Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali; Majaga-jaga untuk Usir Aura Negatif di Areal Desa, Sarana Utama Sapi Jantan Sempurna

I Wayan Ananda Mustika Putra • Sabtu, 19 Agustus 2023 | 12:00 WIB

Warga Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kabupaten Klungkung, Bali antusias melaksanakan ritual tradisi caru Majaga-jaga, Selasa 15 Agustus 2023.
Warga Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kabupaten Klungkung, Bali antusias melaksanakan ritual tradisi caru Majaga-jaga, Selasa 15 Agustus 2023.
SEMARAPURA, BALI EXPRESS- Krama Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Klungkung, Bali setiap tahun melaksanakan tradisi unik, bertepatan pada tilem sasih karo. Tradisi tersebut dinamai Majaga-jaga.

Tradisi Majaga-jaga ini bertujuan untuk mengusir aura negatif di areal  desa dan juga sebagai penjaga keharmonisan masyarakat desa. 

Bendesa Adat Besang Kawan Tohjiwa I Nyoman Sulendra mengatakan, tradisi Majaga-jaga sudah dilakukan  turun-temurun.

Tradisi ini menggunakan sarana berupa seekor sapi jantan, tetapi harus dalam kedaan masih sempurna. Artinya, tidak ada bekas goresan di tubuh sapi. 

“Sapi itu tidak boleh ada bekas luka atau cacad sedikit pun.  Sapi tersebut harus bejenis kelamin laki-laki,” ujar Sulendra. 

Tradsi Majaga- jaga ini diawali dengan iring-iringan kober. Namun kober ini tidak seperti pada umumnya, melainkan terbuat dari dahan daun enau yang dihiasi bunga beludru.

“Bunga itu berwarna merah dan putih  melambangakan purusa dan predana,” jelas Sulendra.

Kemudian dengan mengarak sapi secara nyatur desa atau mengikuti empat arah mata angin. Ratusan warga khususnya kaum pria silih berganti mengarak sapi tersebut diiringi tabuh baleganjur. 

Pengarakan diawali dari jaba  Pura Puseh, kemudian menuju ke arah utara lalu ke arah selatan ke jaba Pura Dalem, kemudian diteruska ke arah barat menuju Pura Prajapati, dan terkhir di perempatan desa.

“Di setiap lokasi juga sudah dihaturkan canang yang nantinya sapi tersebut diupacarai sebelum ke lokasi lainnya,” paparnya. 

Sulendra  menyebutkan, saat sapi diarak oleh warga, sapi tersebut dipenggal menggunakan parang.

Parang yang digunakan pun bukan parang biasa. Melainkan senjata yang  dikeramatkan oleh warga Desa Besang Kawan Tohjiwa.

Baca Juga: Laporkan Oklin Fia ke Bareskrim Polri, Umi Pipik Ngaku Wakili Umat Muslim

Senjata  selama ini disimpan di Gedong Panyimpenan. Selain itu, orang yang menyempal sapi tersebut adalah pamangku . 

“Setelah sapi dipenggal, warga yang mengarak sapi akan mengambil darah sapi tersebut dan kemudian mengoleskannya di area kening maupun wajah,” ungkapnya.

 Sapi selanjutnya dipotong  menggunakan bambu runcing,  kemudian dagingnya diolah untuk keperluan sarana caru, dan sebagian dibagikan kepada warga sekitar.

“Warga akan membawa pulang sebagian daging sapi yang sudah dipong-potong untuk dimasak,” pungkasnya.(*)

 

Editor : I Made Mertawan
#tradisi bali #Besang Kawan Tohjiwa #klungkung #sapi jantan