Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menyingkap Sejarah Pura Er Jeruk yang Diyakini sebagai Sumber Kesuburan bagi Petani dan Tempat Mohon Keturunan

I Putu Mardika • Minggu, 8 Oktober 2023 | 20:02 WIB
Areal utama mandala Pura Er jeruk, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali.
Areal utama mandala Pura Er jeruk, Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali.

BALI EXPRESS- Pura Er Jeruk merupakan Pura Kahyangan Jagat umat Hindu di Bali.  Pura ini berada di Desa/Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali.

Pura Er Jeruk berada persis di pinggir Pantai Purnama, dan banyak disebutkan dalam berbagai naskah seperti purana, lontar dan lainnya.

Bahkan, Pura Er Jeruk diyakini sebagai sumber kesuburan bagi para petani di areal Sukawati.

Pura ini berjarak 14 kilometer dari Kota Denpasar dan butuh waktu tempuh 30 menit sampai di lokasi.

Bisa dijangkau dengan berbagai moda transportasi, baik roda dua maupun kendaraan roda empat.

Posisi Pura Er Jeruk berada di lingkungan sawah yang menjadi bagian dari Subak Gede Sukawati.

Keberadaan Pura Er Jeruk banyak disebutkan dalam Lontar Usana Bali-Usana Jawa, dan lain-lain.

Ada sebuah sumber menyebutkan tentang kisah perjalanan kesatria utama dari Daha (Jawadwipa) bernama Sri Wira Dalem Kesari Warmadewa datang dan menetap di Bali tahun 835 Saka (913 Masehi) menjadi raja di Koripan Besakih.

Beliau dikatakan membangun Mrajan Selonding dan Pura Dalem Puri. Selain kedua bangunan suci tersebut, Beliau juga membangun Pura Penataran Agung, Pura Bukit Lempuyang, Pura Batukaru, Pura Uluwatu, Pura Er Jeruk dan Pura Penataran Pejeng.

Tahun pendiriannya juga dengan jelas disebutkan ketika pemerintahan Sri Wira Dalem Sri Kesari Warmadewa.

Bila dihubungkan dengan tokoh yang mengendalikan kekuasaan di zaman Bali Kuna bahwa tahun 913 M merupakan tahun pemerintahan Sri Kesari Warmadewa.

Dalam Kitab Usana Bali-Usana Jawa disebutkan bahwa ada sebuah tempat yang bernama Gunung Jeruk sebagai sthana Ida Bhatara Putrajaya.

Dalam pengamatan langsung dilakukan di Pura Er Jeruk, ada sebuah palinggih yang berstatus sebagai palinggih utama berfungsi sebagai sthana Ida Betara Putrajaya.

Pendirian Pura Er Jeruk yaitu disebutnya pura-pura lainnya dengan istade wata yang bersthana di masing-masing termpat suci tersebut, seperti Dewa Gnijaya bersthana di Gunung Lempuyang, Dewa Jayaningrat bersemayam di Gunung Beratan, Betara Manik Galba bersemayam di Pejeng, dan Betara Manik Gumawang bersemayam di Batu Madeg, dan di Pura Gunung Jruk yang melinggih Ida Betara Putrajaya.

Dari penjelasan tersebut, setidaknya ada gambaran bahwa dari waktu atau masa pendirian dari pura-pura yang dimaksud ada kedekatan waktu atau zamannya.

Bila yang dimaksudkan dengan Gunung Jruk adalah Pura Er Jeruk bahwa Pura Er Jeruk telah dibangun sezaman dengan pura-pura dimaksud

Asumsi tersebut cukup beralasan, sebab Er (air) dan gunung dari segi wujudnya memang tidak sama, namun makna yang dimiliki kedua elemen tersebut adalah sama.

Air yang juga disebut berfungsi sebagai sumber kehidupan (amerta), dan gunung sebagai waduk penyimpannya.

Alasan tersebut menjadi semakin kuat, didukung oleh keberadaan sebuah palinggih yaitu Meru Tumpang Lima yang berfungsi sebagai tempat memuja Ida Betara Putrajaya.

Pura Er Jeruk setidaknya dibangun dalam tiga tahap. Tahap pertama di era pemerintahan Sri Wira Dalem Kesari Warmadewa (abad ke10 Masehi); tahap kedua pada masa pemerintahan Udayana Warmadewa (abad ke-11 Masehi), dengan memposisikan Empu Kuturan sebagai purohita (pendeta istana) kerajaan.

Pembangunan (renovasi) tahap ketiga, dilakukan ketika pemerintahan raja Dalem Waturenggong yang beristana di Gelgel (abad ke15-16 Masehi), dan memposisikan Dang Hyang Nirartha sebagai pendeta istana (purohito) kerajaan.

Dang Hyang Nirartha berhasil memperkenalkan konsep padmasana di Bali, termasuk melengkapi Pura Er Jeruk dengan bangunan padmasana di utama mandala (ruang suci).

Pamangku Pura Er Jeruk Ida Bagus Made Putra Adnyana mengaku tidak begitu mengetahui secara pasti tentang sejarah berdirinya pura itu.

Namun, ia mengetahui berbagai cerita dari para leluhurnya tentang keberadaan Pura Er Jeruk.

Dari cerita pendahulunya, konon keberadaan pura ini erat kaitannya dengan Dang Hyang Dwijendra atau Dang Hyang Nirartha saat melakukan tirtayatra.

Pada saat melakukan tirtayatra melewati segara di sisi utara areal Sukawati. Kemudian Dang Hyang Nirartha melihat petani di Sukawati kesulitan karena gagal panen akibat tidak adanya air untuk mengairi sawah.

Karena merasa prihatin, Dang Hyang Nirartha kemudian membantu para petani dengan melakukan semedi.

“Beliau mengorek tanah menggunakan tongkatnya, sehingga keluarlah air dari dalam memancur. Kemudian air itu ditebarkan di sawah agar petani bisa memanen hasil pertaniannya,” jelas pamangku berusia 57 tahun ini.

Akhirnya dari sanalah lahirnya Pura Er Jeruk yang kini diempon oleh petani di Sukawati.

“Menurut penglingsir saya, nama Er Jeruk itu artinya Er berarti air, ka ‘Je’ berarti lahir, dan ‘ruk’ berarti ditebarkan. Kalau dimaknai kata Er Jeruk diartikan sebagai pura yang lahir dari air yang ditaburkan. Inilah mengapa pura ini diempon oleh krama subak, bahkan jumlahnya mencapai 13 subak Gede Sukawati,” paparnya.

Rinciannya Subak Bubun, Subak Palak, Subak Sengguan, Subak Sange, Subak Laud, Subak Somi, Subak Abasan, Subak Cau Duwur, Subak Cau Beten, Subak Juwuk, Subak Langge, Subak Babakan dan Subak. Total luas tanah persawahan 404.520 hektare.

Karena dianggap sebagai simbol memohon kesuburan, di pura ini juga dijadikan sebagai tempat untuk memohon keturunan bagi pamedek yang nangkil dan belum memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah.

“Banyak yang sudah terbukti, punya anak setelah nangkil. Tetapi ada pula yang belum dikaruniai anak. Mungkin tergantung karma wasananya,” paparnya. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Pura Er Jeruk #kesuburan #mohon keturunan #hindu