BALI EXPRESS - Mangku - Pemangku merupakan orang suci dan atau disucikan yang telah menjalani proses ekajati.
Keberadaannya sangat dibutuhkan dan vital dalam melayani umat Hindu yang melaksanakan upacara Panca Yadnya.
Menurut JM. Pasek Swastika dari Ashram Sari Taman Beji, sebelum mengambil keputusan menjadi seorang rohaniawan dan penekun spiritual, seseorang harus mengokohkan diri, baik secara internal maupun eksternal.
Hal ini dianalogikan seperti pohon. Semakin tinggi dan besar pohon, semakin kencang angin yang menerpa. Agar mampu bertahan dari terpaan angin, pohon harus memiliki akar pancer yang kuat dan kokoh dan akar serabut lainnya.
Lebih lanjut, JM. Pasek Swastika menyebut, ada tiga lontar yang harus diketahui dan dipelajari oleh seorang Mangku dan Pemangku dan juga calon sulinggih.
Di antaranya lontar Sila Kramaning Aguron-guron yang berisi petunjuk-petunjuk atau nasihat-nasihat tentang kewajiban dan tata krama seorang sisia (murid) dalam berguru.
Selanjutnya adalah lontar Wrtthi Sasana, yaitu teks agama Hindu yang menguraikan tentang persyaratan atau disiplin menjadi seorang pandita terkait beberatan.
Satunyha lagi adalah lontar Siwa Sasana, yaitu sebuah teks yang berisi ajaran Siwa.
“Menapaki jalan spiritual, baik itu mangku atau pemangku melalui pawintenan, maka seseorang itu harus memahami makna yang terdapat dalam lontar Siwa Sasana, Wrethi Sasana dan Sila Kramaning Aguron-guron,” ucapnya.
Tiga lontar ini, lanjutnya, adalah dasar untuk mengokohkan pawintenan yang didapatkan. Di samping lontar-lontar lainnya yang berkaitan dengan tugas, wewenang, kewajiban masing-masing.
Pewintenan seorang mangku - pemangku dapat dilakukan dengan pewintenan Saraswati kepemangkuan, dilanjutkan dengan pawintenan mangku - pemangku, kemudian dilanjutkan dengan pawintenan Dasa Gana dilanjutkan dengan pawintenan Tapak Ghana.
Tak hanya itu, dilanjutkan dengan pawintenan Panca Rsi. Bilamana akan menapaki kesulinggihan, baiknya delanjutkan dengan pewintenan Wiwa.
“Kalau sudah seperti itu, tyang rasa analogi tentang pohon akan kuat. Terlebih lagi paham dengan ajaran yang ada di dalam tiga lontar itu, termasuk melaksanakan pabratan,” jelasnya.
Lebih lanjut, terangnya, sangat sempurna bilamana persyaratan terkait menjadi sulinggih memenuhi persyaratan, baik secara Dharma Negara maupun Dharma Agama.
Termasuk terkait usia serta bebas dari segala tanggungan dan pengaruh keduniawian.
Editor : Nyoman Suarna