BALI EXPRESS - Upacara kepus udel atau puser atau kepus pungsed, sering disebut sebagai mepenelahan, adalah ritual penting bagi umat Hindu di Bali.
Upacara ini memiliki akar kata dari "penelahan," yang berarti habis. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, upacara ini melibatkan perlindungan 4 unsur untuk bayi yang masih dalam kandungan, yang dikenal sebagai catur sanak.
"Tujuan utama dari upacara kepus udel adalah untuk membersihkan jiwa dan raga bayi, dan menandai lepasnya tali jasmaniah bayi, yang menandakan bayi tersebut telah bersih secara jasmani," kata Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Ni Made Ayu Suniari, pada hari Senin (18/9).
Dalam upacara ini, tali pusarnya dibungkus dengan secarik kain dan dimasukkan ke dalam sebuah ketupat kecil.
Ketupat ini juga dilengkapi dengan berbagai rempah-rempah khas, seperti cengkeh, yang memiliki khasiat menghangatkan. Kemudian, ketupat kecil ini digantungkan di dekat tempat tidur bayi.
Ayu Suaniari juga menjelaskan bahwa upacara ini melibatkan sarana upacara yang dikenal sebagai banten Penelahan.
Banten ini terdiri dari daun dapdap yang diisi dengan beras kuning dan alat-alat pembersihan seperti tepung tawar, keramas, dan sirih.
Semua perlengkapan tersebut ditempatkan di atas ceper dan ditujukan ke tempat-tempat yang dianggap suci, seperti dapur, sumur, sanggah kemulan, tempat tidur ibu dan anak, serta bale-bale lainnya.
"Dalam upacara lepas tali puser atau kepus pungsed, dipersembahkan sesaji bayi yang baru melepaskan tali pusarnya. Sesaji ini termasuk penyeneng, ayam biring, peras satu, canang, dan kelanan (ketupat), yang disajikan kepada Betara Brahma dan para-para (punapi)," jelas Ayu Suaniari.
Ayu Suaniari juga menjelaskan berbagai jenis daun yang digunakan, seperti daun sakeling, daun miana cemeng, daun gunggang rumput dreman, dan kundang kasih, yang diikat menjadi satu.
Selain itu, tempurung kelapa diisi dengan abu, dedaunan, sirih, rokok lampu dari kapas yang digiling, dan tulisan nama yang ditempel pada abu tamas. Semua ini dipersembahkan kepada bayi.
"Sesaji juga diberikan kepada Dewa Kumara dan penjaga (among), dengan sesaji berisi kelanan, canang, dan saagan. Sesaji yang sama juga dipersembahkan kepada Dewa Yoni," tambah Ayu Suaniari.
Setelah bayi melepaskan tali pusarnya, upacara dilanjutkan dengan membersihkan secara rohaniah tempat-tempat suci dan bangunan di sekitarnya, seperti sanggah kemulan, sumur, dapur, dan balai-bala lainnya.
Tali pusar yang telah lepas dibungkus dengan secarik kain bersih dan disimpan dalam anyaman ketupat (tipat kukur) yang dilengkapi dengan rempah-rempah seperti sintok, mesui, dan cengkeh. Kemudian, tali pusar ini digantungkan di tempat tidur bayi.
"Oleh karena luapan rasa bahagia akan hadirnya si bayi ke dunia ada juga yang berkaol menyambut kepus puser dengan haturan babi guling," imbuhnya.
Selain itu, beberapa upacara lainnya yang dilakukan dalam upacara kepus udel mencakup pembuatan pelangkiran, tempat tidur bayi yang disucikan dengan beras, telur ayam Bali, dan batu kecil.
Dalam mitologi Siwagama-catur Yajna, Sang Hyang Kumara, putera Bhatara Siwa, memiliki peran penting dalam mengasuh anak-anak yang belum tanggal giginya setelah dikutuk oleh kakaknya, Dewa Gana.
"Upacara ini bermakna pembersihan raga dan jiwa dari jabang bayi tersebut. Karena lepasnya satu unsur terakhir itu, membuat bayi tersebut sudah lepas dari pengaruh Catur Sanak," pungkas Ayu Suniari.
Editor : I Putu Suyatra