BALI EXPRESS – Lontar Swargarohana Parwa yang mengisahkan perjalanan spiritual Pandawa dan Drupadi menuju Puncak Gunung Himalaya sarat akan nilai kepemimpinan.
Bahkan, perjalanan ditulis dalam Lontar Swargarohana Parwa, yang menjadikan sikap Yudhistira sebagai panutan dan relevan hingga kini.
Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M.Pd mengatakan, Swargarohana Parwa merupakan penggalan cerita Epos Mahabarata di bagian akhir dari Asta Dasa Parwa.
Kisah ini banyak mengulas bagaimana perjalanan Pandawa bersama Drupadi untuk menuju puncak Himalaya.
Tak bisa dipungkiri bahwa cerita epos Mahabarata sarat akan nilai dan makna.
Salah satunya adalah kisah Swargarohana Parwa.
Sikap kepemimpinan dalam Lontar Swargarohana Parwa masih relevan hingga kini.
Tentu saja bisa diteladani oleh para pemimpin.
Lontar Swargarohana Parwa menjelaskan tentang kisah Yudistira mencapai puncak Gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai sorga oleh Dewa Indra.
Dalam perjalanannya dia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia.
Dia menolak masuk surga jika disuruh untuk meninggalkan anjingnya sendirian.
Si anjing menampakkan dirinya yang sebenarnya adalah Dewa Dharma.
Tindakan yang dilakukan oleh Yudistira merupakan tindakan yang mengandung nilai kepemimpinan, karena seorang pemimpin harus dapat membuat keputusan yang cepat dan tepat walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri.
“Nilai kepemimpinan juga tertuang dari penggalan cerita, ketika Yudistira lebih memilih berkumpul dengan saudara-saudaranya dan istrinya walaupun di neraka sekalipun. Yudistira mendekati saudara-saudara dan istrinya untuk ikut merasakan panasnya api neraka,” jelasnya.
Seketika keadaan berubah. Neraka yang ditempati Pandawa dan Drupadi berubah menjadi surga.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Yudistira telah mengamalkan nilai kepemimpinan, yang bertujuan untuk mencapai suatu keharmonisan di dalam melakukan suatu hal yang tidak bisa dilakukan dengan sendiri.
Nilai kstatria tersebut dapat dilihat ketika Yudistira melewati banyak kejadian-kejadian saat perjalan menuju ke sorga.
Sesampainya di sorga, alangkah bingungnya Yudistira karena yang ditemui bukanlah sanak keluarganya, melainkan Duryodana dan para Korawa serta Sekuni.
Yudistira memutuskan dengan tegas akan mencari sanak keluarganya dimanapun berada, walaupun Yudistira diminta agar tetap tinggal di sorga oleh Dewa Indra. Yudistira tegas menolak ajakan tersebut.
Dalam Lontar Swargarohana Parwa terdapat usaha untuk membangkitkan rasa kegagahberanian untuk pantang mundur dalam suatu pertempuran demi sebuah pengorbanan yang tulus ikhlas.
“Setiap ksatria dituntut kesiapannya untuk rela dan ikhlas berkorban dalam bentuk apapun, baik korban harta maupun korban jiwa. Ini tentu kita lihat dalam kehidupan kekinian. Kita diharapkan bisa memiliki sikap ksatria dan berani berkorban dalam tatanan lebih luas baik bernegara dan beragama,” ungkapnya.
Sikap berkorban ini dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan sanak keluarga dan istri ketika Yudistira menceburkan diri ke sungai di neraka yang airnya mendidih yang bernama sungai Witarini.
Yudistira dengan tulus ikhlas menceburkan dirinya ke dalam sungai demi bisa berkumpul dengan saudara-saudara dan istrinya.
Ketika Yudistira menceburkan dirinya ke dalam sungai, seketika air yang tadinya mendidih berubah menjadi sejuk.
“Yudistira mencari saudara-saudaranya dan istri serta sekutu Pandawa, walaupun harus mengorbankan dirinya sendiri. Jadi segala sesuatunya haruslah dilakukan dengan tulus ikhlas dan tanpa ada paksaan. Dengan begitu akan menemukan jalan terbaik untuk mencapai tujuan yang diinginkan,” imbuhnya.
Editor : Nyoman Suarna