BALI EXPRESS - Ada sebuah tarian sakral di kota Denpasar yang merupakan hasil akulturasi atau percampuran budaya Tionghoa dan Bali.
Tarian ini dinamakan tari Baris Cina. Tarian ini masih lestari dan tari kerap dipentaskan di beberapa pura di Bali.
Melansir situs resmi kota Denpasar, Tari Baris Cina tergolong ke dalam Tari Wali, yakni tari Bali yang dipentaskan saat ritual upacara Dewa Yadnya.
Tarian ini begitu disakralkan oleh warga penyungsungnya di Kelurahan Renon, tepatnya di Banjar Kelod, Renon.
Sebagai tarian sakral, Baris Cina hanya dipentaskan di Pura Baris Cina itu sendiri,di Pura-pura dalam lingkungan desa Pekraman Renon dan juga di Pura-pura terkait seperti Pura Blanjong di Sanur, Pura Petitenget di Kuta, Pura Sakenan serta beberapa Pura lain sesuai dengan petunjuk yang ada.
Salah satu peneliti tarian ini, Prof. Dr. I Wayan Rai mengungkapkan, salah satu alat musik pengiring Tari Baris Cina yakni Gong Beri, menurut masyarakat setempat, Gong tersebut dibawa oleh para leluhur mereka ketika pindah dari Blanjong menuju kawasan Renon.
Ketika itu Gong Beri hanya terdiri dari dua buah Gong yaitu Ber dan Bor.
Dalam penelitiannya, Wayan Rai mengemukakan bahwa Gong Beri, berasal dari daratan Cina.
Gong ini juga masih ditemukan di Thailand yang hingga kini digunakan dalam upacara perkawinan.
Demikian halnya dengan keberadaan Gong Beri di Renon, yang pada awalnya digunakan dalam pesta pernikahan.
Tarian Baris Cina tercipta ketika Gong Beri telah ditambahkan berbagai instrument lain, seperti kendang, tawa-tawa, ceng-ceng dan sebagainya, sehingga menjadi satu Barungan.
Gerakan tari baris Cina ini juga didominasi dengan gerakan pencak silat dan menggunakan gong beri.
Keberadaan tari baris Cina di Kota Denpasar sejatinya telah diteliti sejak tahun 1975. Meski demikian, belum ditemukan bukti pasti yang berkaitan dengan penciptaan tari satu ini.
Bahkan tahun penciptaannya pun masih belum diketahui.
Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh dari Pemangku Penyaringan Ida Ratu Tuan Baris Cina Ian Gong Beri, disebutkan bahwa ketika tari baris Cina dipentaskan, Ratu Tuan mengeluarkan ucapan seperti logat Cina yang sulit dimengerti.
Untuk itulah, tarian satu ini dinamakan tari baris Cina. Selain itu, disebutkan pula bahwa kostum dari penarinya juga sangat mirip dengan kostum yang biasa dipakai oleh pedagang Cina pada masa itu.
Tari ini erat dengan ritual para pepatih dan sadeg yang ngayah dengan matetuekan (menusukkan keris ke tubuhnya dalam keadaan kerasukan).
Orang-orang yang menjadi pepatih dan sadeg itu tidak dipilih atau ditunjuk oleh warna, melainkan dipilih oleh bhatara sesuhunan sebagai sebuah anugerah.
Tari baris Cina biasanya dipentaskan di hari piodalan atau hari penyimpanan, yang biasanya berlangsung pada hari ketiga.
Selain itu, tari baris Cina pun turut dipentaskan pada upacara Bhuta Yadnya yang ditampilkan di pura-pura atau pempatan Desa.
Tari baris Cina diyakini memiliki kekuatan magis yang dapat melindungi warga sekitar.
Beberapa atribut yang dipakai dalam tarian ini diantaranya.
- Pakaian Baris Selem
Pakaian yang digunakan oleh baris selem (baris hitam) terdiri dari baju kemeja lengan panjang dengan kerah model Cina berwarna hitam.
Lalu kain putih diikatkan di pinggang (slempot putih), topi berpinggiran agak lebar dengan warna hitam. Lalu pedang khusus untuk pemimpin baris selem, akan mengenakan celana panjang dan topi berwarna merah dengan jenggot palsu.
Sementara itu para penari tidak akan mengenakan sepatu.
- Pakaian Baris Putih
Pakaian yang digunakan oleh baris putih terdiri dari baju kemeja lengan panjang dengan kerah model Cina berwarna putih
Kain hitam diikatkan di pinggang (slempot hitam). Lalu topi berpinggiran agak lebar dengan warna putih.
Pedang khusus juga dipakai untuk pemimpin baris selem, akan mengenakan topi berwarna putih model Belanda dengan jenggot palsu berwarna senada.
Selain itu Para penari juga tidak akan mengenakan sepatu.
- Properti
Properti yang digunakan selama pertunjukkan Tari baris Cina adalah sebagai berikut.
Dua buah arca kuda, dua kober atau bendera, Kawis, Umbul-umbul, Tedung,
Sesajen berwarna hitam dan putih, Kurban anak ayam berwarna hitam dan putih
Bunga hitam yang diapit bunga putih
Editor : I Putu Suyatra