pribadi dengan kualitas hidup. “Bhur, Bwah Swah, Pasah, Beteng dan Kajeng. Berkaitan dengan perbuatan, ucapan dan pikiran,” tuturnya.
- Erat dengan Mitologi Pancawara
Secara mitologis, pada hari kliwon bhatara Siwa terbunuh sebanyak delapan kali oleh Sang Kala Eka Dasa Bumi. Kemudian dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya. Sehingga kliwon memiliki urip delapan yang ditempatkan di tengah sebagai penjaga kesembangan penjuru mata angin.
Kajeng Kliwon merupakan pertemuan alam atas Swah Loka pada susunan vertikal dan pusat pada susunan horizontal. Maka dengan melakukan pemujaan dengan persembahan sesajen, sesuai dengan Lontar Sundarigama, mejaga kualitas pikiran, (manacika) agar tidak disusupi oleh pikiran pikiran jahat, karena kajeng dikuasai oleh Sang Hyang Mancika.
“Kesimpulannya, Kajeng Kliwon adalah hari baik dalam memuja Durga, sebagai sakti Siwa, dengan seluruh kekuatan magis, sehingga manusia dibebaskan dari pengaruh black Magik. Oleh karena itu, mari kembali menguatkan keyakinan, betapa hari kajeng Kliwon memiliki kekuatan gaib,” pungkasnya.
Editor : Nyoman Suarna