BALI EXPRESS- Yadnya pada umumnya berasal dari bahasa Sanskerta. Bersumber dari kata Yaj yang berarti pemujaan, persembahan dan pengorbanan.
Maka yadnya merupakan segala bentuk pemujaan atau persembahan maupun pengorbanan tulus ikhlas untuk tujuan mulia sesuai tingkatan yadnya.
Pada umumnya jika berbicara bisnis, yadnya sering sekali dianggap memberatkan umat Hindu di Bali. Padahal dalam pelaksanaannya dapat dilakukan sesuai tingkatan yang dibutuhkan.
Sesuai yang terdapat di dalam Kitab Artharwa Weda, dijelaskan bahwa yadnya merupakan satu pilar penyangga tegaknya kehidupan dunia ini.
Terdapat juga dasar atau latar belakang melaksanakan Yadnya adalah Tri Rna. Maka dari Tri Rna tersebut muncul Panca Yadnya.
Tri Rna terdiri dari, Dewa Rna muncul dari Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya. Dari Rsi Rna muncul Rsi Yadnya, sedangkan dari Pitra Rna muncul Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya.
Sedangkan dari waktu pelaksanaannya, yadnya dapat dibagi menjadi tiga. Terdiri dari tingkat nista, tingkat madya, dan tingkat utama.
Dari ketiga tingkatan itu pun dapat juga menjadi tiga bagian kembali. Mulai nista ning nista, nista ning madya, dan nista ning madya.
Berarti yadnya itu pada tingkatan terendah. Dalam terendah itu ada terendah dari terendah, terendah yang menengah, dan terendah yang utama. Begitu juga pada tingkatan madya maupun di tingkatan utama.
Supaya tingkatan yadnya tersebut dapat terlaksana lebih efisien, maka pelaksanaannya dapat berdasarkan sastra, yaitu berdasarkan weda.
Baca Juga: Raih Rekor MURI, Ketua MPR RI Apresiasi Eksistensi Galeri MURI Jaya Suprana
Berdasarkan sradha, yaitu yadnya harus dengan keyakinan. Lascarya, yaitu keikhlasan menjadi dasar utama Yadnya. Mantra, puja, dan gita, wajib ada Pandita dan Pinandita.
Nasmita atau tidak pamer, jangan sampai melaksanakan yadnya hanya untuk menunjukkan kesuksesan dan kekayaan. Sedangkan Anna Sewanam, yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat. (*)
Editor : I Made Mertawan