Tradisi Majaga-jaga ini bertujuan untuk mengusir aura negatif di areal desa dan juga sebagai penjaga keharmonisan masyarakat desa.
Bendesa Adat Besang Kawan Tohjiwa I Nyoman Sulendra mengatakan, tradisi Majaga-jaga sudah dilakukan turun-temurun.
Tradisi ini menggunakan sarana berupa seekor sapi jantan, tetapi harus dalam kedaan masih sempurna. Artinya, tidak ada bekas goresan di tubuh sapi.
“Sapi itu tidak boleh ada bekas luka atau cacad sedikit pun. Sapi tersebut harus bejenis kelamin laki-laki,” ujar Sulendra.
Tradsi Majaga- jaga ini diawali dengan iring-iringan kober. Namun kober ini tidak seperti pada umumnya, melainkan terbuat dari dahan daun enau yang dihiasi bunga beludru.
“Bunga itu berwarna merah dan putih melambangakan purusa dan predana,” jelas Sulendra.
Kemudian dengan mengarak sapi secara nyatur desa atau mengikuti empat arah mata angin. Ratusan warga khususnya kaum pria silih berganti mengarak sapi tersebut diiringi tabuh baleganjur.
Pengarakan diawali dari jaba Pura Puseh, kemudian menuju ke arah utara lalu ke arah selatan ke jaba Pura Dalem, kemudian diteruska ke arah barat menuju Pura Prajapati, dan terkhir di perempatan desa.
“Di setiap lokasi juga sudah dihaturkan canang yang nantinya sapi tersebut diupacarai sebelum ke lokasi lainnya,” paparnya.
Sulendra menyebutkan, saat sapi diarak oleh warga, sapi tersebut dipenggal menggunakan parang.
Parang yang digunakan pun bukan parang biasa. Melainkan senjata yang dikeramatkan oleh warga Desa Besang Kawan Tohjiwa.
Baca Juga: Laporkan Oklin Fia ke Bareskrim Polri, Umi Pipik Ngaku Wakili Umat Muslim
Senjata selama ini disimpan di Gedong Panyimpenan. Selain itu, orang yang menyempal sapi tersebut adalah pamangku .
“Setelah sapi dipenggal, warga yang mengarak sapi akan mengambil darah sapi tersebut dan kemudian mengoleskannya di area kening maupun wajah,” ungkapnya.
Sapi selanjutnya dipotong menggunakan bambu runcing, kemudian dagingnya diolah untuk keperluan sarana caru, dan sebagian dibagikan kepada warga sekitar.
“Warga akan membawa pulang sebagian daging sapi yang sudah dipong-potong untuk dimasak,” pungkasnya.(*)
Editor : I Made Mertawan