TABANAN, BALI EXPRESS - Agama Hindu di Bali memiliki banyak keunikan dalam melaksanakan upacara keagamaan.
Seperti yang dilakukan oleh umat Hindu yang melakukan persembahyangan di Pura Dalem Kahyangan Alas Kedaton, Tabanan, Bali.
Tempat ini merupakan salah satu pura yang memiliki keunikan dalam melakukan persembahyangan bagi umat Hindu Bali.
Keunikan pertama yang ada di tempat ini adalah saat piodalan, tidak diperkenankan menggunakan dupa.
Sedangkan keunikan kedua yang juga tak boleh dilanggar adalah, ketika piodalan di Pura Alas Kedaton, dilarang melakukan pujawali dan persembahyangan hingga malam hari.
"Sehingga aktivitas persembahyangan dan pujawali hanya dilakukan sampai matahari terbenam saja, atau sebelum Sandikala," jelas Bendesa Adat Kukuh Marga I Gusti Ngurah Artha Wijaya Minggu (3/9).
Dresta tidak boleh melakukan persembahyangan hingga malam ini dijelaskan Artha, karena pada malam hari menurut keyakinan jika saat malam ada penghuni dari niskala yang sembahyang, sehingga untuk warga di alam nyata hanya sampai sore saja. Sedangkan pada malam hari, diberikan kepada penghuni Niskala untuk melakukan ritual.
Karena adanya keyakinan tersebut, maka aktivitas piodalan di Pura Dalem Kahyangan Alas Kedaton dimulai sejak pagi hari dan berakhir pada sore hari.
Semua kegiatan yang berkaitan dengan [iodalan dimulai pada pagi hari.
"Seperti Mepeed, yang diikuti oleh 11 Banjar di Desa Adat Kukuh dimulai pada siang hari secara bergiliran, sehingga ketika menjelang sore, ritual mengaturkan Banten dari 11 Banjar sudah selesai dan aktivitas dilanjutkan dengan kegiatan lainnya," lanjutnya.
Di akhir rangkaian Pujawali, dijelaskan Artha ditutup dengan tradisi Ngerebeg dilakukan oleh warga segala usia, dari anak-anak hingga dewasa, dengan cara mengitari area utama Pura Dalem Kahyangan Kedaton.
Ngerebeg ini adalah bermakna suka cita diluapkan dengan mengitari pura sebanyak tiga kali putaran sembari membawa lontek, tedung, hingga ranting-ranting kayu.
"Bersuka cita karena upacara piodalan sudah berlangsung dan selesai dan semuanya dalam keadaan selamat," tambahnya.
Sedangkan untuk penggunaan dupa, Artha mengatakan, secara logika, kawasan Alas Kedaton adalah hutan ada atap pelinggih dari ijuk sehingga tidak diperkenankan menggunakan dupa saat sembahyang ataupun dalam ritual pujawali.