Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali; Bisa Terjadi Bencana bila Masyarakat Kediri Tabanan Tidak Ngerebeg saat Hari Raya Kuningan

IGA Kusuma Yoni • Minggu, 20 Agustus 2023 | 03:00 WIB
Pangelingsir Puri Kediri Anak Agung Ngurah Gede Sugiarta  menjelaskan soal tradisi Ngerebeg saat Hari Raya Kuningan.
Pangelingsir Puri Kediri Anak Agung Ngurah Gede Sugiarta menjelaskan soal tradisi Ngerebeg saat Hari Raya Kuningan.

TABANAN, BALI EXPRESS- Setiap perayaan Hari Raya Kuningan, masyarakat Kediri, Tabanan, Bali memiliki satu tradisi yang harus dilakukan. Tradisi itu dinamai Ngerebeg.

Bila Ngerebeg tidak dilaksanakan, diyakini bisa menyebabkan bencana. Salah satunya adalah mendatangkan wabah penyakit atau serangan hama pada tanaman padi. Seperti apa tradisi Ngerebeg ini?

Pengelingsir Puri Kediri Anak Agung Ngurah Gede Sugiarta menjelaskan tradisi Ngerebeg ini sangat erat kaitannya dengan kedatangan Rsi Markandeya  ke Pulau Bali yang dimulai dari ujung barat Pulau Bali, yakni di Pura Purancak. 

“Dari Pura Purancak ini, Rsi Markandeya, melanjutkan perjalanan ke arah timur melalui beberapa desa hingga sampai di daerah Tabanan. Di Tabanan beliau menemukan sebuah tempat di pesisir pantai selatan yang indah, berada di wilayah Desa Beraban,” jelas Sugiarta.

Di tempat tersebut  Rsi Markandeya mendirikan dua tempat pemujaan diberi nama Pura Tanah Lot dan Pura Pekendungan.

Pada saat itu, masyarakat Desa Beraban sedang mengalami musibah hama tanaman yang menyebabkan masyarakat mengalami kesusahan karena tidak memperoleh hasil pertanian.

Untuk mengatasi masalah tersebut Rsi Markandeya bertemu dengan Ki Bendesa Beraban (pemimpin Desa Beraban) dan memberikan sebuah keris sakti bernama Ki Baru Gajah.

Kemudian Rsi Markandeya melakukan doa dan pemujaan menggunakan keris Ki Baru Gajah yang tujuannya untuk mengusir hama tanaman pada lahan pertanian. 

Selain berdoa, keris Ki Baru Gajah ini juga harus diusung melewati lahan pertanian yang ada di kawasan Desa Beraban sampai ke Pura Pekendungan.

Sejak saat itu masyarakat melakukan upacara mengusir hama menggunakan sarana keris Ki Baru Gajah disebut ngrebeg. 

“Ini sesuai bisama Rsi Markandeya, upacara ini dilakukan secara berkesinambungan dari generasi ke generasi dan diyakini sebagai upaya untuk mengusir hama dan melestarikan sistem pertanian,” urainya.

Hingga saat ini, tradisi Ngerebeg dilakukan setiap 210 hari sekali, tepatnya pada hari Raya Kuningan.

Yang unik dari tradisi Ngerebeg ini dilanjutkan Sugiarta, adalah pratima yang digunakan adaah pelepah pohon enau. 

Selain merupakan tradisi, pelepah pohon enau ini diyakini bisa sebagai sarana mengusir wabah.

Adapun rute perjalanan dari Ngerebeg ini, mulai dari Puri Kediri, berjalan kaki menuju  menuju Pura Luhur Pakendungan yang berjarak  kurang lebih 11 kilometer. Sampai di Pura Pekendungan selanjutnya dilanjutkan dengan ritual masucian. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#tradisi bali #hari raya kuningan #Ngerebeg