DENPASAR, BALI EXPRESS - Palinggih Surya Pengijeng adalah salah satu komponen penting dalam setiap pekarangan rumah tangga di Bali, selain dari Palinggih utama yang biasanya ada dalam area pamerajan atau sanggah.
Palinggih Surya Pengijeng ini memiliki peran unik yang membuatnya tidak terpengaruh saat ada upacara kematian di dalam rumah tangga tersebut.
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti menjelaskan bahwa Palinggih Surya Pengijeng adalah salah satu pengecualian yang tidak perlu diisolasi atau diberi penyengker saat ada upacara kematian dalam keluarga.
Palinggih Surya Pengijeng memiliki peran penting dalam upacara kematian karena menjadi pusat dari rumah tangga tersebut.
Oleh karena itu, saat memandikan jenazah, upacara biasanya dilakukan di depan Palinggih Surya Pengijeng.
Keberadaannya yang berada di tengah pekarangan rumah juga melambangkan stana Ida Sang Hyang Surya Raditya, yang berfungsi untuk menjaga pekarangan tersebut.
Hal ini memberikan perlindungan spiritual selama upacara pemakaman dan memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan dengan lancar dengan bantuan Ida Sang Hyang Surya Raditia sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam konsep sebuah keluarga di Bali, selain satu keluarga harus memiliki rumah tinggal dan dapur, sebuah keluarga Hindu di Bali juga harus memiliki sebuah tempat pemujaan yang dikenal dengan nama Sanggah atau Pamerajan.
Sebagai sebagai tempat pemujaan para Leluhur, ternyata Sanggah atau Pamerajan yang ada dalam sebuah keluarga di Bali juga harus memiliki Palinggih yang disesuaikan dengan fungsinya masing-masing.
Jika dilihat dari fungsinya tersebut, menurut Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, Palinggih yang ada di Sanggah atau Pamerajan tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis.
“Adapun ketiga jenis palinggih ini adalah Palinggih Pokok, Palinggih Padma dan Palinggih Penyawangan,” jelasnya.
Meskipun dikelompokkan menjadi tiga jenis, namun dikatakan Ida Rsi, ketiga kelompok Palinggih tersebut tempatnya berada dalam satu areal Sanggah atau mrajan yakni di Utama Mandala Sanggah atau Mrajan. Selain itu dikatakan Ida Rsi, ada beberapa palinggih yang juga ditempatkan di luar areal Pemeranjan namun masih tetap di pekarangan perumahan.
Palinggih pokok ini merupakan palinggih yang utama dan berkaitan langsung dengan Sanggah atau Pamerajan di perumahan tersebut.
Adapun fungsi dari palinggih utama ini adalah untuk memuja Leluhur serta yang berhubungan dengan Leluhur.
Adapun palinggih pokok di Pamerajan pokok yang ada di masing-masing Sanggah atau Pamerajan adalah Palinggih Kemulan, Palinggih Taksu, Palinggih Panglurah.
Sedangkan untuk Sanggah atau Mrajan Gede, selain palinggih Kemulan Taksu dan Palinggih Anglurah, pada Sanggah atau mrajan Gede terdapat beberapa palinggih tambahan yakni palinggih pertiwi, palinggih Catu Meres dan Palinggih Manjangan Seluwang.
Sementara untuk pura Panti atau Paibon, susunan palinggih utamanya hampir sama dengan palinggih pada Sanggah atau Pamerajan Gede, namun selain palinggih Kemulan, Taksu dan Panglurah juga terdapat beberapa palinggih pokok lainnya, seperti palinggih gedong Pertiwi, palinggih Catu Meres dan Palinggih Manjangan Seluwang.
Selain palinggiht ersebut, di areal Pamerajan ini juga terdapat palinggih lain, yakni Palinggih Padma fungsi dari palinggih Padma ini adalah untuk menstanakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. PalinggihPadma tersebut merupakan bagian tersendiri.
“Dan tidak semua Pamerajan memiliki pelinggih ini. Karena sifat dari palinggih padma ini bukanlah palinggih utama, sehingga setiap merajan tidak wajib untuk memilikinya,” paparnya.
Selain itu juga terdapat palinggih Penyawangan, fungsi dari palinggih Penyawangan ini dikatakan Ida Rsi adalah untuk ngubeng atau sebagai perantara pemujaan kepada para Dewa atau Bhatara-Bhatari yang melinggih (berstana) di pura atau tempat lain yang letaknya agak jauh. Misalnya penyawangan ke pura Besakih atau Gunung Agung, penyawangan ke Pura Batur atau Gunung Batur.
Adanya palinggih penyawangan ini, dikatakan Ida Rsi karena pada masa lalu tidak semua masyarakat bias sembahyang ke pura Besakih ataupun Pura Batur dengan mudah.
Selain karena faktor jarak yang jauh, untuk tangkil atau bersembahyang ke Pura Besakih diperlukan persiapan yang cukup panjang.
Selain berfungsi sebagai penyawangan untuk Ida Bhatara-Bhatari yang ada di pura-pura tertentu, Palinggih Penyawangan ini dijelaskan Ida Rsi juga berfungsi sebagai tempat untuk ngubeng Ida Bhatara-Bhatari yang berasal dari Pamerajan Gede atau Pura Paibon dari keluarga pemilik pemeajan tersebut.
Biasanya keluarga yang memiliki palinggih pengubeng ini, menurut Ida Rsi adalah keluarga yang tinggal jauh dari keluarga inti tersebut.
“Karena mereka tinggal jauh, maka mereka membuat pelinggih penyawangan ini, sehingga mereka bisa tetap memuja leluhurnya meskipun berada dalam jarak yang jauh dari rumah Tua nya,” tambahnya.
Selain Palinggih tersebut, terdapat juga Palinggih yang berada di luar merajan, seperti Peliggih Surya Pengijeng yang terletak di tengah pekarangan menghadap ke barat, Tugu Penunggun Karang yang biasanya berada di barat daya, dan Palinggih Pengadang-adang yang ada di luar perumahan dan biasanya disebut sebagai Palinggih Lebuh.
Pengelompokan Palinggih ini membantu memahami fungsi-fungsi yang beragam dan tatanan upacara piodalan di sebuah Mrajan atau Sanggah, mulai dari Pamerajan Paumahan hingga Pamerajan Paibon atau Pura Panti.
Editor : I Putu Suyatra