Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berikut Makna Tebu dalam Upacara Yadnya Umat Hindu di Bali

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 22 September 2023 | 22:15 WIB

 

Begini Makna dan Jenis Tebu pada Mobil Pengantar Pengantin di Bali
Begini Makna dan Jenis Tebu pada Mobil Pengantar Pengantin di Bali

BALI EXPRESS- Tebu, tanaman yang umumnya untuk bahan baku gula, sering digunakan dalam upacara yadnya umat Hindu di Bali.

Berbagai upakara untuk upacara yadnya umat Hindu di Bali menggunakan tebu, baik itu upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Resi Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya.

Dalam upacara yadnya, tebu merupakan salah satu sarana pengorbanan yang tidak boleh digantikan dengan sarana lain karena memiliki makna khusus berdasarkan kepercayaan umat Hindu.

Dalam sesajen canang sari misalnya, salah satu unsurnya adalah seiris atau sebilah tebu yang melambangkan persembahan yang dilakukan dengan rasa tulus dan ikhlas atas terciptanya berbagai jenis tumbuhan sebagai sumber sandang, pangan, dan papan.

Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba menjelaskan tebu sangat berguna untuk sarana upacara adat Panca Yadnya.

“Tebu ini bermakna sebagai persembahan, penyucian, simbol kehidupan, pengampunan,” jelas Wiadnyana.

Dalam kesempatan itu, Wiadnyana juga menerangkan tebu sebagai identitas, maupun simbol rasa. “Tebu juga sebagai simbol rasa, penolakan bala dan sebagai obat,” terangnya.

Diungkapkan juga pada banten atau sesajen yang dikenal dengan sebutan salaran atau tegen-tegenan digunakan sebatang tebu.

Pajang tebu yang digunakan lebih satu meter dari daun pucuk lengkap dengan batangnya. Ini memiliki makna memberikan arah, tujuan, dan petunjuk dalam kehidupan yang harus dijalani.

Dalam banten taman, batang tebu digunakan sebagai tiang banten dengan bentuk segi empat.

Hal ini yang melambangkan simbolis kehidupan agar manusia dapat meniru sifat tebu yang tumbuh dengan mudah dan memiliki cadangan makanan sebagai sumber kehidupan dan kebahagiaan.

Dalam banten atau sesajen yang disebut gebogan, yang berisi rangkaian buah-buahan, jajan, dan potongan batang tebu sebagai dasarnya.

Tebu melambangkan perwakilan dari tumbuh-tumbuhan sebagai persembahan atas terciptanya alam semesta beserta isinya.

Begitu juga pada upacara catur dan upacara Ngenteg Linggih atau peresmian pura, tempat suci sering menggunakan tebu sebagai sarana persembahan yang melambangkan kesucian, rasa bakti, dan persembahan hasil bumi. (*) 

Editor : I Made Mertawan
#bali #tebu #hindu #Upacara yadnya