Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna dan Fungsi Upacara Macolongan dalam Tradisi Hindu di Bali

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 22 September 2023 | 03:15 WIB
MACOLONGAN: Upacara Macolongan atau Tutug Kambuhan memiliki makna mendalam dalam tradisi Hindu di Bali. Upacara ini dilakukan ketika bayi berusia 42 hari.
MACOLONGAN: Upacara Macolongan atau Tutug Kambuhan memiliki makna mendalam dalam tradisi Hindu di Bali. Upacara ini dilakukan ketika bayi berusia 42 hari.

BALI EXPRESS - Upacara Macolongan yang juga dikenal sebagai Tutug Kambuhan, memiliki makna mendalam dalam tradisi Hindu di Bali.

Upacara Macolongan dilakukan ketika seorang bayi mencapai usia 42 hari. Tujuannya untuk mengungkapkan arti penting dalam pemahaman Hindu tentang pembersihan jiwa raga bayi serta pemulihan Nyama Bajang.

Dalam konteks ini, penting untuk memahami perbedaan antara Catur Sanak dan Nyama Bajang, dua konsep kunci yang membentuk dasar upacara ini.

Dalam tradisi Hindu di Bali, upacara Macolongan, yang juga disebut Tutug Kambuhan, adalah sebuah upacara yang diadakan ketika seorang bayi mencapai usia 42 hari.

Ni Luh Putu Deny Purwanti, penyuluh agama Hindu Kantor Kementerian Kabupaten Tabanan, menjelaskan, upacara Macolong atau Tutug Kambuhan ini memiliki makna mendalam dalam keyakinan Hindu, dan merupakan bagian integral dari perjalanan spiritual seorang bayi di dunia ini.

Menurutnya, salah satu aspek penting dari upacara ini adalah pembersihan jiwa raga bayi dari segala noda dan kotoran yang mungkin ada sejak lahir.

Selain pembersihan jiwa raga bayi, Upacara Macolongan juga bertujuan untuk memulihkan Nyama-Bajang bayi dan membersihkan ibunya.

Nyama Bajang adalah salah satu konsep kunci dalam upacara ini.

Konsep ini mencerminkan pemahaman Hindu tentang kekuatan spiritual yang mendampingi seorang individu dari awal kehidupan mereka.

Upacara ini, lanjutnya, merupakan cara untuk mengembalikan dan memperkuat hubungan antara bayi dan Nyama Bajang, serta memungkinkan bayi dan ibunya untuk masuk ke dalam tempat-tempat suci seperti merajan dan pura.

Lebih lanjut Deny Purwanti menjelaskan, perbedaan antara Catur Sanak dan Nyama Bajang juga perlu dipahami dalam konteks upacara ini.

Catur Sanak, paparnya, mengacu pada empat unsur (benda beserta kekuatannya yang dianggap sangat penting untuk pertumbuhan dan keselamatan bayi sejak saat konsepsi hingga kelahiran.

Unsur-unsur ini adalah darah, lamad, yeh nyom, dan ari-ari.

Selama perjalanan bayi di dalam rahim ibu dan setelah lahir, nama-nama ini akan berganti-ganti sesuai dengan perkembangan bayi, sehingga terdapat banyak nama yang mewakili mereka.

“Oleh karena pentingnya peran Catur Sanak ini, upacara ini merupakan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada mereka dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu di Bali,” pungkasnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #upacara #fungsi #hindu #makna #tradisi #macolongan