Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Puncak Penulisan, Kintamani: Diperkirakan Dibangun Tahun 300 Masehi, Ada Tujuh Tingkat

I Putu Mardika • Rabu, 13 September 2023 | 13:35 WIB
Pura Puncak Penulisan Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Bangli, adalah salah satu tempat suci umat Hindu di Bali yang diperkirakan dibangun tahun 300 masehi.
Pura Puncak Penulisan Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Bangli, adalah salah satu tempat suci umat Hindu di Bali yang diperkirakan dibangun tahun 300 masehi.

BALI EXPRESS - Pura Puncak Penulisan yang terletak di Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, dikenal sebagai tempat suci umat Hindu yang masih menyimpan peninggalan megalitikum.

Tempat suci ini juga memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali dengan sebutan Gebog Domas yang jumlah penyungsung hampir 30 desa adat di wilayah Kintamani.

Tidak sulit untuk menjangkau pura ini, karena posisinya persis di pinggir ruas jalan Kintamani Kubutambahan. Jika dari Denpasar, pura ini bisa ditempuh dengan waktu sekitar 1,5 jam baik kendaraan roda empat maupun roda dua.

Karena berada di areal pegunungan, tentu Pura Puncak Penulisan memiliki hawa yang sejuk dan hening.

Sangat cocok dijadikan tempat untuk melaksanakan ritual tapa brata semadi serta meningkatkan kualitas spiritual.

Lokasi Pura Puncak Penulisan berada di atas ketinggian Gunung Batur dan Danau Batur. Berada pada letak ketinggian 1.745 meter berada di atas permukaan laut.

Karena berada di ketinggian inilah membuat areal pura ini disuguhi pemandangan yang menarik dengan suasana alam yang sejuk, dan asri.

Pura yang merupakan peninggalan bercorak Bali asli ini memiliki nilai agama, budaya dan sejarah yang tinggi.

Pura Puncak Penulisan terdiri dari 5 buah komplek pura, yaitu Pura Dana, Pura Taman Dana, Pura Ratu Penyarikan, Puri Daha dan Pura Panarajon.

Selain disebut Pura Puncak Penulisan, Pura ini sering juga disebut dengan Pura Tegeh atau Pura Pamojan.

Ketua Pengurus Pura Puncak Penulisan, Wayan Jasa
Ketua Pengurus Pura Puncak Penulisan, Wayan Jasa

Namun, secara fungsi masih sama sebagai tempat untuk melakukan pemujaan terhadap Dewa Siwa.

Ketua Pengurus Pura Puncak Penulisan, Wayan Jasa menjelaskan pura ini sebagai peninggalan raja-raja bali kuna yang statusnya sebagai tempat pemujaan roh leluhur para raja yang pernah berkuasa di Bali.

“Ini peradaban peminggalan Sejarah Bali Kuna, yang sekiranya sudah berdiri sejak abad ke-8. Kalau siapa dan kapan pastinya didirikan, ini masih menjadi teka-teki yang hingga kini belum terjawab,” jelasnya.

Namun, jika merujuk dari hasil penelitian arkeologi, disebutkan jika pura ini diperkirakan mulai dibangun pada tahun 300 Masehi (zaman perunggu) dan dilanjutkan pada abad ke-10 sampai berakhirnya kekuasaan Majapahit tahun 1343 Masehi.

Bukti yang menguatkan jika pura ini dibangun era Bali Kuna adalah bentuk bangunan pura ini menerapkan dua konsep.

Konsep pertama diambil dari masa prasejarah ditinjau dari struktur bangunan yang bertingkat. Konsep kedua berupa pembangunan pura yang mencapai 7 tingkat dengan tingkat pertama dan kedua dihubungkan dengan tangga.

Pada tingkat ke tiga terdapat Pura Dana dan Pura Taman Dana. Pada tingkat ke empat terdapat Pura Ratu Penyarikan.

