BALI EXPRESS - Bagi umat Hindu di Bali, terutama wanita yang akan pergi ke pura untuk melakukan persembahyangan atau kegiatan lainnya, terdapat beberapa pantangan yang harus diikuti.
Selain pantangan bagi mereka yang menstruasi, tata cara berpakaian wanita Hindu di Bali juga menjadi perhatian khusus untuk menjaga kesucian pura, baik dalam dunia nyata maupun spiritual.
Luh Sonia Candra Juwita, seorang Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, menjelaskan mengapa rambut wanita tidak boleh terurai saat berkunjung ke pura.
Menurutnya, menjaga kesucian pura bukanlah hal yang mudah di tengah arus globalisasi, di mana masih ada banyak peraturan tak tertulis yang bisa saja diabaikan oleh umat atau warga yang akan beribadah di pura.
"Salah satunya adalah aturan untuk tidak menguraikan rambut bagi kaum wanita saat memasuki area pura atau tempat suci. Kisah tentang wanita dan rambut yang terurai dalam Agama Hindu memiliki sejarah panjang yang berasal dari salah satu dari dua epos besar yang tetap relevan hingga saat ini, yaitu Mahabharata," terangnya pada Minggu (17/9).
Saat menjelaskan lebih lanjut, Luh Sonia Candra Juwita menyebut insiden ketika Drupadi diseret oleh Dursasana dengan cara menarik rambutnya sebagai contoh.
Drupadi juga berusaha dihinakan dengan dilepaskan pakaian sebagai budak taruhan yang baru saja mereka menangkan.
Potret tragis Drupadi yang merasa bahwa hak-haknya telah diinjak-injak, dan dia dihinakan oleh iblis di depan suaminya yang hanya bisa diam, telah menjadi simbol penderitaan perempuan yang terkenal sepanjang sejarah.
Kisah ini telah diulas berulang kali dalam berbagai bentuk ulasan, kritik, dan karya sastra, mempresentasikan beragam sudut pandang, mulai dari perempuan yang pasrah hingga perempuan yang memberontak.
Namun, satu hal dalam cerita Mahabharata yang tak terlupakan adalah sumpah yang diucapkan oleh Drupadi, yaitu bahwa ia tidak akan menyisir, memotong, atau mengikat rambutnya sebelum rambutnya dibasuh oleh darah Dursasana.
"Meskipun pada akhirnya sumpah itu terlaksana, wanita dengan rambut tergerai dalam masyarakat Hindu tetap dipandang sebagai simbol kemarahan, kebencian, dan dendam," jelas Sonia, yang merupakan alumni Penerangan Agama Hindu IHDN Denpasar.
Dengan memahami latar belakang dan makna ini, wanita Hindu yang mengunjungi pura diwajibkan untuk menjaga tatanan rambut mereka saat beribadah.
Editor : I Putu Suyatra