Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Upacara Menek Kelih Menurut Hindu di Bali, Ini Banten yang Digunakan

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 26 September 2023 | 06:00 WIB
PENYULUH : Penyuluh agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Ida Bagus Putu Widnyana Manuaba jelaskan makna upacara menek kelih berikut banten yang digunakan.
PENYULUH : Penyuluh agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Ida Bagus Putu Widnyana Manuaba jelaskan makna upacara menek kelih berikut banten yang digunakan.

BALI EXPRESS - Upacara Menek Kelih merupakan salah satu upacara manusia yadnya yang dilaksanakan ketika anak-anak mulai beranjak dewasa atau pada masa akil balik.

Peralihan dari anak-anak menuju dewasa secara biologis dapat dilihat dari beberapa perubahan yang terjadi pada anak-anak.

Pada anak perempuan, ini dapat ditandai dengan datang bulan (haid atau menstruasi pertama).

Dalam siklus hidup orang Bali, ada beberapa istilah yang berkaitan dengan pertumbuhan tubuh perempuan.

Perempuan yang berumur 8 tahun dinamai Gauri, yang berumur 9 tahun dinamai Rohini, yang berumur 10 tahun dinamai kanya, sedangkan yang umurnya lebih dari 10 tahun dinamai Raja Swala sehingga upacara menek kelih untuk anak perempuan disebut dengan Nge-Raja Swala.

Hal ini diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Ida Bagus Putu Widnyana Manuaba.\

Dia menuturkan bahwa pada anak laki-laki, terlihat perubahan suara yang mulai memberat (ngembak). Upacara menek kelih untuk anak laki-laki disebut dengan Nge-Raja Singa.

"Dalam Lontar Agastya Parwa dijelaskan bahwa orang tua wajib melaksanakan upacara menek kelih terhadap anaknya yang sudah tumbuh dewasa," jelasnya, Minggu (24/9).

 

Sebagai konsep Yayah Rna dan Ibu Rna, Upacara Menek Kelih dilakukan oleh orang tua sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas anugerah dan kesehatan yang sudah diberikan.

Selain itu, upacara ini juga merupakan bentuk permohonan agar anak senantiasa dituntun dan dijaga di jalan yang baik dan benar serta dijauhkan dari hal-hal yang berbahaya.

"Hyang Semara Ratih, manifestasi Tuhan sebagai Dewa Asmara dalam upacara menek kelih, ditujukan dengan harapan dapat dibimbing dan dituntun di jalan yang baik dan benar," bebernya.

Menurutnya ada beberapa sarana upacara yang dipergunakan untuk menek kelih seperti Banten Pejati, Prayascita, Biakala, Biokaon, Dapetan, Banten Pededarian, Sesasyut sesuai otonan, Sesayut Raja Singa (Putra), dan Sesayut Raja Swala (Putri).

Penggunaan sarana di atas dapat disesuaikan dengan adanya tingkatan-tingkatan yadnya dan disesuaikan dengan desa kala patra.

Sedangkan proses pelaksanaan upacara dalam ritual Menek Kelih dapat dilakukan baik di rumah maupun di Gria.

Dapat juga dilakukan secara mandiri atau bahkan secara massal, dan pelaksanaannya bisa dilakukan setelah anak memasuki akil balik dari anak-anak ke dewasa atau bisa juga dilaksanakan dengan memperhitungkan hari baik.

Upacara Menek Kelih dapat dipimpin oleh pinandita/jero mangku atau sulinggih. Proses pelaksanaan upacara Menek Kelih mencakup:

"Upacara menek kelih tentu memiliki makna untuk memberikan kesadaran kepada anak bahwa mereka sudah berada pada fase yang bisa membedakan antara baik dan buruk serta benar dan salah," pungkasnya.

Selain itu, peran orang tua setelahnya adalah selalu mengingatkan dan memberikan petuah-petuah serta contoh yang baik untuk anaknya.

Camat Diwek Agus Sholihudin
Camat Diwek Agus Sholihudin
Editor : Nyoman Suarna
#bali #menek kelih #upacara #dresta #Banten #hindu