Sedangkan di tingkat ke enam terdapat Pura Ratu Dahatua, dan terakhir di puncak ke tujuh terdapat Pura Pelinggih tempat pemujaan Pengaruman, Piyasan dan Gedong sebagai tempat menyimpan benda-benda purbakala.

Penempatan areal mandala pada Pura Tegeh Kahuripan, terdiri dari beberapa bagian. Pada areal madya mandala terdapat 2 buah pura, yakni Pura Ratu Gede Penyarikan yang difungsikan sebagai tempat untuk meminta izin memasuki areal utama mandala yang terletak pada sebelah kanan dan Pura Detua yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan sarana upakara yang diletakkan pada sebelah kiri.

Pada areal utama mandala terdapat 2 pelinggih utama berupa Gedong Puser Tasik dan Gedong Cemeng. Gedong tersebut digunakan untuk menyimpan arca-arca yang dikeramatkan. Pada salah satu pelinggih utama terdapat sumur yang dipergunakan sebagai sumber tirta.

Dari sistem penempatan bangunannya, sebagian besar pura menghadap ke arah selatan, kecuali pura utama yang menghadap ke arah barat yang mengadopsikan dua konsep.

Konsep pertama, merefleksikan bangunan pada masa megalitik yang nampak pada wujud bangunan teras piramida bertingkat (Konsep Gunung Suci).

Konsep kedua berupa konsep Sapta Loka yang ditinjau dari bentuk bangunan pura yang bertingkat tujuh dimana setiap tingkat (teras) dihubungkan dengan tangga.

Pada tingkat ketiga (Swah Loka) terdapat dua palinggih kecil yang disebut Pura Dana dan Pura Taman Dana.

Pada tingkat selanjutnya (Maya Loka) dapat ditemukan Pura Ratu Penyarikan (di sebelah Timur jalan). Sementara pemujaan keluarga Dadya Bujangga dapat ditemukan di sebelah Barat.

Arca sakral bagi umat Hindu di Pura Puncak Penulisan Desa Sukawana, Kintamani Bangli, Bali yang merupakan peninggalan megalitikum.
Arca sakral bagi umat Hindu di Pura Puncak Penulisan Desa Sukawana, Kintamani Bangli, Bali yang merupakan peninggalan megalitikum.

Pada tingkat keenam (Tapa Loka) terdapat Pura Ratu Daha Tua.

Di tingkat ketujuh (Sunya Loka) yang merupakan puncak Pura Penulisan terdapat bangunan pelinggih Pangaruman, Piyasan, serta Gedong yang berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda peninggalan purbakala.

Keyakinan ini juga didasarkan pada adanya temuan berupa beberapa prasasti yang memiliki hubungan dengan tata perikehidupan Bali pada masa itu, yaitu sebuah prasasti yang berangka tahun 999 Saka (1077 M) dan tahun 1352 Saka (1436 M).

Ada pula prasasti bertahun 933 Saka (1026 M) yang dipahat oleh Mpu Bga Anatah. Ada pula arca wanita berdiri yang terbuat dari batu padas setinggi 154 cm.

Pada bagian belakang sandaran arca terpahat huruf Kadiri Kuadarat bertuliskan Batari Mandul dan angka tahun 999 Saka (1077 M).

Prasasti ini dikategorikan masuk pada periode Bali Kuno (abad ke-11).

Selain dari pada itu, ditemukan pula sebuah arca yang diperkirakan berasal dari masa Bali Madya (abad ke-13) berupa arca laki-laki berdiri dengan sikap tangan kanan dijulurkan ke bawah sejajar badan dan tangan kiri ditekuk ke depan.

Temuan lain dari masa Bali Madya adalah arca perwujudan Dewa Brahma, dengan atribut Empat Muka, atau Caturmuka.

Di bagian paling atas Pura Puncak Panulisan, ditemukan juga arca Dewa Ganesa yang bercirikan berkepala gajah, berbadan manusia, dan bertangan empat yang juga dikategorikan dalam masa Bali Madya.

Photo
Photo
Editor : I Putu Suyatra
#puncak penulisan #bali #Kintamani #bangli #hindu #pura