Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lima Kesetiaan Yudhistira yang Patut Dicontoh dalam Lontar Swargarohana Parwa

I Putu Mardika • Jumat, 6 Oktober 2023 | 18:32 WIB
KESETIAAN: Ada lima sikap setia yang terinspirasi dari kisah Yusdhistira dalam lontar Swargarohana Parwa yang patut dicontoh.
KESETIAAN: Ada lima sikap setia yang terinspirasi dari kisah Yusdhistira dalam lontar Swargarohana Parwa yang patut dicontoh.

BALI EXPRESS - Nilai kepemimpinan dapat dilihat dalam Lontar Swargarohana Parwa. Salah satunya adalah Panca Satya.

Panca Satya dibagi menjadi lima bagian yaitu Satya Semaya yang artinya adalah kesetian dengan janji yang pernah diucapkan dengan diri sendiri dan orang lain, sehingga dalam kehidupan tidak merasa beban dengan bayang-bayang janji yang pernah diucapkan.

Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M.Pd, menjelaskan, Satya Herdaya adalah kesetiaan pada diri sendiri dan pada kata hati.

Kadang manusia sering lupa apa yang ada dalam kata hatinya dan terkadang mengabaikan bisikan hati yang paling dalam.

Satya Mitra adalah kesetiaan terhadap teman. Dengan adanya teman, manusia bisa sedikit berbagi segala suka duka, keluh kesah.

Satya Wacana adalah merupakan kesetiaan terhadap setiap tutur kata yang telah diucapkan.

Artinya bertanggung jawab dengan perkataan yang telah dikeluarkan dari mulut.

Sedangkan Satya Laksana adalah kesetiaan terhadap setiap perbuatan.

“Setiap manusia harus setia pada apa yang telah dilakukan atau diperbuat. Harus setia pada perbuatan-perbuatan yang pernah dilakukan dan harus bertanggungjawab akan akibat yang ditimbulkan. Ingat ada sebab, ada akibat,” katanya.

Dalam Lontar Swargarohana Parwa terdapat ajaran Panca Satya. Salah satunya adalah Satya Mitra, yang dicontohkan dengan kisah Yudhistira diminta tinggal di surga oleh Dewa Indra, tetapi ditolak karena di surga tidak ada saudara-saudaranya dan istrinya, melainkan Duryodana dan saudara-saudanya.

Karena begitu keras kemauan Yudhistira, diantarlah dia menuju ke tempat saudara-saudaranya dan istrinya.

Dia termenung dan berpikir, apa dosa saudara-saudaranya dan istrinya hingga berada di api neraka ini.

Tanpa berpikir panjang akhirnya Yudhistira mendekati saudara-saudaranya dan istrinya. Anehnya, seketika itu juga keadaan berbalik menjadi sangat indah. Sedangkan tempat Duryodana dan saudara-saudaranya berubah menjadi siksa neraka.

Datanglah Dewa Indra dan Dewa Dharma bersabda, orang yang lebih banyak dosanya ketimbang kebajikannya akan menikmati surga terlebih dahulu, baru kemudian dijebloskan ke neraka.

Sebaliknya orang yamg lebih banyak berbuat kebajikannya dari pada dosanya akan diberikan siksa neraka terlebih dahulu sebelum diberikan kenikmatan sorga.

Selain karena memuja keagungan Dewa Dharma, Yudhistira juga selalu mengupayakan Satya Semaya, yaitu setia dengan janji-janji yang pernah diucapkan dengan Pandawa serta istrinya.

Yudhistira sudah pasti tidak menginginkan perpisahan dan kesenangan dengan dirinya saja, namun setiap suka duka yang dirasakan dilalui bersama-sama.

Dalam penggalan Lontar Swargarohana Parwa juga terdapat ajaran Satya Herdaya yaitu ketika Yudhistira tidak mau tinggal di surga, melainkan dengan tegas memilih mencari saudara-saudara dan istrinya.

Itu membuktikan bahwa Yudistira mengamalkan ajaran Satya Herdaya.

Selanjutnya ajaran Satya Wacana juga terpaparkan di dalam penggalan cerita Swargarohana Parwa ini.

Ajaran Satya Wacana merupakan kesetiaan terhadap setiap tutur kata yang telah diucapkan.

Artinya bertanggung jawab dengan perkataan yang telah dikeluarkan dari mulut. Kisah yang menjadi contoh ajaran Satya Wacana adalah ketika Yudhistira setia terhadap setiap kata-katanya.

Dalam cerita ini Yudhistira berkata, dia tidak akan menikmati surga tanpa saudara-saudara dan istrinya, sehingga dia mencari saudara-saudara dan istrinya. Berarti Yudhistira sudah menjalankan ajaran Satya Wacana.

Selanjutnya ajaran Satya Laksana. Ajaran Satya Laksana terlihat dimana Yudhistira dan saudara-saudara serta istrinya sewaktu masih hidup pernah melakukan kesalahan sehingga harus mendapatkan hukuman. Yudhistira pernah berbohong pada Guru Drona, Bima terlalu menonjolkan sifat lobanya, Arjuna terlalu bangga dengan kemahirannya, Nakula sangat membanggakan ketampanannya, Sahadewa begitu membanggakan kecerdasannya, serta Drupadi lebih mencintai Arjuna daripada suami-suami yang lainnya.

Semua hal yang terjadi di dalam cerita ini merupakan suatu hal yang terjadi karena kesetiaan terhadap Tuhan, kesetiaan terhadap diri sendiri atau kata hati, kesetiaan terhadap teman, kesetiaan terhadap perkataan dan kesetiaan terhadap segala perbuatan.

Meskipun di dalam insiden-insiden yang terjadi pada cerita tersebut tidak semuanya melangkah pada hal yang baik, namun setidaknya tokoh dalam cerita tersebut telah mengamalkan ajaran satya.

“Semuanya itu tertuang pada ajaran Panca Satya yaitu Satya Semaya, Satya Herdaya, Satya Mitra, Satya Wacana dan Satya Laksana yang sudah dijelaskan dari setiap bagian-bagian yang terkandung di dalam Lontar Swargarohana Parwa,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#pemimpin #bali #yudhistira #hindu #tradisi #setia #lontar swargarohana parwa