Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Sarana yang Ada Dalam Banten Pejati, Berikut Maknanya Menurut Hindu Bali

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 27 September 2023 | 04:00 WIB
PEJATI: Banten Pejati, adalah salah satu dari berbagai upacara penting dalam tradisi Hindu Bali.
PEJATI: Banten Pejati, adalah salah satu dari berbagai upacara penting dalam tradisi Hindu Bali.

BALI EXPRESS – Banten Pejati adalah salah satu dari berbagai sarana upacara penting dalam tradisi Hindu Bali.

Sarana upacara ini memiliki makna filosofis yang mendalam, yang mencerminkan kesungguhan hati individu dalam melaksanakan upacara keagamaan.

Kata "Pejati" berasal dari bahasa Bali, yaitu kata "jati" dengan awalan "pa," yang berarti sungguh-sungguh dan benar-benar.

Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Ni Luh Cesi, menjelaskan bahwa Banten Pejati terdiri dari sekelompok banten atau persembahan yang digunakan untuk menyatakan kesungguhan hati seseorang kepada Hyang Widhi dan manifestasinya.

Banten Pejati digunakan sebagai sarana untuk melaksanakan upacara dan memohon keselamatan.

"Banten Pejati terdiri dari beberapa unsur, termasuk alas bedogan yang terbuat dari janur atau slepan yang berbentuk bulat dan sedikit panjang dengan batas pinggirnya. Alas Bedogan ini adalah lambang unsur pertiwi yang dapat dengan jelas terlihat," jelas Cesi.

Dia juga menjelaskan tentang bedogan atau srembeng daksina, yang terbuat dari janur atau slepan yang dibentuk melingkar dan tinggi, seukuran dengan alas wakul.

Bedogan bagian tengah ini adalah lambang Akasa, yang tidak memiliki tepi. Srembeng daksina juga melambangkan hukum Rta, yaitu hukum abadi Tuhan.

Unsur lainnya dalam Banten Pejati adalah tampak, yang terbuat dari dua potongan janur yang dijahit sehingga membentuk tanda tambah.

Tampak adalah lambang keseimbangan dalam makrokosmos dan mikrokosmos.

Selanjutnya, terdapat beras, yang melambangkan hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan manusia di dunia ini, serta penghubung dengan Hyang Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva).

Ada juga porosan yang terbuat dari daun sirih, kapur, dan pinang yang diikat dengan rapi sehingga menjadi satu, yang merupakan lambang pemujaan.

Benang Tukelan, dalam Banten Pejati, adalah simbol dari naga Anantabhoga dan naga Basuki dalam proses pemutaran Gunung Mandara Giri untuk mendapatkan Tirtha Amertha.

Ini juga melambangkan penghubung antara jivatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya pralina.

Dalam Banten Pejati juga terdapat uang kepeng, yang melambangkan Dewa Brahma dan kekuatan untuk menciptakan kehidupan serta sumber kehidupan.

Telur Itik, yang dibungkus dengan kulit tipat taluh, melambangkan awal kehidupan dan getar-getar kehidupan. Ini juga melambangkan Bhuana Alit yang menghuni bumi ini.

Ada juga Gegantusan yang terbuat dari kacang-kacangan dan bumbu-bumbuan, yang merupakan lambang sad rasa dan kemakmuran.

Sedangkan Papeselan, yang terbuat dari lima jenis dedaunan yang diikat menjadi satu, melambangkan Panca Dewata dan juga merupakan lambang Tri Hita Karana.

Di dalam Banten Pejati juga terdapat buah kemiri, yang melambangkan purusa atau sifat laki-laki, serta buah kluwek atau pangi yang merupakan lambang pradhana atau perempuan.

Kelapa melambangkan Pawitra (air keabadian/amertha) dan alam semesta dengan tujuh lapisannya.

Air dalam Banten Pejati adalah lambang Mahatala, sedangkan isi lembut kelapa melambangkan Talatala, lapisan dalamnya adalah Antala, lapisan isi yang keras adalah Sutala, lapisan tipis paling dalam adalah Nitala, dan batoknya melambangkan Patala. Kelapa ini juga mencerminkan tujuh lapisan alam semesta, termasuk sapta loka dan sapta patala.

Terakhir, terdapat sesari yang melambangkan karma atau pekerjaan (Dana Paramitha).

Sampyan Payasan, yang terbuat dari janur dan dibentuk menyerupai segitiga, adalah lambang dari Tri Kona; Utpeti, Sthiti, dan Pralina.

Sampyan pusung, yang terbuat dari janur yang dibentuk menyerupai pusungan rambut, melambangkan pengerucutan indria-indria, dengan tujuan akhir mencapai Brahman.

Melalui simbolisme yang mendalam ini, Banten Pejati menjadi sebuah sarana persembahan yang penuh makna dalam tradisi Hindu Bali.

Banten pejati mengajarkan nilai-nilai spiritual dan keseimbangan dalam kehidupan manusia.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #upacara #Banten #pejati #hindu #Sarana #tradisi