BALI EXPRESS- Desa Adat Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, memiliki tarian sakral untuk mengiringi upacara di beberapa pura di desa setempat dan pura lainnya. Salah satunya Baris Goak.
Baris Goak yang menggunakan tombak ini memiliki mitologi yang diyakini sebagai sarana untuk menetralkan energi negatif. Tarian ini sangat disakralkan.
Sebab Tari Baris Goak menggunakan properti berupa tombak yang sudah diupacarai dengan banten pengresikan. Banten pengresikan bertujuan untuk menyucikan dan menghilangkan unsur-unsur kotor dari senjata tersebut, sehingga diyakini senjata tombak menjadi suci.
Kesakralan juga terlihat saat pemilihan penari Baris Goak yang dipilih oleh pamangku dan harus melalui proses upacara pembersihan diri untuk bisa menarikan Baris Goak.
Tari Baris Goak jumlahnya oleh 16 orang penari putra dengan 2 tokoh yaitu tokoh Ki Mangku Pucang dan tokoh pedagang.
Klian Adat Selulung I Wayan Karmawan mengatakan bahwa pementasan Tari Baris Goak ini hanya di dua pura yang ada di Desa Adat Selulung, yakni Pura Dalem Purwa dan Pura Dalem Selulung.
Selain itu juga biasa pentas di Pura Puncak Bukit Penulisan yang berada di wilayah Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani.
Munculnya tarian ini tidak terlepas dari tokoh Ki Mangku Pucang yang diyakini dalam mitologi warga setempat.
Konon, di Desa Adat Selulung ada seorang pemuka adat yang bernama Ki Mangku Pucang yang terkenal sangat dermawan dan bijaksana.
Pada hari tertentu Ki Mangku Pucang bergegas menuju ke kebun untuk melakukan kegiatannya sehari-hari yaitu matekap (membajak sawah) dengan menggunakan sapi betina yang akan ditanami padi dan jagung.
Pada saat Ki Manku Pucang sedang membajak sawah, tiba-tiba sapi yang dinaiki Ki Mangku Pucang tidak mau berjalan. Tidak bergerak sama sekali.
Berulang kali Ki Mangku Pucang memberi aba-aba untuk berjalan, namun tetap tidak mau. Melihat kondisi sapi seperti itu akhirnya Ki Mangku menjadi marah dan berteriak dengan kencang di Palinggih Paduwasan yang ada di kebunnya.
Setelah Ki Mangku Pucang berbicara seperti munculah sosok seorang manusia laki-laki dengan yang satunya perempuan.
Mereka berpakaian kotor dan sangat bau, rambutnya berantakan. Kemudian orang itu meminta agar Ki Mangku Pucang datang ke Besakih.
Ki Mangku Pucang bergegas pergi ke Besakih dengan diantar oleh kedua orang tersebut. Sesampainya sana, tiba-tiba kedua orang tersebut berubah menjadi ganteng dan cantik layaknya Bhatara Siwa dan Bhatari Uma yang ada di hadapannya.
Ki Mangku Pucang lantas duduk bersimpuh di hadapan beliau lalu Bhatara Siwa memberikan bhisama.
Konon, dalam bhisama itu Ki Mangku Pucang diminta pergi ke Tegal Badeng, karena desa di sana sudah diserbu oleh sekerumunan burung gagak. Ia pun diutus untuk mengalahkan semua gagak tersebut.
Ki Mangku Pucang pun dibekali senjata pecut. Bila diperjalanan menemukan kayu blibu bunga dikerumuni burung, di situ diminta melambaikan pecut agar terbukti kesaktiannya.
Setelah memberikan bhisama, Bhatara Siwa kembali ke jagat siwaloka dan Ki Mangku Pucang bergegas menuju jagat Tegal Badeng.
Kemudian terlihat kerumunan burung gagak yang dipimpin gagak putih sudah menyerbu kerajaan dan para pedagang tersebut. Melihat situasi saat itu lalu Ki Mangku Pucang menyerang gagak.
Ki Mangku Pucang sempat jatuh karena tidak menggunakan pecut yang diberikan Bhatara Siwa.
Burung gagak sempat senang melihat itu. Namun setelah Ki Mangku Pucang kembali menyerang dengan menggunakan pecutnya tersebut, akhirnya burung gagak semua yang dipimpin gagak putih akhirnya jatuh dan hampir mati.
Ki Mangku Pucang bergegas mau membunuh kerumunan gagak tersebut namun semua burung gagak meminta pada Ki Mangku Pucang agar semua gagak tidak dibunuh.
Ki Mangku Pucang yang memiliki sifat welas asih yang bergitu mendalam, akhirnya semua gagak tidak dibunuh, namun dengan perjanjian yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
Ki Mangku Pucang meminta agar gagak kembali ke asalnya dan tidak menggangu manusia di muka bumi, dan burung gagak menyetujui semua perjanjian itu.
Pada saat itu pula burung gagak pergi ke asalnya dan Ki Mangku Pucang bertemu dengan raja.
Raja Tegal Badeng sangat berterima kasih, dan bersamaan pada itu pula raja mengubah nama kerajaannya menjadi Kerajaan Pemecutan.
Karena diambil dari nama pecut yang mengalahkan gagak tersebut, dan akhirnya Ki Mangku Pucang kembali ke Batur.
Di Batur, Ki Mangku Pucang bertemu dengan Guru Gede Batur. Ki Mangku Pucang menceritakan segala yang dialaminya.
Guru Gede Batur menyuruh Ki Mangku Pucang untuk membuat tari yang konsepnya diambil dari cerita tersebut.
“Tujuannya adalah supaya nanti generasi bisa mengenang dan mengingat akan kesaktian pecut dan pentingnya rasa welas asih kepada sesama, sebelum membuat tarian Guru Gede Batur meminta kepada Ki Mangku Pucang untuk menghadap ke Penulisan untuk meminta kepada Guru Bayan agar bisa memberikan tirta untuk pemberian taksu pada penari,” papar Karmawan. (*)
Editor : I Made Mertawan