BALI EXPRESS- Bagi umat Hindu di Bali, kelahiran bayi adalah momen istimewa yang dihormati dengan ritual khusus. Upacara bayi baru lahir bukan hanya merayakan kehidupan baru, tetapi juga menghubungkan dunia fisik dengan spiritualitas Hindu yang kaya makna.
Artikel ini akan membahas secara mendalam pengertian dan tujuan dari upacara ini, serta langkah-langkah unik yang terlibat dalam perayaan ini, mengungkapkan esensi spiritual dari tradisi ini.
Menurut ajaran Hindu, bayi baru lahir dianggap sebagai roh yang telah memasuki wadah fisik baru. Mereka percaya dalam konsep reinkarnasi, di mana jiwa mengalami berbagai kehidupan untuk mencapai tujuan akhir, yakni moksha atau pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian.
Bayi baru lahir juga dianggap membawa samskara, yaitu jejak dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang membentuk karakter dan nasib individu.
Kelahiran adalah kesempatan untuk memperbaiki karma, yaitu hasil dari tindakan dalam kehidupan sebelumnya, dan untuk mengembangkan kualitas-kualitas positif yang diperlukan untuk mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
Dijelaskan dalam Garbha Upanisad artinya penjelasan tentang proses kejadian makhluk hidup di dalam kandungan, dimulai dari penanaman benih-benih kehidupan, proses perkembangannya sampai menjadi makhkluk baru yang sempurna badan fisiknya serta kelengkapan-kelengkapan lain yang menunjang keberadaannya nanti setelah menjalani kehidupan di dunia empiris ini.
Proses kejadian ini merupakan proses Micro Cosmos; yang identik dengan proses kejadian Macro Cosmos; dimana sang Jiwa Kecil mengikatkan dirinya dengan objek-objek duniawi, sehingga memperoleh pembatasan-pembatasan yang membedakannya dengan jiwa semesta yang tak terbatas. (Maswinara, 2014:26)
Tujuan Upacara Bayi Baru Lahir
Dijelaskan dalam pustaka Atharwa Veda, Sukta 11, ada 6 sloka berupa doa yang berhubungan dengan kelahiran bayi agar bisa cepat dan selamat lahirnya:
Sloka 1: pada saat kelahiran bayi ini, 0, Pusan (Dewa penyelamat dan pemberi kekuatan dan kehidupan), semoga Aryaman (Dewa Pemimpin Roh) yang mahir dalam weda itu berkenan mengucapkan kata “wasat” yaitu doa semoga wanita yang sedang melahirkan, yang tampaknya mengalami kesukaran ini, menjadi tidak tegang, menjadi tenang, semoga hubungan-hubungan dari bagian-bagian tubuhnya yang ada pada rahimnya membuka, sehingga kelahirannya menjadi lancar.
Sloka 2: Empatlah jumlah mata angin di langit, empat pula jumlah mata angin di bumi, para Dewa telah mengirim janin ini, semoga bagian-bagian tubuh pada rahimnya yang menutup menjadi membuka sehimgga kelahiran menjadi lancar.
Sloka 3: Semoga Pusan membukakan bagian-bagian tubuh pada rahim yang tertutup itu: Beliau telah mengusahakan agar yoni (rahim)-nya membuka, tentulah oh Pusan, mau mengendorkan ketegannya, dan tentulah engkau, oh Biskala, mau segera mendorong ke luar bayi itu.
Sloka 4: Semoga kelahiran lancer, tanpa ada yang melekat pada dagingnya dibagian yang gemuk, juga tidak ada yang melekat pada bagian yang berhubungan dengan sumsumnya, semoga ari-arinya mudah keluar, semoga yang kotor melengket pada bayi itu keluarsemua bersamanya, agar segera dimakan anjing.
Sloka 5: Saya menguakkan kantong kemih anda, saya menguakkan yoni anda, saya menguakkan bagian rahim yang menganga, saya memisahkan jabang bayi dengan ibunya, semoga sang bayi berpisah dengan ari-arinya dan lamcar keluar, semoga ari-ari (dengan “tiga saudaranya”) lancer keluar (tiga saudaranya yaitu darah, air tuba, dan pusar. Yang mana di Bali dinamai Rare, Bhuta Nyom, Bhuta Rah, Bhuta Ari-ari, dan Bhuta Tabunan).
Sloka 6: Seperti keadaan angin, seperti keadaan roh, yaitu dapat terbang seperti burung, demikian juga semoga bayi yang telah sepuluh bulan dalam kandungan ibu ini terlahirkan dengan lancar, seperti terbsng dan semoga ari-arinya juga lancar keluar.
