BALI EXPRESS- Tari Baris Goak masih dilestarikan oleh Desa Adat Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali.
Tari Baris Goak di Desa Adat Selulung ini menceritakan sosok Ki Mangku Pucang yang memiliki pecut sakti dan dipakai menaklukkan burung gagak.
Terdapat tiga bagian dalam pementasan sakral Baris Goak ini. Bagian pertama atau bagian Baris Gede yang menggunakan properti tombak. Tombak ini sudah disucikan oleh pamangku di desa setempat.
Pada bagian ini, penari pasti meneriakkan kata “puhh haaiyeee” dengan lantang. Teriakan ini, jika diperhatikan ucapan sering diucapkan oleh masyarakat Desa Selulung dalam keseharian saat mengusir atau menghalau binatang.
Klian Adat Selulung I Wayan Karmawan menjelaskan teriakan ini menjadi ungkapan rasa untuk mengusir sesuatu yang tidak diinginkan.
Termasuk kedatangan roh jahat yang mengganggu ketenangan dan ketentraman masyarakat Desa Selulung diusir dengan kata-kata itu.
Setelah bagian menggunakan tombak selesai, tongkat para penari diletakkan di tanah, lalu diambil oleh pamangku untuk diletakkan di depan gapura utama pura atau sering disebut dengan Kori Agung pura.
Bagian kedua, yaitu bagian Tari Goak yang ditarikan dalam formasi lingkaran. Tari Goak ini juga memiliki teriakan yang khas oleh penarinya, yaitu meneriakkan vokal “aaakkk” sebagai simbol kehadiran burung gagak yang mengganggu masyarakat desa.
Penari memainkan selendang panjang berwarna hitam yang dimaknai sebagai sayap burung gagak.
Segerombolan burung gagak ini akhirnya dapat ditenangkan dan dikalahkan dengan pecut yang dimiliki oleh tokoh Ki Mangku Pucang.
Setelah penggambaran kesaktian Ki Mangku Pucang, penari duduk bersila dan mulai prosesi penghaturan segehan agung panca warna siap selem.
“Segehan agung panca warna siap selem yang dihaturkan oleh pamangku dan tokoh Ki Mangku Pucang ini bermakna sebagai sarana netralisir bhuta kala atau roh jahat menjadi sesuatu yang baik, agar tidak menggangu prosesi upacara warga desa,” ungkap Karmawan.
Segehan agung adalah segehan yang dipergunakan 4 pada saat upacara piodalan untuk persembahan yang dihaturkan kepada bhuta kala atau kekuatan buruk agar tidak menggangu.
Warna segehan agung panca warna siap selem disesuaikan dengan warna simbolis dewa yang dihaturi segehan.
Segehan panca warna ini arah timur berupa nasi berwarna putih diperuntukkan untuk Dewa Iswara. Arah barat berupa nasi berwarna kuning diperuntukkan untuk Dewa Mahadewa, arah selatan berupa nasi berwarna merah diperuntukkan untuk Dewa Brahma.
Arah utara berupa nasi berwarna hitam diperuntukkan untuk Dewa Wisnu, dan di tengah-tengah atau pusat dari empat penjuru arah mata angin berupa nasi berwarna manca warna atau campuran keempat warna tari diperuntukkan untuk Dewa Siwa.
Bagian terakhir atau bagian ketiga, yaitu properti tombak kembali diberikan kepada para penari.
Penari kembali menarikan tari Baris Gede dengan menggunakan properti tombak.
“Kembalinya menari menarikan tari Baris Gede dimaknai sebagai simbol berhasilnya penetralisiran sifat bhuta atau sifat negatif yang dimiliki oleh Burung Gagak menjadi sifat dewa atau sifat yang lebih baik. Setelah adegan terakhir dari Baris selesai ditarikan di jaba tengah Pura, para penari kembali ke dalam jeroan pura,” tutupnya. (*)
Editor : I Made Mertawan