TABANAN, BALI EXPRESS - Tak jauh dari keajaiban Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali, terdapat Goa Air Suci yang menjadi tempat sakral bagi umat Hindu di Bali.
Dengan kedalaman mencapai lima meter, goa ini jarang diketahui bahkan oleh umat Hindu di Bali.
Saat memasuki tempat ini, Goa Air Suci menawarkan pemandangan yang memukau di sekelilingnya.
Disebut 'Air Suci' karena katanya goa ini bisa mengalirkan air suci dari tengah laut.
Di dalam goa ini terdapat sebuah patung dengan tinggi lebih kurang setengah meter berwujud Ida Pedanda Danghyang Dwijendra.
Sosok ini merupakan seorang pendeta yang tengah melakukan pemujaan di lokasi ini. Di dalam goa setiap pengunjung bisa meminum air suci tersebut atau sekadar membasuh tangan dan wajah yang konon banyak manfaatnya.
Salah satunya diyakini bahwa air suci ini bisa menyembuhkan beberapa penyakit yang tengah diderita.
Atau bahkan bagi mereka yang ingin punya anak, dengan meminum air suci di goa ini dipercaya bisa diberikan anak.
“Karena itu pula disebut dengan air kesuburan. Maka itu, banyak pengunjung yang datang ke goa ini hanya untuk meminta air suci tersebut untuk menyembuhkan penyakit atau sekadar memiliki keturunan,” kata Pemangku Pura Tanah Lot, Jro Mangku Darma.
Setiap pengunjung yang datang di Goa Air Suci tidak akan dipungut biaya, hanya saja terdapat sebuah kotak donasi bilamana ada pengunjung yang berkeinginan menyumbang secara sukarela untuk pemeliharaan tempat ini.
Selain itu terdapat satu benda peninggalan Danghyang Nirartha yang dihadiahkan untuk masyarakat Desa Beraban.
Sebelum beliau meninggalkan pertapaan, Danghyang Nirartha memberikan sebuah keris kepada Bendesa Beraban.
Keris tersebut memiliki kekuatan untuk menghilangkan segala penyakit yang menyerang tanaman. Keris tersebut disimpan di Puri Kediri dan dibuatkan upacara keagamaan di Pura Tanah Lot setiap enam bulan sekali.
“Semenjak hal ini rutin dilakukan oleh penduduk desa Beraban, kesejahteraan penduduk sangat meningkat pesat, dengan hasil panen pertanian yang melimpah dan kehidupan masyarakat petani tampak berkecukupan,” katanya.
Pura Tanah Lot, Keindahan dan Sejarah yang Menggoda
Pura Tanah Lot, salah satu Dang Kahyangan bagi umat Hindu di Bali, adalah sebuah tempat suci yang menghiasi Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.
Tempat ini tidak hanya memiliki nilai keagamaan yang mendalam tetapi juga telah menjadi salah satu tujuan wisata paling populer di Bali.
Keunikan Pura Tanah Lot terletak pada posisinya yang menakjubkan di atas batu karang yang menjulang di tengah laut, memberikan pemandangan eksotis yang tak terlupakan, terutama saat air laut pasang.
Keelokan ini telah menjadikan Pura Tanah Lot terkenal di seluruh dunia, bahkan sebagai ikon Pulau Dewata dengan matahari terbenam yang menakjubkan di sore hari.
Namun, di balik keindahannya, Pura Tanah Lot menyimpan sejarah panjang yang terkait erat dengan perjalanan rohaniwan bernama Maha Rsi Dang Hyang Nirartha.
Pada tahun 1489 Masehi, saat perjalanan dari Jawa ke Bali, Dang Hyang Nirartha beristirahat hanya satu malam di lokasi ini.
Selama waktu singkat itu, dia berusaha menyebarkan pengetahuan keagamaan kepada masyarakat setempat, meskipun menghadapi penolakan dan kesalahpahaman.
Konflik muncul karena pergeseran dalam kepercayaan masyarakat, yang mulai lebih memilih ajaran Sang Brahmana daripada sang Bendesa. Dalam upaya untuk membuktikan keagungannya, Dang Hyang Nirartha menggunakan kesaktiannya untuk memindahkan batu besar ke arah pantai, beberapa meter dari lokasi asalnya.
Tindakan ini akhirnya memenangkan hati masyarakat, menguatkan kepercayaan mayoritas warga Bali pada ajaran agama Hindu, dan mengukuhkan misinya untuk menyebarkan pengetahuan agama Hindu dalam masyarakat yang sebelumnya dipengaruhi oleh ajaran Animisme.
Sejak saat itu, batu besar di tepi pantai tersebut dijadikan tempat bersemedi dan berlatih rohani, menerima masyarakat yang ingin belajar.
Setiap 210 hari atau enam bulan sekali, pujawali di Pura Tanah Lot dilakukan dengan penuh kekhidmatan, menarik masyarakat Hindu dari seluruh Bali untuk melakukan persembahyangan demi keselamatan dan kesejahteraan.
Sebelum memasuki pura utama, mereka bersembahyang di Beji Kaler, mata air suci yang berada di bawah Pura Tanah Lot, meminum dan membasuh wajah mereka dengan air suci dari mata air ini untuk membersihkan jiwa dan pikiran mereka.
Upacara ini berlangsung selama tiga hari, menghidupkan kembali tradisi agama Hindu dan menambah pesona mistis Pura Tanah Lot di tengah pesona alamnya yang memuka
Editor : I Putu Suyatra