BALI EXPRESS - Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem memiliki ikon kain tenun gringsing yang disakralkan. Kain geringsing tersebut memiliki fungsi dalam aktivitas ritual di Tenganan.
Dari belasan motif kain gringsing, salah satu di antaranya adalah motif wayang kebo. Motif wayang kebo ini sangat sakral dan tidak bisa sembarangan digunakan.
Untuk diketahui, motif yang ada pada kain tenun gringsing diilhami oleh bentuk-bentuk binatang, pepohonan, rasi bintang, keindahan langit, candi hingga wayang.
Hal tersebut sesuai dengan sejarah adanya Desa Tenganan Pegringsingan dan tenun gringsing. Berikut nama motif kain tenun gringsing.
Kelian Adat Tenganan Pegringsingan, Putu Yudiana menjelaskan, motif kain tenun gringsing di antaranya wayang kebo, wayang putri, wayang candi, dingding ai atau batun cagi, cecempakan teteledan, talidandan, gringsing isi, gegonggangan, pepare, sitan pegat, cemplong, lubeng, sanan empeg, batun tuung, enjekan sampi dan dingding sigading
Di antara motif-motif kain tenun gringsing di atas, salah satu motif yang disakralkan oleh masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan adalah motif wayang kebo.
Kain gringsing wayang kebo masuk dalam kelompok kain tenun gringsing wayang yang terdiri dari gringsing wayang putri dan gringsing wayang candi.
Perbedaan ketiga jenis gringsing wayang ini terlihat dari segi motif maupun dari pandangan masyarakatnya.
Dari segi motifnya, kain tenun gringsing wayang putri tampak terlihat hanya ada wayang putri saja. Sedangkan kain tenun gringsing wayang candi tampak lebih dominan pada bangunan yang menyerupai pura atau candi. Sedangkan kain tenun gringsing wayang kebo motifnya lebih kompleks dan menarik.
“Tidak hanya dari segi motifnya, bagi masyarakat Tenganan Pegringsingan kain tenun gringsing wayang kebo adalah kain tenun yang sangat dihormati dan disakralkan,” kata Putu Yudiana.
Kesakralan kain tenun wayang kebo bukan tanpa alasan. Sebab, erat kaitannya dengan beberapa upacara adat yang mewajibkan para perempuan untuk mengenakan kain tersebut.
Bahkan, kain tenun gringsing wayang kebo termasuk kain berharga dan mahal bagi masyarakat Tenganan Pegringsingan. Sebab, proses pembuatan yang lama dan rumit.
“Dari proses pembuatannya, jenis kain ini membutuhkan waktu hingga lima tahun, karena kerumitan motif dan tekniknya. Bahkan seorang warga dianggap kaya raya jika memiliki lebih dari satu kain tenun gringsing wayang kebo,” jelasnya.
Sebab garganya mencapai 700 juta rupiah per kain. Oleh karena itu, masyarakat Tenganan tidak pernah menunjukkan kepada masyarakat umum bahwa dia memiliki kain tenun gringsing wayang kebo.
Kepemilikan kain tenun gringsing wayang kebo bersifat turun-temurun dari generasi nenek moyang. Ketika seorang ibu memiliki seorang putri, maka kain tenun gringsing wayang kebo yang dimiliki oleh ibu tersebut akan menjadi hak milik putrinya saat ibu tersebut sudah meninggal dunia.
Saat sang ibu belum meninggal dunia, meskipun anak gadisnya sudah berkeluarga, maka dia tidak berhak memiliki kain tenun gringsing wayang kebo milik sang ibu.
Sehingga dapat dikatakan bahwa kain tenun gringsing wayang kebo adalah warisan yang sangat berharga.
Masyarakat Tenganan Pegringsingan meyakini bahwa semakin tua usia kain tersebut, maka dia semakin bagus dan memiliki khasiat, baik untuk ritual adat, upacara persembahan maupun untuk menyembuhkan orang sakit.
Pemerintah Adat Desa Tenganan Pegringsingan melarang masyarakatnya memperjualbelikan kain tenun gringsing wayang kebo yang kuno.
Ketika seorang warga diketahui menjual kain tenun gringsing wayang kebo miliknya kepada warga desa lain, dia akan dikenakan hukuman adat.
Beberapa wisatawan asing pernah mencoba untuk membeli kain tenun gringsing wayang kebo milik seorang warga. Namun adanya peraturan adat yang membatasi dan juga ketaatan warga terhadap peraturan adat, maka dibuatlah replikanya untuk dijual.
Hingga saat ini, karena faktor ekonomi dan juga permintaan pasar, beberapa perajin kain tenun gringsing menerima permintaan kain tenun gringsing wayang kebo. Karena permintaan pasar yang banyak, proses pembuatan yang dahulu mencapai hingga lima tahun dengan beberapa ritual terlebih dahulu, sekarang dibuat lebih singkat yaitu paling lama sekitar 5 bulan.
Meskipun demikian, nilai estetis kain tenun gringsing wayang kebo tidak hilang. Sedangkan pembuatan kain tenun gringsing wayang kebo yang dikenakan untuk keperluan adat, tetap menggunakan beberapa ritual sebelum proses pembuatannya.
Dikatakan Putu Yudiana, kain tenun gringsing wayang kebo memiliki sejumlah fungsi. Pertama bisa digunakan untuk saput atau pelapis sarung pakaian adat. Dalam penggunaannya dua buah saput wajib disatukan menjadi satu lembar kain (mekembar) sehingga ukurannya menjadi lebih lebar.
Saput yang secara filosofis mengandung makna Rwa Bhineka memiliki dua ukuran yaitu 160 x 80 cm yang disebut dengan patlikur dan 180 x 100 cm yang disebut dengan petang dasa.
Kemudian fungsi selanjutnya adalah sebagai kalung yang sama maknanya sebagai selendang. Kain ini digunakan sebagai selendang para perempuan saat melakukan ritual tertentu.
Kain yang digunakan sebagai kalung adalah gringsing motif wayang, baik itu wayang kebo, wayang putri maupun wayang candi. Kalung pada umumnya berukuran sekitar 60 x 200 cm.
Selanjutnya geringsing wayang kebo juga difungsikan Anteng. Anteng adalah kain yang digunakan sebagai penutup dada wanita dalam mengikuti ritual tertentu.
Ada dua jenis anteng, di antaranya yaitu anteng cenik, pada umumnya berukuran sekitar 665 x 25 cm. Anteng cenik dapat juga disebut lamak jika digunakan sebagai hiasan dalam pakaian untuk tari rejang.
Berikutnya adalah anteng lumbang. Lumbang dalam bahasa Bali berarti lebar. Maka ukuran anteng lumbang dapat dikatakan lebih besar dari anteng biasanya. Pada umumnya motif dari anteng lumbang adalah patlikur isi, wayang putri dan wayang kebo.
Sabuk tubuhan, adalah tenunan panjang utuh yang digunakan oleh para pria dengan cara mengikatkan di pinggang sebagai pengikat saput dan sisa ikatan dilingkarkan di leher. Umumnya berukuran sekitar 20 x 200 cm.
Berdasarkan jenis produk yang dihasilkan, kain tenun gringsing wayang kebo berfungsi sebagai kalung dengan ukuran 60 x 200 cm.
“Masyarakat Tenganan Pegringsingan menyebutnya sebagai kalung karena hanya digunakan oleh kaum perempuan. Kalung adalah perhiasan yang hanya digunakan oleh perempuan,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna