Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik di Bali, Nyedaang Duwe di Tambakan Punya Tujuan Sangat Mulia

Dian Suryantini • Minggu, 20 Agustus 2023 | 19:08 WIB
Tradisi Nyedaang Duwe terdapat di Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng Bali.
Tradisi Nyedaang Duwe terdapat di Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng Bali.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Tradisi Nyedaang Duwe terdapat di Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng Bali.

Tradisi ini menggunakan banteng atau sapi Bali yang liar. Sehari sebelum dilakukan tradisi ini warga berburu sapi ke tengah hutan desa.

Sapi-sapi atau banteng-banteng itu tersebar di tengah hutan hingga ke perbatasan hutan Bangli. 

Tradisi Nyedaang Duwe biasanya dilakukan setiap Purnama Kasa. Banteng yang telah ditangkap itu lalu dibantai menggunakan tombak. Pemotongan sapi akan dilakukan pada pukul 06.00 wita. 

Sebelum dipotong, sapi akan dibantai oleh Jro Pider. Jro Pider sendiri adalah istilah lain untuk tukang jagal atau tukang tampah. 

Saat melakukan pembataian terhadap duwe-duwe itu, tidak boleh dilakukan oleh masyarakat biasa. Harus seseorang yang sudah disucikan atau mawinten.

Di Tambakan terdapat tiga orang yang khusus untuk membunuh banteng-banteng itu ketika akan digunakan kurban. Jro Pider itulah orangnya. 

“Saat melakukan upacara masyarakat tidak boleh motong sapi itu sembarangan. Harus prajurunya. Namanya Pider. Tukang tampahnya itu. Kalau selain itu nanti sisip. Bisa kebrebehan nanti. Upacaranya leteh, tidak lancar. Harus yang sudah mewinten. Sebanyak tiga orang pidernya. Alasannya pakai tumbak tidak boleh dipotong. Kalau untuk dewa harus ditumbak. Sampai mati,” kata Perbekel Desa Tambakan, Komang Nita, belum lama ini.

Tradisi Nyedaang Duwe ini pun dilakukan setiap dua tahun sekali. Tepatnya saat Purnamaning Kasa.

Saat dilakukan tradisi ini, masyarakat di Desa Tambakan tidak boleh melakukan upacara Pitra Yadnya seperti Ngaben selama satu tahun.

Jika rangkaian upacara tradisi telah usai, maka barulah masyarakat di desa setempat bisa melakukan upacara Ngaben. 

“Upacara ini setiap dua tahun sekali di Purnamaning kasa di Pura Prajapati. Sapi-sapi itu dipotong kemudian dagingnya dibagi-bagi kepada masyarakat. Upacara ini untuk kemakmuran desa. Kalau sudah melaksanakan upacara ini, tidak boleh ngaben selama setahun. Kalau purnama kasa itu sudah tutup baru boleh ngaben,” tambahnya.

Ditanya mengenai makna dari tradisi itu, Komang Nita mengatakan tradisi tersebut adalah simbol wujud kemakmuran dan keselamatan di Desa Tambakan. 

“Intinya ini untuk kesuburan dan keselamatan desa. Kepercayaan warga kami itu. Kalau sudah ini berjalan diharapkan semua mendapat keselamatan. Tanaman atau yang lainnya tumbuh subur di desa kami,” terangnya.

PULIHKAN PARIWISATA BALI: Wagub Cok Ace didampingi Bupati I Nengah Tamba, Sabtu (19/8/2023). (HUMAS PEMKAB JEMBRANA)
PULIHKAN PARIWISATA BALI: Wagub Cok Ace didampingi Bupati I Nengah Tamba, Sabtu (19/8/2023). (HUMAS PEMKAB JEMBRANA)
Editor : I Putu Suyatra
#bali #unik #tradisi #buleleng