Dalam hal kelima “saudara atau kadang” yang lahir bersamaan dari rahim ibu, Roeslan Doyowarsito menulis dalam Warta Parapsikologi No. 12 th. I dengan judul Terungkapnya Kadang Empat ke Lima Pance, sebagai berikut:
Mar Marti menguasai penghidupan manusia mengadakan cipta, Kawah menguasai bergeraknya badan menimbulkan hasrat, Ari-ari menguasai perlindungan hidup mengadakan tujuan, Darah menguasai kekuatan menimbulkan kemauan, Pusar menguasai perbawa menurut hal keinginan.
Sarana Ritual Upacara
Upacara ini tidaklah memiliki arti dan makna yang istimewa, hanya merupakan luapan rasa kegembiraan dan rasa kebahagiaan atas kehadirannya sang bayi ke dunia “angayu bagia” dengan menghaturkan sekedar upacara persembahan kecil kehadapan “Sanmg Dumadi”.
Sebagai wujud rasa kegembiraan dan kebahagiaan atas kelahiran sang bayi.
Upacara Rare Wawu Embas
Banten Muncuk Kukusan, medasar antuk Taledan medaging Nasi muncuk kukusan, Raka who-wohan dane genap, Rerasmen, Sampyan Jeet Guwak, Penyeneng Alit, Canag Sari atanding, 4 Jerimpen punggul, Medasar Wakul, ring tengah wakul, medaging Tumpeng asiki, Raka who-wohan jangkep, Kojong Rangkadan, medaging Rerasmen, Sampyan Jeet Guwak, Sasedep Tepung Tawar.
Pulang dari Tempat Melahirkan
Di depan pintu rumah sebelumnya si ibu dan bayinya masuk rumah dipapag atau disambut di lebuh dengan 2 tanding segehan putih kuning, arak, berem, tirtha, asep, dan 3 kali ketukan pisau.
Setelah selesai menghaturkan segehan kemudian si ibu dan bayinya melanhkahi segehan untuk masuk kerumah (maksudnya reregedan/kekotoranyang dibawa dari tempat melahirkan setelah diberi segehan jadi hilang).
Sesudah di Rumah
Untuk menyatakan rasa bahagia dapat pula si bayi disambut dengan sebuah “jerimpen” yang dihaturkan ke hadapan Sang Numadi selama 3 hari, yang disertai dengan sebuah dapetan tanpa sampiyan penyeneng. Selama 3 hari tersebut tidak perlu membuat banten dapetan baru, cukup dengan mengganti tumpengnya saja.
Membuat kemara yaitu dari sebuah bokor boleh dari kayu, boleh pula dari aluminium atau yang lainnya, kemudian diisi: beras, telur, gegantusan, batu bulitan kecil, uang (pis) andel-andel, jagung, ubi, tingkih, dang pangi.
Setiap hari dihaturkan canang dengan bunga putih, miik-miikan dan kiping pisang mas. Diisi buah-buahan boleh satu-satu atau lebih yaitu: salak, jeruk, manggis, apel, dan lain-lainnya, semuanya itu dihaturkan kehadapan Ida Bhatara Kemara agar melindungi/ngemban si bayi. (Surayin, 2019:10-11).
Makna Upacara
Salah satu ritual yang masih ada dan dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali adalah jatakarma samskara.
Mengutip dari "Tradisi Upacara Jatakarma Samskara dalam Merepresentasi Nilai Keagamaan pada Masyarakat Hindu Bali" yang ditulis Ni Nyoman Suastini dan Ni Putu Suparwati, jatakarma samskara merupakan upacara kelahiran bayi yang dilaksanakan sebelum melepas tali pusar bayi.
Ketika bayi keluar dari kandungan ibunya, ia dibantu oleh keempat saudaranya yang disebut dengan Catur Sanak. Catur Sanak tersebut meliputi ari-ari, air ketuban (yeh nyom), puser (lamas), dan darah (rah), sehingga sang bayi pun juga harus memelihara dan melindungi keempat saudaranya.
Ritual ini dinilai sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan atas kehadiran si kecil di dunia. Biasanya, upacara ini dilakukan di dalam dan di depan pintu rumah.
Untuk melaksanakan ritual ini, dibutuhkan seseorang yang tertua atau dituakan dalam keluarga. Namun, jika di dalam keluarga tersebut tidak ada seseorang yang dituakan atau hidup merantau, sang ayah bisa menggantikan posisi pemimpin ritual ini.