BALI EXPRESS - Keberadaan Banjar Munti Gunung yang terletak di Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem erat dengan mitos kutukan Dewi Danu.
Seperti diketahui, masyarakat masyarakat Munti Gunung hingga kini meyakini keberadaan mitos kutukan Dewi Danu. Cerita tersebut disampaikan secara turun-temurun kepada generasi di wilayah ini.
Tokoh masyarakat Munti Gunung, Agung Pasrisak Juliawan mengatakan, selain mitos kutukan Dewi Danu, ada juga cerita lain yang tidak kalah menarik mengenai Munti Gunung.
Cerita tersebut memaparkan soal sebuah sumber mata air abadi, yang oleh masyarakat disebut mata air papad atau air penyambung nyawa.
Mata air ini merupakan mata air satu-satunya yang terdapat di Munti Gunung.
Sumber mata air ini disebut sebagai air penyambung nyawa, karena di Munti Gunung hanya mata air ini yang menjadi satu-satunya sumber air sepanjang tahun.
Semua masyarakat Munti Gunung menggantungkan hidupnya pada sumber mata air tersebut. Terlebih di musim kemarau yang sangat sulit untuk mendapatkan air.
Secara historis awal munculnya mata air Papad, berawal dari kedatangan Dewi Danu yang berwujud laki-laki tua berpenampilan dekil dan kumuh membawa “tegenan” (pikulan) yang berisi air ke Munti Gunung.
“Kemudian laki-laki dekil tersebut menawarkan air yang dibawanya kepada masyarakat yang saat itu sedang melaksanakan yadnya,” jelasnya
Karena penampilan dari laki-laki tua tersebut kotor dan dekil, lalu diusirlah oleh warga yang ada di Banjar Munti Gunung. Mendapat perlakuan seperti itu, laki-laki tua tersebut kemudian memberi kutukan lalu beranjak pergi.
“Adapun kutukan yang disampaikan pada masyarakat Munti Gunung adalah kehidupan di Munti Gunung akan menjadi seperti dirinya,” imbuhnya.
Karena mendapat penolakan, laki-laki tua tersebut melanjutkan perjalanan menuju satu tempat bernama Papad yang masih berada di wilayah Munti Gunung.
Laki-laki tua itu beristirahat, di sanalah kemudian air yang dibawanya tumpah dan merembes ke bawah tebing. Hingga saat ini air tersebut menjadi sumber air yang tidak pernah kering meski saat musim kemarau.
Saat ini rembesan mata air Papad ini dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat melukat oleh masyarakat sekitar. Mata air ini dipercaya berkhasiat untuk menyebuhkan penyakit kulit, membuat umur panjang, menyegarkan pikiran, dan peleburan hal-hal yang bersifat negatif.
Untuk menopang kehidupan, masyarakat Bajar Munti Gunung Desa Tianyar Barat mengandalkan sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan sektor jasa.
Di sektor pertanian masyarakat Banjar Munti Gunung mengandalkan tanaman kacang tanah, cabe rawit, jagung dan nangka.
Tanaman ini biasanya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik pada musin penghujan, sedangkan musim kering akan sangat sulit tumbuh.
Di sektor peternakan, masyarakat Banjar Munti Gunung mengandalkan peternakan sapi yang dikandangkan secara khsus di halaman rumah.
Selain untuk dijual, sapi-sapi ini juga untuk dijadikan tenaga membajak ladang.
Di samping memelihara sapi, masyarakat Banjar Munti Gunung juga memelihara babi dan ayam sebagai kegiatan sambilan. Rata-rata mereka memeilihara babi 1 sampai 2 ekor dan ayam induk 3 sampai 7 ekor.
Editor : Nyoman Suarna