BALI EXPRESS - Canang Sari adalah salah satu sarana upacara yang paling penting bagi umat Hindu di Bali.
Canang Sari tidak hanya dipersembahkan dalam rangkaian upacara sekala besar, persembahyangan sehari-hari pun sering menggunakan Canang Sari.
Hal ini tidak terlepas dari makna dan filosofi Canang Sari tersebut.
Canang Sari adalah simbol yang kaya akan makna yang digunakan untuk memohon kehadiran Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.
Canang Sari merupakan sarana untuk memohon kekuatan Widya (pengetahuan) kepada Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung.
Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Luh Sonia Candra Juwita, menjelaskan, kata "Canang" berasal dari bahasa Kawi/Jawa Kuno yang berarti "indah," sedangkan "Nang" berarti "tujuan" atau "maksud." "Sari" sendiri berarti "inti" atau "sumber."
Oleh karena itu, Canang Sari memiliki makna mendalam yang berhubungan dengan memohon kekuatan Widya kepada Sang Hyang Widhi dan Prabhawa-Nya, baik dalam skala maupun niskala.
Canang Sari menggunakan alas berbentuk "ceper" (segi empat) sebagai simbol kekuatan "Ardha Candra" (bulan).
Di atas "ceper," terdapat "Porosan" yang menandakan bahwa persembahan ini harus datang dari hati yang penuh kasih dan tulus kepada Sang Hyang Widhi dan Prabhawa-Nya, serta saat menerima anugerah dan karunia-Nya.
Di dalam "ceper", terdapat seiris tebu, pisang, dan sepotong jaja (kue) sebagai simbol kekuatan Wiswa Ongkara.
Di atasnya ditempatkan "Sampian Urasari" yang berbentuk bundar sebagai dasar untuk menempatkan bunga. Ini adalah simbol kekuatan "Windhu" (Matahari).
Ujung-ujung Urasari ini diberi hiasan panah sebagai simbol kekuatan "Nadha" (Bintang).
Penataan bunga di atas Sampian Urasari harus sesuai dengan pengider-ideran (tempat) Panca Dewata.
Bunga berwarna putih (atau merah muda jika sulit dicari) disusun menghadap arah timur, sebagai simbol permohonan kepada Widyadari (Bidadari) Gagar Mayang yang merupakan prabhawa kekuatan Sang Hyang Iswara agar memercikkan Tirtha Sanjiwani untuk memberikan kekuatan kesucian skala niskala.
Bunga berwarna merah diletakkan menghadap arah selatan, sebagai simbol permohonan kehadapan Widyadari Saraswati dalam kekuatan Sang Hyang Brahma agar memercikkan Tirtha Kamandalu untuk memberikan kekuatan Kepradnyanan dan Kewibawaan.
Bunga berwarna kuning disusun menghadap arah barat, sebagai simbol permohonan Widyadari Ken Sulasih, prabhawa Sang Hyang Mahadewa, agar memercikkan Tirtha Kundalini untuk memberikan kekuatan intuisi.
Bunga berwarna hitam (atau warna biru, hijau, atau ungu jika sulit dicari) disusun menghadap arah utara, sebagai simbol permohonan kepada Widyadari Nilotama sebagai prabhawa kekuatan Sang Hyang Wisnu agar memercikkan Tirtha Pawitra untuk memberikan kekuatan peleburan segala bentuk kekotoran jiwa dan raga.
Di tengah-tengah, terdapat bunga rampe (irisan pandan arum) sebagai simbol permohonan Widyadari Supraba dalam kekuatan Sang Hyang Siwa agar memercikkan Tirtha Maha Mertha untuk memberikan kekuatan pembebasan (Moksa).
Bunga canang, kembang rampe dan porosan adalah simbol dari Tarung/Tedung dari Ong Kara (isi dari Tri Bhuwana/Tri Loka = Bhur-Bwah-Swah).
Selain elemen-elemen fisik, mantra untuk menghaturkan Canang Sari juga memiliki peran penting. Adapun mantranya adalah:
- "Oṁ Puspa Danta ya namah svaha" (dalam hati)
- "Oṁ tamolah panca pacara guru paduka bhyo namah swaha"
- "Oṁ shri Deva Devi Sukla ya namah svaha"
Menggunakan Canang Sari dalam upacara Hindu adalah cara yang dalam dan simbolis untuk memohon kekuatan dan kesucian kepada Sang Hyang Widhi serta Prabhawa-Nya.
Semua elemen dalam Canang Sari memiliki makna mendalam dan nilai spiritual tinggi dalam praktik Hindu di Bali.
Editor : Nyoman Suarna