BALI EXPRESS– Pura Luhur Uluwatu di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, kini menjadi perbincangan.
Itu karena tebing Pura Luhur Uluwatu sudah retak sejak lama. Namun hingga kini belum ada kepastian untuk perbaikannya.
Pura Luhur Uluwatu sendiri tidak sebatas tempat suci umat Hindu. Keberadaan pura di atas tebing ini juga menjadi daya tarik wisatawan. Sangat cocok untuk menikmati matahari terbenam.
Berikut sejarah singkat Pura Luhur Uluwatu, pura yang berdiri kokoh di batu karang yang menjorok ke tengah lautan dengan ketinggian kurang lebih 97 meter.
Dihimpun dari berbagai sumber, sejarah Pura Luhur Uluwatu ini berawal dari Danghyang Dwijendra diberi wahyu dari Tuhan pada hari itu juga beliau harus pergi ke surga.
Pendeta Hindu ini berasal dari Jawa Timur yang juga menjadi bagawanta (pendeta kerajaan) Gelgel pada masa keemasan Dalem Waturenggong sekitar 1460-1550.
Tepat di bawah ujung Pura Luhur Uluwatu, ada seorang nelayan bernama Ki Pasek Nambangan.
Danghyang Dwijendra meminta agar Ki Pasek Nambangan mau menyampaikan kepada anaknya, Empus Mas di Desa Mas bahwa Danghyang Dwijendra menaruh pusaka di Pura Uluwatu.
Selanjutnya Ki Pasek Nambangan pun memberikan sebuah permintaan dari Danghyang Dwijendra yang juga dikenal dengan Danghyang Nirarta.
Kemudian Ki Pasek Nambangan akhirnya pergi, sementara Danghyang Dwijendra melakukan tapa yoga semadi.
Hingga Maha Rsi pun akhirnya moksah (Pergi ke surga tanpa meninggalkan badan kasar).
Keberadaan Pura Luhur Uluwatu ini pun memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan beragama masyarakat Hindu di Bali.
Sementara piodalan di Pura Luhur Uluwatu, bertepatan pada Selasa Kliwon Wuku Medangsia yang digelar setiap 210 hari. (*)
Editor : I Made Mertawan