SINGARAJA, BALI EXPRESS - Ungkapan pirate tendas keleng atau pirate tendas teli mungkin sudah tidak asing di telinga orang Buleleng .
Memang terdengar kasar, namun ungkapan tersebut memiliki makna sendiri. Dalam tulisannya berjudul Makian Tertinggi Bahasa Bali: Pirata Tendas Teli/Keleng, Filolog Bali, Sugi Lanus menceritakan secara singkat.
Sugi Lanus menuturkan mengenai kisah Sang Bima yang pergi ke alam kematian.
Di alam itu Bima berjumpa berbagai roh pesakitan, atau disebut dengan pirata.
Saat berjalan-jalan di alam kematian Bima lantas dikejutkan oleh roh yang kepalanya dipenuhi oleh kelamin laki-laki.
Dalam bahasa Bali lantas disebut Pirata Tendas Keleng. Bima juga bertemu roh yang kepalanya dikelilingi alat kelamin wanita atau yang disebut Pirata Tendas Teli.
Sang Bima penasaran lalu menanyakan kepada penjaga neraka atas pemandangan yang dilihatnya.
Sang penjaga neraka lalu menjelaskan, manusia yang hidupnya hanya memikirkan kelamin atau doyan seksual semata, terutama doyan berselingkuh, atau menjadi ‘penjahat kelamin’ — suka berzinah, memaksa lawan jenis, serta melakukan tindakan tidak senonoh di luar kesadaran manusia berbudi — kalau mati maka rohnya akan terus dikejar-kejar kelamin.
Akhirnya kepalanya dihinggapi dan ditumbuhi oleh kelamin-kelamin yang terus dipikirkan selama masa hidupnya.
Mereka dikenal sebagai pirata tendas keleng (roh berkepala penis) atau pirata tendas teli (roh kepala vagina).
Kisah Bima traveling ke alam kematian ini dalam masyarakat Bali dikenal sebagai satua (cerita) Bima Swarga.
Satua Bima Swarga ini disebut sering dibawakan dalam pementasan pewayangan di Buleleng.
“Pesan moral yang sangat gamblang ini dipentaskan di depan publik bagaimana manusia mesti menjaga kelaminnya agar berfungsi secara proporsional dan tidak terjatuh menjadi “penjahat kelamin”, tulis Sugi dalam ulasannya di laman Hanacaraka Society.
Filosofi Pirata Tendas Keleng dan Pirata Tendas Teli Dalam Satua Bima Swarga ini banyak dijumpai di Pura Dalem.
Terutama pada ukirannya yang masih diselamatkan. Ukiran mengenai Pirata Tendas Keleng dan Pirata Tendas Teli salah satunya dapat dilihat di Pura Dalem Sangsit.
Ukiran ini ada di sebelah kanan pintu atau candi bentarnya.
“Saya belum kesampaian menyajikan foto pirata tendas teli. Ketika berkunjung ke sana biasanya senja hari. Kebanyakan ngobrol atau biasanya duduk di depan pura dan merenung. Lalu lupa sampai lupa senja menjelma malam. Terlupa mengambil foto karena terpukau relief ukiran pagar dan pelinggih pura ini,” jelas Sugi mengenai pendokumentasian Pirata Tendas Teli.
Dalam ulasannya itu Sugi menyebut Pirata Tendas Keleng dan Pirata Tendas Teli merupakan makian tertinggi dalam Bahasa Bali ala orang Buleleng.
Di bawahnya ada makian pirata kesasar — roh orang mati yang kesasar tanpa arah tujuan rohaniah.
“Jika orang yang jahatnya tiada terkira merusak orang lain dan dirinya, tidak peduli nama keluarganya, berselingkuh atau bermain perempuan/lelaki, tiada kapok berkubang dan berulang dalam perbuatan tidak baik dalam kehidupannya, terutama menjadi “penjahat kelamin”, dan berperilaku menjengkelkan tiada kepalang, maka orang Buleleng mengumpatnya sebagai penumadian pirata tendas teli/keleng,” begitu terang Sugi.
Dalam khazanah umpatan tertinggi bahasa Bali masyarakat Buleleng ini ada literatur atau referensi kisah alam kematian yang dilihat oleh Bima yang melatarinya.
Ada pesan moral dan etika dalam makian tertinggi ini.
Makian ini mendorong orang yang dimaki atau orang yang mendengar untuk menjadi eling atau sadar bahwa manusia mesti penuh kesadaran dalam mengurus kelamin, nafsu dan emosinya.
“Demikian juga makian penumadian (reinkarnasi) pirata kesasar mengandung pesan agar kita bertumbuh menjadi manusia yang waras, enteg (stabil secara emosi), hidup punya tujuan terus mengusahakan kesadaran dan kebaikan, bukan membiarkan diri kesasar tiada jelas juntrungan dalam menjalani kehidupan,” tulis Sugi Lanus mengakhiri ulasannya.
Editor : I Putu Suyatra