Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Makna Kerauhan dalam Pementasan Tari Demang Temenggung di Pura Paluang

I Putu Mardika • Rabu, 4 Oktober 2023 | 17:26 WIB
KERAUHAN: Turunnya Ida Ratu Gede Ngurah Paluang dan Ratu Gede Sakti Hyang Mami dibuktikan dalam bentuk kerauhan.
KERAUHAN: Turunnya Ida Ratu Gede Ngurah Paluang dan Ratu Gede Sakti Hyang Mami dibuktikan dalam bentuk kerauhan.

BALI EXPRESS - Pementasan Tari Demang Temenggung di Pura Paluang sebagai sarana untuk nedunan (menghadirkan) Ida Bhatara Ratu Gede Sakti Hyang Mami yang berstana di Pura Paluang, Ratu Gede Ngurah Paluang, Ratu Gede Papak Badeng, dan Ratu Nyoman Sakti.

Selain itu, tarian ini juga difungsikan untuk nuhur (memanggil) tiga nama yaitu Kasa, Segara dan Svarga. Tari Demang Temenggung ini juga berfungsi sebagai sebuah seni tari yang disukai atau disenangi oleh Ida Ratu Gede yang melinggih di Pura Paluang, yaitu Ratu Gede Sakti Hyang Mami.

Di samping itu, pementasan Tari Demang Temenggung ini juga diyakini sebagai tarian atau kesenian untuk memperkenalkan sebuah cerita sejarah dari Pura Paluang melalui lakon yang disampaikannya.

Tujuan yang lainnya adalah menarik perhatian masyarakat atau umat agar senantiasa datang pada saat piodalan di Pura Paluang yang jatuh pada Tumpek Krulut.

“Tari Demang Temenggung ini adalah salah satu dedemenan (kesukaan) dari Ratu Gede Sakti Hyang Mami. Maka dari itu, Tari Demang Temenggung ini tidak bisa palas (lepas) dari rangkaian Piodalan di Pura Paluang,” ungkapnya.

Bahkan, tarian ini juga merupakan sarana untuk nyomia (menetrasir) bhutakala agar tidak mengganggu pelaksanaan yadnya, tetapi sebaliknya membantu pelaksanaan Upacara Yadnya (bhuta kasupat menjadi dewa).

Tarian ini sebagai simbolis turunnya leluhur, roh, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui manifestasinya Ida Ratu Gede Ngurah Paluang dan Ratu Gede Sakti Hyang Mami.

Hal ini dibuktikan dalam bentuk kerauhan, yang diyakini hadirnya Ida Bhatara melalui perantara penari.

Penari maupun pemedek yang kerauhan diharapkan dapat memberikan arahan mengenai pelaksanaan upacara yadnya yang akan dilaksanakan.

 “Pada saat Tari Demang Temenggung ini ditarikan atau dipentaskan banyak dari pemedek pura yang kerauhan. Dalam hal ini, kerauhan bukan berarti kesurupan,” paparnya.

Kerauhan yang terjadi pada saat upacara di Pura Paluang, ditafsirkan sebagai unsur yang mengesahkan proses pelaksanaan ritual.

Orang yang kerauhan mengatur ritual mana yang didahulukan dan ritual mana yang dapat dilakukan kemudian.

Ketika orang kerauhan sedang mengatur prosesi ritual itu, tak seorang pun berani membantahnya, karena diyakini bahwa roh yang merasuki orang kerauhan itu adalah roh Ratu Gede Ngurah Paluang dan Ratu Gede Sakti Hyang Mami.

“Datangnya kekuatan roh Ratu Gede Ngurah Paluang dan Ratu Gede Sakti Hyang Mami memasuki tubuh manusia tidak dilakukan dengan sembarangan, tetapi melalui ritual,” imbuhnya.

Editor : Nyoman Suarna
#Pura Paluang #tradisi bali #Demang Temenggung #hindu #kerauhan #tari