BALI EXPRESS - Menurut kepercayaan masyarakat Tenganan Pegringsingan, kain gringsing wayang kebo merupakan kain tenun yang sarat akan makna. Kain tenun gringsing wayang kebo ini difungsikan sebagai alat untuk ritual atau upacara adat tertentu.
Kelian Adat Tenganan Putu Yudiana menjelaskan, sesuai dengan warna dasar kain yang cenderung gelap (hitam), masyarakat percaya bahwa kain jenis ini memiliki kekuatan magis sehingga digunakan dalam ritual keagamaan atau adat.
Selain itu juga dipercaya untuk menyembuhkan penyakit, menangkal pengaruh buruk dan menjaga keselamatan masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan.
Kain tenun gringsing wayang kebo merupakan salah satu pakaian adat yang harus dipakai pada saat upacara atau ritual tertentu, seperti upacara potong gigi, upacara pernikahan ataupun upacara keagamaan.
Hal tersebut agar upacara bisa berjalan lancar serta terhindar dari bahaya karena mendapat perlindungan dari Dewa Indra.
Di sisi lain, golongan Bendesa dalam upacara kematiannya selalu menggunakan kain tenun gringsing wayang kebo sebagai penutup jenazah.
Mereka meyakini bahwa kain tenun gringsing wayang kebo dapat menetralisir dosa-dosa dari orang yang meninggal.
Kain tenun gringsing wayang kebo juga digunakan pada saat Sasih Kasa. Pada Sasih Kasa terdapat upacara yang mementaskan tari rejang selama lima hari berturut-turut dan ditarikan oleh para perempuan yang menginjak dewasa atau biasa disebut dengan daha dan anak-anak.
Para daha menari beriringan mengitari tempat suci. Menariknya lagi, para penari wajib menggunakan kain tenun gringsing wayang kebo yang lebih dikenal dengan istilah nyandang kebo.
Baca Juga: Jelang Pemilu 2024, Pemerintah Komitmen Tingkatkan Pengamanan Siber dari Radikalisme
“Bagi masyarakat Tenganan Pegringsingan, tari rejang merupakan tari/pesta atas kembalinya para dewa ke kahyangan atas kemenangan Dewa Indra melawan Raja Mayadenawa. Dapat juga disebut sebagai wujud kebahagiaan atau kebanggaan atas kemenangan Dewa Indra,” ungkapnya.
Kain tenun gringsing wayang kebo juga digunakan pada Sasih Kalima, yaitu pada saat upacara Usabha Sambah (Upacara Besar).
Upacara pada Sasih Kalima yang menggunakan kain tenun gringsing wayang kebo adalah saat upacara Perang Pandan/Geret Pandan/Mekare-Kare. Pada saat ini para perempuan (gadis) wajib menggunakan kain tenun gringsing wayang kebo.
Penggunaan kain tenun gringsing wayang kebo pada saat upacara ini adalah sebagai simbol dukungan yang diberikan para gadis terhadap para petarung.
Selain itu, fungsi dari kain tenun gringsing wayang kebo adalah sebagai penolak bala dan dapat menyembuhkan penyakit.
“Kaitannya dengan upacara Perang Pandan adalah agar peserta yang kesakitan segera disembuhkan oleh para dewa,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna