Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengungkap Luhuring Ambal Ambal: Tujuh Lapisan Atas di Kawasan Pura Besakih

I Putu Mardika • Sabtu, 23 September 2023 | 15:20 WIB
SELATAN: Pura Kiduling Kreteg merupakan bagian dari Pura Luhuring Ambal-Ambal yang berada di arah selatan Pura Penataran Agung Besakih.
SELATAN: Pura Kiduling Kreteg merupakan bagian dari Pura Luhuring Ambal-Ambal yang berada di arah selatan Pura Penataran Agung Besakih.

BALI EXPRESS - Pura Besakih terdiri dari dua komplek yang disebut Soring Ambal Ambal sebagai lapisan bawah dan Luhuring Ambal Ambal sebagai lapisan atas. Luhuring Ambal Ambal terdiri dari Pura Kiduling Kreteg, Pura Batu Madeg, Pura Gelap, Pura Penataran Agung Besakih, Pura Pengubengan, Pura Peninjoan dan Pura Tirtha.

Luhuring Ambal Ambal secara etimologi berasal dari kata Luhurin dan Ambal Ambal. Luhuring memiliki akar kata luhur yang berarti tinggi dan dimuliakan. Sedangkan kata Ambal Ambal berarti berlapis-lapis.

Pura Kidulung Kreteg merupakan bagian dari Pura Luhuring Ambal Ambal. Pura Kiduling Kreteg berada di arah selatan Pura Penataran Agung Besakih.

Pura Kiduling Kreteg, sesuai dengan namanya “Kidul Kreteg, yaitu kompleks pura yang berada di selatan jembatan,

Menurut Jero Mangku Suyasa, Pura Kiduling Kreteg tergolong pura Catur Dala, yaitu pura sebagai media untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewa Brahma.

Piodalan di Pura Kiduling Kreteg dilaksanakan setiap Anggara Wage Wuku Dungulan atau setiap Penampahan Galungan.

Penyelenggara piodalan di Pura Kiduling Kreteg ini menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten Karangasem.

Setiap piodalan atau wali, terdapat upacara penting yang dilakukan yang disebut dengan Aci Penyaeb Brahma.

 “Upacara Aci Panyaeb Brahma ini dilangsungkan setiap purnama sasih kaenem sekitar bulan Desember. Pada saat dilangsungkan upacara tersebut, masyarakat, pamedek atau umat Hindu berdatangan menghanturkan bhakti sekaligus melakukan ngayah Bersama,” ungkapnya.

Luhuring Ambal Ambal selanjutnya adalah Pura Batu Madeg.

Pura ini terletak di sisi utara dari Pura Penataran Agung Besakih.

Pura Batu Madeg salah satu bagian dari Luhuring Ambal Ambal Pura Besakih.

Dilihat dari areal pura, Pura Batu Madeg termasuk pura yang sangat luas dengan beragam pelinggih di dalamnya. Pura ini merupakan peninggalan zaman megalitik. Hal itu dikuatkan dengan ada batu besar di dalam pelinggih Meru.

Disebut Batu Madeg, karena di pura tersebut terdapat sebuah batu tegak.

Kata “batu madeg” dalam bahasa Bali artinya batu tegak berdiri.

Batu Madeg dalam istilah ilmu arkeologinya disebut dengan “menhir” yang meripakan bagian kebudayaan megalitik.

Batu Madeg sebagai simbol pemujaan Bethara Ida Ratu Sakti Watu Madeg manifestasi dari Ida Bethara Wisnu dalam sistem pemujaan Siwa Pasu Pata.

Batu menhir tersebut, untuk saat ini disineb atau ditempatkan di dalam Meru tumpang solas (sebelas).

Dilihat dari sudut historis perkembangan paksa di Bali, ketika itu berkembang Paksa Siwa Pasu Pata, batu tersebut disebut Hyang Bethara Ratu Sakti Watu Madeg, yaitu personifikasi dari Dewa Wisnu.

Setelah perkembangan zaman, Paksa Siwa ini berubah menjadi sistem pemujaan Siwa Sidhanta, dan batu tersebut diletakkan di dalam Meru.

Meru dengan jumlah tumpang solas atau sebelas inilah sebagai pelinggih utama dari Pura Batu Madeg, sebagai linggih atau sthana Dewa Wisnu yang dalam Tri Murti dikenal sebagai dewa pemelihara alam semesta beserta isinya.

Pemujaan Dewa Wisnu di Pura Batu Madeg bertujuan agar umat Hindu diingatkan untuk selalu menjaga lahan pertanian dan tidak menutupnya.

Lebih dari itu, diharapkan tidak menjual kepada investor, karena lahan pertanian akan dapat menyerap air.

Selanjutnya adalah Pura Gelap. Pura ini juga termasuk pura Catur Dala atau pura Catur Loka Pala.

Jika diperhatikan secara cermat, hampir semua pura di kompleks Pura Besakih menggunakan nama khas lokal Bali.

Nama Pura Gelap sendiri berasal dari bahasa Bali Kuno yang berarti petir atau kilat dengan sinarnya yang putih menyilaukan.

Pura Gelap digunakan untuk memuja Tuhan sebagai manifestasi sebagai Dewa Iswara.

Dalam konsep Dewata Nawa Sanga atau Siwa Sidhanta, Dewa Iswara adalah dewa pelindung arah timur alam semesta atau bhuwana agung, memiliki warna putih, senjata Bajra atau Genta.

Oleh karena pura ini sebagai media memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara, maka sangat tepat pura ini dinamakan Pura Gelap.

Sebab kata Gelap sendiri berarti sinar putih yang menyilaukan. Dengan kata lain, Iswara adalah dewanya sinar.

Alam semesta beserta isinya dapat hidup, kerena adanya sinar matahari. Oleh sebab itu Hinduisme meyakini bahwasanya sinar matahari yang tiada lain adalah Dewa Iswara wajib dipuja agar matahari selalu memancarkan sinar untuk kehidupan semesta.

Pura Gelap sebagai bagian dari Luhuring Ambal Ambal Pura Besakih juga memiliki fungsi sosial.

Hal tersebut dapat dilihat dari aktivitas keumatan saat piodalan di Pura Gelap. Terlebih saat umat melakukan prosesi ritual yadnya yang disebut dengan Aci Pangenteg Jagat.

Di sisi lain, menurut penuturan Jero Mangku Suyasa, di kompleks Pura Besakih terdapat banyak prosesi yadnya. Salah satunya disebut dengan Aci Nyatur yang diselenggarakan di empat pura Catur Dala.

Salah satu prosesi upacara Aci Nyatur ini ada yang disebut dengan Aci Pangenteg Jagat.

Upacara tersebut dilaksanakan setiap Purnama Sasih Karo, sekitar bulan Agustus.

Lebih jauh diungkap oleh Jero Mangku Suyasa, setiap melaksanakan prosesi upacara tersebut, banyak umat Hindu khususnya pengempon Pemerintah Daerah Klungkung berdatangan ngaturang ngayah.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #pura kiduling kreteg #pura gelap #tujuh lapisan atas #hindu bali #Pura Batu madeg #Pura Besakih #luhuring ambal ambal