DENPASAR, BALI EXPRESS - Di balik pemandangan indah Bali terdapat konsep unik dalam membangun rumah, mewarisi tradisi kuno dari Mpu Kuturan, tokoh spiritual Hindu.
Salah satu warisannya adalah soal merajan atau mrajan atau sanggah yang ada di setiap pekarangan rumah umat Hindu di Bali.
Yang menarik, di setiap pekarangan rumah warga Hindu Bali itu, jumlah palinggihnya tidak semuanya sama.
Lalu kenapa jumlahnya berbeda? Berikut penjelasannya.
Konsep Merajan, yang berasal dari ajaran Mpu Kuturan, dapat ditemukan dalam naskah Lontar Ithi Prakerthi.
Dalam lontar itu menjelaskan ada empat jenis Merajan yang dikenal umat Hindu di Bali. Yakni:
- Tri Lingga
Mrajan ini terdiri dari Kamulan, Taksu, dan Tugu, mewakili satu rumah tangga.
Meskipun beberapa orang menyebutnya sebagai paibon atau sanggah pakomelan, istilah yang lebih tepat adalah sanggah pakamulan.
- Panca Lingga
Dalam Merajan ini, terdapat lima palinggih, termasuk Kamulan, Taksu, Tugu, Pelik Sari, dan Gedong.
Ini mewakili beberapa rumah tangga dengan ikatan purusha dan dikenal sebagai Panti.
- Sapta Lingga
Merajan Sapta Lingga memiliki tujuh palinggih, termasuk yang ada di Panca Lingga, serta Catu dan Manjangan Salwang.
Ini juga disebut dadya dan yang melibatkan beberapa Panti dan Paibon.
- Ekadasa Papeking Dewata
Jenis Merajan ini terdiri dari sebelas palinggih, termasuk yang ada di Sapta Lingga, dan palinggih tambahan seperti Pasarem, Limas Sari, Lirah, dan Padma.
Merajan ini juga disebut Dadya Agung dan diwakili oleh Dadya, Panti, dan Paibon.
Editor : I Putu Suyatra