Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mitos Pohon Kampuak di Pura Er Jeruk yang Diyakini Tongkat Dang Hyang Nirartha

I Putu Mardika • Minggu, 8 Oktober 2023 | 21:10 WIB
Pohon kampuak di Pura Er Jeruk diyakini sebagai tongkat dari Dang Hyang Nirartha yang terus tumbuh hingga sekarang.
Pohon kampuak di Pura Er Jeruk diyakini sebagai tongkat dari Dang Hyang Nirartha yang terus tumbuh hingga sekarang.

BALI EXPRESS- Pura Er Jeruk merupakan Pura Kahyangan Jagat umat Hindu di Bali. Hampir sama dengan pura umumnya di Bali, pura ini menganut konsep tri mandala.

Tri mandala di Pura Er Jeruk meliputi areal nista mandala, madya mandala dan utama mandala. 

Di areal utama mandala Pura Er Jeruk terdapat sejumlah palinggih penting yang menjadi pemujaan orang suci, di antaranya Palinggih Ida Batara Putrajaya, yaitu berupa bangunan Meru Tumpang Lima, yang posisinya di bagian timur menghadap ke arah barat.

Di sebelah kanannya terdapat bangunan palinggih Meru Tumpang Tiga, tempat bersthana Ida Betara Pedanda Sakti Wawu Rauh (Dang Hyang Nirartha).

Uniknya di areal utama mandala juga terdapat pohon kampuak (jambu air) yang usianya sudah ratusan tahun.

Pohon ini diyakini sebagai tongkat dari Dang Hyang Nirartha, yang kemudian tumbuh menjadi pohon keramat.

Pemangku Pura Er Jeruk Ida Bagus Made Putra Adnyana mengatakan terdapat lubang pada pohon itu.

Selain itu dibangun Palinggih Tirta yang digunakan untuk tempat menaruh sesaji bila ada upacara piodalan alit dan pujawali (wali ageng), dan kegiatan upacara lainnya.

“Disebut Palinggih Tirta karena pohon kayu kampuak tersebut dapat dikatakan mewakili hutan. Hutan berfungsi sebagai wadah penampungan air, yang dapat memberi kesuburan kepada umat manusia, khususnya bagi Adat Sukawati dan panyungsung Pura Er Jeruk,” imbuhnya.

Upacara piodalan (wali) di Pura Er Jeruk dilaksanakan berdasarkan pawukon, yaitu setiap 210 hari sekali.

Kegiatan upacaranya silih berganti besar (wali ageng) dan kecil (sesepen atau wali alit), dan dirayakan setiap Buda Keliwon Pegatwakan, Wuku Paang.

Pria yang ngayah sejak September 2004 di Pura Er Jeruk ini menyebut pelaksanaan upacaranya antara wali ageng dan wali alit berbeda.

Bila wali ageng atau disebut pula karya nyatur, oleh karena tingkatan upacaranya lebih besar dari sesepen, maka upakara (banten) yang diprsiapkan lebih banyak, tentu biaya yang dibutuhkan lebih banyak pula.

Demikian pula mengenai waktu kegiatan upacaranya berlangsung lebih panjang, yaitu selama tiga hari.

Pada hari pertama dan kedua setelah puncak wali, dilaksanakan upacara nganyarin, dan pada hari ketiga, dilaksanakan upacara panyineban.

“Untuk biaya upakara (banten), semuanya diperoleh dari urunan krama subak. Sedangkan untuk wali alit (sesepen) Ida Betara nyejer satu hari. Semua biaya upakara wali alit (kecuali ulam banten), ditanggung oleh pemangku pura,” tutupnya. (*)

Editor : I Made Mertawan
#bali #Pura Er Jeruk #Dang Hyang Nirartha #hindu #Pohon kampuak