BALI EXPRESS - Dalam pementasan calonarang, biasanya tidak seru jika tidak ada ngundang leak. Hal itu pun menjadi sebuah sesuatu yang membuat penonton lebih semangat karena leak yang diundang ada di desa tersebut hingga di luar desa.
Pada pementasan calonarang itu, prosesi ngundang leak biasanya diisi pada bangke-bangkean dipentaskan.
Salah satu seniman calonarang, Dr. Komang Indra Wirawan, beberapa waktu lalu sempat menjelaskan dirinya sempat terjun sebagai juru undang leak dalam pementasan calonarang.
Pada setiap ngayah pementasan calonarang yang ia dilakukannya, selalu diisi dengan edukasi dengan ilmu keagamaan.
Juru undang akan memerankan tugasnya, tentu barengan dengan keluarnya watangan.
Watangan yang dimaksudkan, pemeran yang meninggal karena sakit. Berawal dari pementasan cerita rakyat pada calonarang.
Dikarenakan sakit yang dideritanya, diceritakan sakit terkena Desti Teranjana Aji Ugig (ilmu yang disalahgunakan).
Ngundang leak dilakukan sebagai daya tarik penonton. Terlebih dalam pementasan calonarang.
Sebab jika zaman sekarang tidak adanya juru undang, apa lagi watangan, maka tidak adanya daya tarik dari masyarakat yang akan menontonnya.
Disebutkannya terkait yang diundang leak dalam calonarang, yaitu yang ada di sekala dan niskala.
Yakni bhuta kala, bhuta bhuti, raksasa raksasi, dan leak desti ngelaran aji ugig (ilmu yang disalahgunakan).
Sebab jika ilmu yang disalahgunakan, terlebih untuk hal yang negatif. Ilmu tersebut tidak ada gunanya.
Sedangkan ngundang leak secara sekala, yakni dengan adanya media upakara berupa bebantenan tawas sari, tawas daun, segehan, dan lain sebagainya.
Dengan tujuan, agar mereka datang untuk diberi makan dan kembali ke bhuana agung (unsur alam semesta).
Editor : I Putu Suyatra