Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak Sekadar Pemanis Makanan, Gula Aren sebagai Sarana Upacara Yadnya Umat Hindu di Desa Pedawa Bali

I Putu Mardika • Rabu, 30 Agustus 2023 | 12:00 WIB
gula aren tak sekadar pemanis makanan bagi umat Hindu di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.
gula aren tak sekadar pemanis makanan bagi umat Hindu di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.

 

BALI EXPRESS- Gula aren (gula merah) bagi masyarakat Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, tidak sekadar komoditas yang diperjualbelikan.

Di Desa Pedawa, gula aren juga ikon desa setempat, dan memiliki peran vital sebagai sarana upacara masyarakat Hindu di sana, khususnya banten Gula Klapa.

Produksi gula aren Pedawa menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat Desa Pedawa. Gula aren dibuat dari bahan baku air nira dari pohon aren atau di Bali dikenal dengan jaka. Pohon jaka kini banyak ditemukan di Desa Pedawa.

Tokoh Adat Pedawa Wayan Sukrata, 67 menjelaskan, gula aren memiliki peran penting dalam kehidupan religi masyarakat Hindu di Pedawa. Sebab, menjadi sarana utama dalam bebantenan.

Salah satu banten yang wajib menggunakan gula aren adalah Banten Gula Klapa. Banten ini  terdiri dari gula aren, kelapa, beras, uang kepeng satak isi benang putih, ketan, injin (ketan hitam), sirih 7 pucuk diikat tali bambu, dan buah pinang 2 butir.

Banten Gula Klapa memiliki makna bang dan petak, yang artinya merah dan putih. Merah berarti keberanian, putih berarti kesucian.

“Merah juga melambangkan pradana (kewanitaan), sedangkan putih melambangkan purusa (pria),” jelas Sukrata.

Selain itu, gula aren Pedawa juga digunakan sebagai sarana banten daksina. Banten daksina di Pedawa sangatlah berbeda dengan di Bali pada umumnya.

Daksina umat Hindi di Bali pada umumnya terdiri dari wakul sebagai alas daksina, tapak dara, beras, porosan, kelapa, telur itik, pisang. tebu, kojong, tanceb gegantusan, benang tukelan, dan canang sari.

Namun daksina di Pedawa, tidak menggunakan telur itik. Melainkan gula aren yang dibungkus dengan kraras (daun pisang kering).

“Gula aren ini sebagai simbol dari kebijaksanaan leluhur orang Pedawa. Dalam Banten daksina ini, gula aren melambangkan hasil dari manisnya kebijaksanaan masyarakat Pedawa,” papar pensiunan Guru Agama ini.

Selain gula arennya, tuak aren juga menjadi sarana yang tidak boleh terabaikan dalam ritual masyarakat Hindu di Pedawa.

Tuak digunakan dalam upacara Bhuta Yadnya. Hampir sama dengan umat Hindu di Bali pada umumnya yang terbiasa mempergunakan unsur alkohol berupa arak berem.

Namun khusus untuk masyarakat Desa Pedawa, tabuhan arak berem tidak ada, tetapi yang digunakan adalah tuak nira yang harus berasal dari Pedawa.

Upacara yang wajib menggunakan tuak adalah upacara Ngeyéhin Karang yang tergolong Bhuta Yadnya.

“Ngeyehin karang menjadi ritual khas Pedawa. Sarana utama dari upacara ini adalah adanya sarana berupa tuak yeh (tuak dan air) yang digantungkan pada kedua sisi sanggah cukcuk,” kata Sukrata.

Begitu juga penggunaan tuak dalam Tradisi Saba Malunin yang berlangsung di Pura Desa Pedawa. Tradisi ini tergolong upacara besar. Karena dilaksanakan berdasarkan lelintihan nemu gelang di Pedawa.

Tuak aren ini dibawa dalam suatu gerak tarian yang ritmis dan magis dan dipersembahkan pula kepada Ida Bhatara yang bersthana Palinggih Patokan yang terdapat pada pura tersebut.

Ida Bhatara yang bersthana di Palinggih Patokan tersebut diyakini yang berkuasa atas taksu atau daya spiritual yang memberikan nilai, kekuatan, dan keberhasilan dalam setiap aktivitas sosial dan religius masyarakat Pedawa.

“Tuak sangat dibutuhkan dalam ritual di Pedawa. Namun tuak ini ahrus dihasilkan dari tanah pedawa, lalu dipersembahkan kepada Ida Bhatara sebagai simbol Syukur atas kesuburan tanah, kemakmuran sehingga masyarakat senantiasa sejahtera,” ungkap Sukrata. (*)

Editor : I Made Mertawan
#desa pedawa #bali #gula aren #hindu #Upacara yadnya